Dari Calon Pengantin ke Pemegang Polis, Pentingnya Agen Asuransi Tepercaya
Agen asuransi menjadi ujung tombak perusahaan dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri pengalihan risiko. Peran agen juga dinilai penting untuk meningkatkan literasi sebelum seseorang membeli polis.
Krisna Yogatama (34), karyawan swasta, menceritakan pengalaman pertamanya memiliki asuransi. Ia membeli polis kesehatan dan jiwa sejak Februari 2022.
"Awalnya keputusan berasuransi berawal dari kebutuan saya dulu. Waktu itu saya mau menikah, artinya saya akan ikut bertanggung jawab dengan hidup seseorang," ujar dia ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/2/2025).
Kesadaran itu mendorongnya melindungi diri lebih dulu. Ia ingin mampu menanggung biaya sendiri saat sakit.
"Saya bisa bertanggung jawab membiayai diri sendiri, tentu dengan bantuan perusahaan asuransi. Itulah kenapa saya putuskan berasuransi," imbuh dia.
Baca juga: Reformasi Keagenan Asuransi, Hindari Misselling hingga Peningkatan Keterampilan
Sebelum memilih perusahaan, Krisna melakukan riset kecil. Ia mempertimbangkan merek, reputasi, dan kekuatan keuangan.
"Saya browsing dulu di internet dan memilih perusahaan asuransi yang tidak banyak kasusnya," ungkap dia.
Menurut Krisna, agen menjadi faktor penentu. Ia mencari agen yang tidak menipu dan tidak menghilang setelah polis terjual.
"Saya ketemulah sama temen lama saya dari SD sampai SMA. Dia pribadinya baik. Saya kenal keluarga dan rumahnya. Jadi saya yakin dia tidak bakal kabur," ujar dia.
Agen tersebut dinilai terbuka untuk berdiskusi. Ia membantu mencari produk yang sesuai dengan anggaran.
"Dia tidak maksa, tidak seperti agen pada umumnya," ungkap dia.
Krisna memilih produk kesehatan dan jiwa unitlink atau produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI).
"Waktu itu produknya bundle, harganya juga masih murah, jadi sekalian ambil itu," ungkap dia.
Baca juga: Perkuat Fundamental Binis, Perusahaan Asuransi Dituntut Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat
Ia menilai agen berperan sebagai perantara dengan perusahaan. Agen membantu proses administrasi, mulai dari penerbitan polis hingga klaim.
"Saya tentu tidak punya banyak waktu untuk urus segala administrasi. Agen ini membantu," ucap dia.
Agen juga rutin memberi informasi produk terbaru.
"Eh ada produk ini lho. Harganya segini, benefitnya segini. Ya bagus juga sih jadi ngerti produk baru. Dia pun tidak masalah kalo akhirnya saya tidak beli juga," kelakar Krisna.
Menurutnya, agen yang baik harus jujur dan tidak memaksa. Agen perlu mudah dihubungi dan siap membantu saat dibutuhkan.
"Bisa diandalkan dan dipercaya, bisa dihubungi sewaktu-waktu, membantu. administrasi baik pembuatan polis hingga klaim," urai Krisna.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan agen asuransi sebagai individu atau badan usaha yang bertindak atas nama perusahaan asuransi atau asuransi syariah dalam memasarkan produk. Ketentuan itu tercantum dalam POJK Nomor 23 Tahun 2023.
Agen wajib memiliki sertifikat dari Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) atau Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Agen yang menangani nasabah korporat juga harus memiliki sertifikasi dari OJK.
Dari sisi agen, Dinda Audriene Muthmainah atau Audry berbagi cerita. Ia menjadi agen sejak 2023. Ketertarikan muncul dari minat pada industri keuangan dan kebutuhan menjaga stabilitas finansial.
"Awalnya saya ingin memastikan bahwa keuangan saya tetap aman dan tidak terganggu oleh pengeluaran mendadak, terutama saat kondisi sakit atau keadaan tak terduga," kata dia kepada Kompas.com.
Ia lebih dulu membeli polis untuk dirinya sendiri. Pengalaman itu memberinya rasa tenang.
"Jika sesuatu terjadi pada saya, setidaknya saya tidak perlu mengambil dana darurat yang sudah saya sisihkan setiap bulan," ucap dia.
Pengalaman tersebut mendorongnya membantu teman dan keluarga memahami pentingnya proteksi. Ia memutuskan menjadi agen.
Sebagai agen, Audry aktif menggunakan media sosial.
"Salah satu cara utama yang saya lakukan adalah aktif di media sosial," kata dia.
Ia membagikan konten edukasi tentang proteksi dan risiko finansial tanpa perlindungan.
"Tujuan akhirnya adalah membantu mereka menjaga kestabilan keuangan dalam jangka panjang," ujar dia.
Audry berusaha menjaga hubungan dengan nasabah. Ia rutin menyapa dan memantau kondisi mereka.
"Saya berusaha membangun hubungan yang dekat dan berkelanjutan dengan nasabah. Misalnya dengan rutin memberikan ucapan ulang tahun, menanyakan kabar, dan memastikan kondisi mereka baik-baik saja," terang dia.
Ia juga meminta nasabah segera menghubungi saat sakit atau dirawat di rumah sakit. Langkah itu memudahkan proses klaim.
Audry menyebut perusahaan menyediakan dukungan seperti call center 24 jam. Tersedia juga sistem Blue Eagle Network (BEN) yang bekerja sama dengan jaringan rumah sakit dan menawarkan layanan rawat inap prioritas.
Regulasi OJK yang semakin ketat dinilai membawa perubahan.
"Namun menurut saya hal ini sangat positif karena bertujuan untuk melindungi nasabah dan meningkatkan profesionalisme industri asuransi," ucap dia.
Ia rutin mengikuti pelatihan dan pembaruan aturan.
"Dengan begitu, saya bisa memberikan informasi yang benar, transparan, dan pelayanan yang semakin baik kepada pemegang polis," tutup dia.
Tahun lalu, OJK meluncurkan Database Agen Asuransi Indonesia dan Database Polis Asuransi Indonesia. Database agen memuat legalitas dan identitas resmi agen. Sistem terintegrasi dengan perizinan digital melalui platform SPRINT dan dilengkapi QR Code sebagai identitas digital.
Database polis menyajikan data per polis dari seluruh lini usaha asuransi. Data dilaporkan setiap bulan melalui Aplikasi Pelaporan Online OJK (APOLO).
Tag: #dari #calon #pengantin #pemegang #polis #pentingnya #agen #asuransi #tepercaya