Gegara 131 Kucing Disingkirkan, Populasi Merpati Langka Melonjak Drastis
Populasi merpati yang terancam punah di Jepang melonjak tajam hanya dalam waktu tiga tahun setelah ratusan kucing liar dipindahkan dari habitatnya.
Di Kepulauan Ogasawara yang terpencil, sebanyak 131 kucing liar ditangkap dalam program konservasi yang dimulai pada 2010.
Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah merpati kepala merah meningkat hingga sepuluh kali lipat.
Baca juga: [POPULER GLOBAL] Kucing Liar di Negara Ini Akan Dimusnahkan | Badai PHK Besar Hantam Singapura
Spesies langka di ambang kepunahan
Dilansir Futura Sciences, Senin (9/2/2026), merpati kepala merah (Columba janthina nitens) merupakan subspesies khas yang berbeda secara genetik dan ekologis dari merpati kayu Jepang yang lebih umum.
Burung ini berukuran sekitar 40 sentimeter, mudah dikenali dari kepala berwarna kemerahan serta tubuh cokelat keabu-abuan gelap.
Dahulu, spesies ini tersebar luas di Kepulauan Ogasawara, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang memiliki ekosistem rapuh.
Namun, sejak akhir abad ke-20, populasinya terus menyusut akibat hilangnya habitat dan predasi kucing liar.
Pada 2008, jumlahnya tersisa kurang dari 80 ekor, membuatnya berada di ambang kepunahan.
Program penangkapan kucing
Pada 2010, para pegiat konservasi meluncurkan program penangkapan kucing liar di Pulau Chichijima, bagian dari Kepulauan Ogasawara.
Dalam kurun tiga tahun, sebanyak 131 kucing liar berhasil ditangkap sehingga populasinya berkurang menjadi kurang dari 20 ekor.
Setelah tekanan predasi berkurang drastis, populasi merpati kepala merah pulih dengan cepat. Antara 2010 hingga 2013, jumlah merpati dewasa meningkat dari 111 menjadi 966 ekor.
Sementara itu, jumlah anakan melonjak dari 9 menjadi 189 ekor. Pemulihan ini tercatat sebagai salah satu yang tercepat dan paling dramatis untuk populasi burung liar.
Baca juga: Kisah Wanita di China, Berjuang Lawan Kecemasan Sosial dengan Beri Makan 120 Kucing Liar
Misteri genetik di balik pemulihan
Pemulihan pesat tersebut mendorong peneliti dari Universitas Kyoto untuk menyelidiki penyebabnya.
Studi mereka yang dipublikasikan pada Juli 2025 di jurnal Communications Biology menemukan adanya keuntungan genetik tak terduga.
Secara umum, populasi kecil rentan terhadap perkawinan sedarah (inbreeding) yang dapat memperbanyak mutasi genetik berbahaya dan menghambat pemulihan.
Namun, ketika Daichi Tsujimoto dan timnya mengurutkan genom merpati kepala merah liar maupun yang dipelihara, mereka menemukan fakta berbeda. Burung ini justru memiliki lebih sedikit mutasi berbahaya dibanding kerabatnya yang lebih luas penyebarannya, merpati kayu Jepang.
Lebih dari 80 persen genom merpati kepala merah terdiri dari urutan genetik yang identik, menandakan terjadinya perkawinan sedarah selama berabad-abad. Alih-alih melemahkan, kondisi tersebut tampaknya justru memperkuat populasi melalui proses yang disebut genetic purging.
Dalam proses ini, mutasi paling merusak perlahan tersingkir selama ratusan tahun. Individu yang membawa mutasi tersebut mati atau gagal berkembang biak, sehingga menyisakan kumpulan gen yang lebih ramping namun relatif lebih sehat.
Langkah konservasi di masa depan
Meski pemulihannya impresif, kelangsungan hidup jangka panjang merpati kepala merah belum sepenuhnya terjamin.
Populasinya masih di bawah tingkat historis, dan keragaman genetik yang terbatas bisa membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan.
“Banyak spesies yang terancam punah kesulitan untuk pulih meskipun dengan langkah konservasi yang intensif,” kata Tsujimoto.
“Pemulihan luar biasa merpati ini mendorong kami untuk menyelidiki alasan genetik yang mendasari ketahanannya, dengan harapan dapat mengungkap apa yang membuat beberapa spesies yang terancam punah lebih mampu pulih dibanding yang lain.”
Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi pengendalian predator dan analisis genetik dapat membantu mengidentifikasi spesies mana yang memiliki keunggulan bawaan untuk pulih, serta mana yang memerlukan pendekatan konservasi berbeda.
Baca juga: Inovasi Jepang: Kucing Jadi Kepala Stasiun, AI Jadi Pemimpin Parpol
Tag: #gegara #kucing #disingkirkan #populasi #merpati #langka #melonjak #drastis