Presiden Iran Telepon MBS Usai Kapal Induk AS Datang, Apa Katanya?
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghubungi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melalui sambungan telepon pada Selasa (27/1/2026) setelah kapal induk Amerika Serikat (AS) merapat ke Timur Tengah.
Langkah diplomasi ini dilakukan di tengah meningkatnya eskalasi Timteng, yang memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka melibatkan Iran, Israel, dan AS.
Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian secara terbuka mengecam tekanan dan ancaman yang dilontarkan Washington. Menurutnya, tindakan AS justru menjadi faktor utama yang merusak stabilitas keamanan regional.
Baca juga: Armada Tempur AS Tiba di Timur Tengah, Trump Mengaku Ditelepon Iran Berkali-kali
Berdasarkan pernyataan resmi dari kantor Presiden Iran, Pezeshkian menilai bahwa ancaman itu ditujukan untuk mengganggu keamanan kawasan dan tidak akan menghasilkan apa pun selain ketidakstabilan.
Ia juga menyinggung ketahanan rakyat Iran dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk sanksi ekonomi.
“Presiden menunjuk pada tekanan dan permusuhan baru-baru ini terhadap Iran, termasuk tekanan ekonomi dan campur tangan eksternal, dengan menyatakan bahwa tindakan semacam itu gagal melemahkan ketahanan dan kesadaran rakyat Iran,” tulis pernyataan tersebut.
Respons Arab Saudi
Foto dari Saudi Press Agency (SPA) yang diambil pada 12 Mei 2023 ini menunjukkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menghadiri pertandingan final piala raja Salman antara Al-Hilal dan Al-Wehdah di kota olahraga raja Abdullah di Jeddah.Menanggapi hal itu, Pangeran MBS menyambut positif inisiatif dialog dari Teheran. Riyadh menegaskan posisi mereka untuk tetap menjaga ketenangan di kawasan.
MBS disebut menyambut dialog tersebut dan menegaskan kembali komitmen Arab Saudi terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan kawasan, menurut sumber yang sama.
Lebih lanjut, pemimpin de facto Arab Saudi tersebut menekankan pentingnya solidaritas negara-negara muslim.
Ia menyatakan bahwa Riyadh menolak segala bentuk agresi terhadap Iran dan siap membangun perdamaian serta keamanan di seluruh kawasan.
Ketegangan terbaru ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengancam akan menyerang Iran.
Ancaman ini muncul sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap demonstran antipemerintah sepanjang bulan ini.
Pekan lalu, Trump mengirimkan armada tempur, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke kawasan tersebut.
Trump menyebutnya sebagai sebuah “armada” yang ia harapkan tidak perlu digunakan, meski kehadirannya memperkuat sinyal konfrontasi militer.
Baca juga: Kapal Induk AS Tiba di Timur Tengah, Iran Sudah Siap Senjata
Di sisi lain, militer Iran mulai mengeluarkan peringatan bagi negara-negara tetangga agar tidak terlibat dalam konflik jika perang pecah.
Mohammad Akbarzadeh, Deputi Politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menegaskan posisi Iran terhadap negara sekitar.
“Negara-negara tetangga adalah teman kami, tetapi jika daratan, langit, atau perairan mereka digunakan untuk melawan Iran, mereka akan dianggap bermusuhan,” ujar Akbarzadeh seperti dikutip dari kantor berita Fars.
Jejak konflik dan diplomasi yang mandek
Situasi saat ini dibayangi oleh rentetan konflik militer sebelumnya. Pada Juni lalu, Israel melancarkan serangan udara masif ke Iran yang menyasar pejabat militer senior, ilmuwan, serta fasilitas nuklir.
Konfrontasi tersebut meluas menjadi perang selama 12 hari yang melibatkan AS, di mana Washington membombardir tiga lokasi nuklir Iran. Meski Trump menuntut Iran menghentikan total pengayaan uraniumnya, hingga kini belum ada tanda-tanda perundingan nuklir akan dimulai kembali.
Seorang pejabat AS pada Senin mengeklaim bahwa Washington masih terbuka untuk negosiasi, asalkan Iran memenuhi syarat tertentu. "Mereka menyadari syarat-syaratnya,” ujar pejabat tersebut.
Namun, Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, meragukan Iran akan tunduk.
Kepada Al Jazeera, ia menyebut peluang Iran menyerah pada tuntutan AS mendekati nol.
Sebab, para pemimpin Iran percaya bahwa kompromi di bawah tekanan tidak meredakannya, tetapi justru mengundang lebih banyak tekanan, kata Vaez.
Menutup rangkaian peringatan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengingatkan, dampak konflik tidak akan terlokalisasi di satu negara saja.
“Negara-negara kawasan sepenuhnya tahu bahwa setiap pelanggaran keamanan di kawasan tidak hanya akan memengaruhi Iran. Ketidakamanan itu menular,” pungkas Baghaei.
Baca juga: Iran Tidak Takut, Teheran Bantah Klaim Khamenei Sembunyi di Bunker
Tag: #presiden #iran #telepon #usai #kapal #induk #datang #katanya