Penyebaran Foto Jenazah, Cari Sensasi atau Kurang Empati?
Selebgram Lula Lahfah berpulang. Psikiater menilai dorongan menyebarkan foto jenazah Lula Lahfah lebih sering dipicu emosi, rasa ingin tahu, dan kurangnya literasi empati digital.(Instagram @lulalahfah)
15:55
25 Januari 2026

Penyebaran Foto Jenazah, Cari Sensasi atau Kurang Empati?

Penyebaran foto jenazah selebgram Lula Lahfah di media sosial memicu kemarahan publik karena dianggap mencasi sensasi tanpa mempertimbangkan dampak etis.  Namun begitu, psikiater menilai tindakan tersebut tidak selalu didorong niat jahat, melainkan kombinasi respons psikologis manusia saat menghadapi peristiwa mengejutkan.

Kasus ini mencuat setelah Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/1/2026), lalu sejumlah foto dan tangkapan layar sensitif beredar luas sebelum ada konfirmasi resmi dari keluarga.

Fenomena ini mendorong munculnya seruan Death is Not Contentdari warganet sebagai pengingat bahwa kematian bukan konsumsi digital, melainkan peristiwa kemanusiaan yang perlu dihormati.

Bukan sekadar cari sensasi

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai motif penyebaran foto jenazah tidak bisa disederhanakan sebagai upaya mencari ketenaran.

“Tidak semua yang menyebarkan berniat cari tenar, meskipun itu bisa menjadi salah satu motif,” ujar Lahargo saat diwawancarai Kompas.com, Minggu (25/1/2026).

Menurutnya, banyak orang bereaksi secara impulsif ketika berhadapan dengan peristiwa ekstrem seperti kematian mendadak.

Efek syok dan dorongan menyampaikan informasi

Reza Arap dan ayah Lula Lahfah, Feroz di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Psikiater menilai dorongan menyebarkan foto jenazah Lula Lahfah lebih sering dipicu emosi, rasa ingin tahu, dan kurangnya literasi empati digital.KOMPAS.com/Revi C Rantung Reza Arap dan ayah Lula Lahfah, Feroz di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Psikiater menilai dorongan menyebarkan foto jenazah Lula Lahfah lebih sering dipicu emosi, rasa ingin tahu, dan kurangnya literasi empati digital.

Lahargo menjelaskan bahwa kondisi syok dapat memicu apa yang disebut sebagai urgency bias, yakni dorongan kuat untuk segera menyampaikan informasi kepada orang lain.

“Saat emosi tinggi, seperti kaget atau ngeri, kontrol diri menurun dan refleks berbagi bisa lebih cepat daripada pertimbangan etis,” kata Lahargo.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi ini, emosi kerap mengambil alih nalar, sehingga seseorang bertindak tanpa niat menyakiti, tetapi tetap berujung pada dampak yang merugikan.

Kebutuhan validasi dan rasa eksklusif

Faktor lain yang berperan adalah kebutuhan akan pengakuan sosial, termasuk keinginan menjadi orang pertama yang membagikan informasi atau merasa memiliki akses eksklusif.

“Kadang bukan ingin terkenal besar, tapi cukup merasa ‘aku penting’ atau ‘aku tahu lebih dulu’,” ujar Lahargo.

Menurutnya, mekanisme ini berkaitan erat dengan sistem penghargaan sosial di media digital, seperti tanda suka, komentar, dan unggahan ulang.

Empati yang menumpul di ruang digital

Paparan berulang terhadap konten kekerasan dan kematian juga berpotensi menyebabkan desensitisasi emosional, yakni kondisi ketika empati perlahan menurun.

“Batas antara berita dan penderitaan manusia menjadi kabur,” kata Lahargo.

Dalam kondisi ini, penderitaan orang lain tidak lagi dipersepsikan sebagai pengalaman manusiawi, melainkan sekadar konten yang bisa dikonsumsi dan dibagikan.

Rasionalisasi moral yang menyesatkan

Sebagian orang membenarkan tindakannya dengan alasan edukasi atau penyampaian fakta, misalnya dengan dalih “agar jadi pelajaran”.

“Edukasi tidak membutuhkan visual jenazah,” tegas Lahargo.

Ia menyebut pola ini sebagai bentuk moral disengagement, yaitu cara otak meredam rasa bersalah dengan pembenaran semu.

Dampak nyata bagi keluarga dan publik rentan

Lahargo mengingatkan bahwa penyebaran foto jenazah dapat menimbulkan dampak psikologis serius, terutama bagi keluarga korban dan individu yang rentan terhadap trauma.

Foto semacam itu bisa memicu ingatan traumatis, memperberat proses berduka, dan meninggalkan luka psikologis jangka panjang.

Pandangan ini sejalan dengan peringatan sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono, yang sebelumnya menilai penyebaran foto jenazah melanggar norma sosial tak tertulis dan berpotensi melukai perasaan keluarga, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Sabtu (24/1/2026).

Literasi empati di era digital

Menurut Lahargo, persoalan utama di ruang digital bukan hanya niat, melainkan tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

“Niat boleh biasa, dampak bisa luar biasa,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa empati di era digital perlu dilatih melalui literasi kesehatan jiwa dan kesadaran etika bermedia.

“Bukan semua yang membagikan ingin tenar, tapi semua yang membagikan harus bertanggung jawab,” kata Lahargo.

Di tengah derasnya arus informasi, ia mengingatkan bahwa memilih untuk tidak menyebarkan konten sensitif adalah bentuk empati paling sederhana, sekaligus penghormatan bagi mereka yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkan.

Tag:  #penyebaran #foto #jenazah #cari #sensasi #atau #kurang #empati

KOMENTAR