Tolak Ukraina Gabung Uni Eropa, PM Negara NATO Ini Sebut Kyiv ''Musuh''
Bendera Ukraina berkibar di gedung Reichstag yang dihuni Bundestag (majelis rendah Jerman), menjadi latar belakang foto senjata tank Rusia T-34 ketika dipamerkan untuk Peringatan Perang Soviet di Distrik Tiergarten, Berlin, Senin (24/2/2025).(AFP/RALF HIRSCHBERGER)
11:48
15 Februari 2026

Tolak Ukraina Gabung Uni Eropa, PM Negara NATO Ini Sebut Kyiv ''Musuh''

Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Ukraina sebagai “musuh” negaranya.

Ucapan itu disampaikan dalam rapat umum di Kota Szombathely pada Sabtu (7/2/2026).

Pernyataan keras tersebut berkaitan dengan dorongan Kyiv agar Uni Eropa menghentikan ketergantungan pada energi murah dari Rusia.

Baca juga: Negara NATO Ini Sebut Ukraina “Musuh”, Tolak Kyiv Gabung Uni Eropa

Orban menilai tuntutan itu berpotensi membebani rakyat Hongaria dengan kenaikan biaya hidup.

Sumber kemarahan Orban

Dalam pidatonya, Orban menuding Ukraina terus menekan Brussel agar negara-negara Uni Eropa, termasuk Hongaria, memutus akses terhadap pasokan energi Rusia yang lebih terjangkau.

“Siapa pun yang mengatakan ini adalah musuh Hongaria, jadi Ukraina adalah musuh kita,” ujar Orban di hadapan para pendukungnya.

Ia menegaskan, tanpa energi dari Rusia, beban rumah tangga warga Hongaria akan meningkat tajam. Menurutnya, biaya perumahan dan utilitas keluarga dapat naik sedikitnya 8 persen per tahun.

“Itu seperti Anda dirampas gaji selama satu bulan penuh,” kata Orban, menggambarkan dampak ekonomi yang ia perkirakan akan dirasakan masyarakat.

Pemerintah Hongaria berulang kali menyatakan belum dapat sepenuhnya melepaskan diri dari energi Rusia, meskipun tetap berupaya mendiversifikasi jalur serta sumber pasokan.

Ketergantungan Hongaria pada energi Rusia

Sebagian besar pasokan minyak Hongaria saat ini dialirkan melalui jaringan pipa Druzhba. Sementara itu, mayoritas gas alam diperoleh lewat jalur TurkStream yang melintasi Bulgaria dan Serbia.

Menteri Luar Negeri Hongaria, Peter Szijjarto, sebelumnya mengungkapkan bahwa pada 2025 negaranya menerima lebih dari 8,5 juta ton minyak dan lebih dari 7 miliar meter kubik gas alam dari Rusia.

Budapest pun menolak rencana Brussel untuk menghentikan pembelian minyak dan gas Rusia oleh negara-negara Uni Eropa.

Pemerintahan Orban menilai kebijakan tersebut berisiko menekan perekonomian domestik.

Bersitegang dengan kebijakan Uni Eropa

Pernyataan Orban muncul tidak lama setelah Dewan Uni Eropa menyetujui rencana penghentian pembelian gas Rusia paling lambat 2027.

Hongaria dan Slovakia—dua negara yang masih sangat bergantung pada energi Rusia—menggugat keputusan itu ke Mahkamah Eropa.

Berbeda dari paket sanksi sebelumnya, kebijakan terbaru diajukan sebagai keputusan perdagangan, sehingga dapat disahkan melalui mekanisme suara mayoritas meski ditentang Budapest dan Bratislava.

Baca juga: Sekutu Dekat Putin, PM Hongaria Larang Eropa Beri Uang ke Ukraina

Uni Eropa sendiri telah memangkas impor minyak Rusia secara signifikan serta menurunkan pembelian gas Rusia hingga 75 persen sepanjang 2021–2025.

Meski begitu, blok tersebut masih menjadi salah satu pembeli utama gas pipa dan gas alam cair (LNG) dari Moskwa.

Selama ini, Hongaria kerap menggunakan hak vetonya untuk menghambat sanksi tambahan terhadap Rusia maupun bantuan Uni Eropa bagi Ukraina.

Orban sekutu dekat Putin

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban (kiri) meninggalkan ruangan setelah pernyataan pers bersama setelah pembicaraan mereka di Kremlin, Moskwa, 5 Juli 2024.AFP/ALEXANDER NEMENOV Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban (kiri) meninggalkan ruangan setelah pernyataan pers bersama setelah pembicaraan mereka di Kremlin, Moskwa, 5 Juli 2024.

Viktor Orban dikenal sebagai sekutu terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin di dalam Uni Eropa.

Ia secara konsisten menyuarakan keraguan terhadap kebijakan dukungan UE kepada Ukraina

Pada Kamis (12/2/2026), pria berusia 62 tahun itu bahkan menyerukan agar negara-negara Eropa berhenti mengirim uang ke Ukraina jika benar-benar ingin memulihkan perekonomian mereka.

Tolak keanggotaan UE untuk Ukraina

Selain isu energi, Orban kembali menegaskan penolakannya terhadap ambisi Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Ia menyatakan Hongaria tetap perlu bekerja sama dengan Ukraina sebagai negara tetangga, tetapi menolak keanggotaan penuh Kyiv di blok tersebut.

“Orang Hongaria tidak seharusnya menginginkan kerja sama militer atau ekonomi dengan Ukraina, karena mereka menyeret kita ke dalam perang,” ucap Orban.

Pernyataan ini disampaikan di tengah dinamika politik domestik Hongaria menjelang pemilu parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang. Sejumlah survei menunjukkan Orban tertinggal dari pemimpin oposisi, Peter Magyar, meski Orban menyebut hasil jajak pendapat tersebut sebagai “propaganda”.

Di akhir pidatonya, Orban juga mengumumkan rencana kunjungannya ke Washington DC untuk menghadiri pertemuan perdana “Board of Peace”, sebuah inisiatif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Baca juga: Trump Desak Rusia-Ukraina Harus Damai pada Juni 2026

Tag:  #tolak #ukraina #gabung #eropa #negara #nato #sebut #kyiv #musuh

KOMENTAR