Pasukan Pengintai Jerman Cuma Bertahan 44 Jam di Greenland, Ada Apa?
- Pasukan pengintai militer Jerman meninggalkan Greenland pada Minggu (18/1/2026), setelah menyelesaikan misi eksplorasi singkat selama 44 jam di wilayah Arktik tersebut.
Menurut laporan surat kabar Bild, 15 personel militer Jerman dijadwalkan terbang kembali dari Ibu Kota Nuuk pada siang hari.
Padahal, sebelumnya mereka diperkirakan akan memperpanjang masa tinggal yang awalnya direncanakan selama dua hari.
Juru bicara Komando Operasional Angkatan Darat Jerman menyebutkan, misi eksplorasi tersebut telah rampung sesuai rencana, meskipun terdapat kendala cuaca yang membuat satu stasiun tidak dapat dikunjungi.
“Eksplorasi telah diselesaikan sesuai rencana,” ujarnya dalam pernyataan tertulis melalui surat elektronik, dikutip dari Luxembourg Times.
Ia menambahkan, meskipun tidak semua lokasi berhasil dijangkau, tujuan utama misi tetap tercapai.
“Namun demikian, wawasan penting telah diperoleh yang kini memungkinkan kami mengoordinasikan kemungkinan langkah bersama dengan mitra kami dan dalam kerangka NATO untuk memperkuat keamanan di Atlantik Utara dan Arktik,” katanya.
Ilustrasi Bendera Jerman.
Jerman memimpin pengiriman tentaranya ke Greenland bersama sejumlah negara Eropa lainnya dalam misi eksplorasi yang dimulai pekan lalu.
Langkah ini menjadi sinyal kuat kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa Eropa memandang serius isu keamanan kawasan Arktik.
Selain Jerman, Perancis, Swedia, Norwegia, dan Inggris turut berpartisipasi dalam misi tersebut menjelang latihan militer yang telah direncanakan di wilayah tersebut.
Situasi geopolitik di kawasan kembali memanas setelah Trump pada Sabtu (17/1/2026) mengumumkan rencana penerapan tarif sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, mulai Februari. Tarif itu akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni.
Kebijakan tersebut diumumkan sebagai respons terhadap pernyataan sejumlah negara Eropa yang menyebut latihan militer NATO di Greenland hanya bersifat simbolis, di tengah meningkatnya ketegangan akibat kebijakan keras Washington.
Menanggapi langkah tersebut, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut ancaman tarif dari Trump sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Sumber yang dekat dengan Macron menyebutkan, Presiden Perancis itu akan mendorong aktivasi instrumen anti-koersi milik Uni Eropa.
Instrumen ini disebut sebagai alat pembalasan paling kuat yang dimiliki blok tersebut untuk merespons kebijakan tarif terbaru dari Amerika Serikat.
Sumber: Kompas.com (Penulis: Danur Lambang Pristiandaru | Editor: Danur Lambang Pristiandaru)