Saat Cawe-cawe Trump Bikin Demo Iran Makin Panas...
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran yang sedang berunjuk rasa, dan memperingatkan akan menyerang negeri para Mullah tersebut dengan sangat keras bila pemerintah negara itu membunuh warganya.
Pernyataan Trump itu disampaikan di tengah gelombang protes besar yang telah meluas ke lebih dari 100 kota dan desa di Iran.
Aksi massa awalnya dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi, tetapi kini berkembang menjadi seruan untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
“Jika mereka mulai membunuh orang, kami akan bertindak sangat keras,” ujar Trump, sebagaimana dikutip dari sejumlah media AS, termasuk New York Times dan Wall Street Journal.
Laporan kedua media itu menyebutkan, Trump telah menerima briefing terkait opsi militer terhadap Iran.
Meskipun diskusi masih berada pada tahap awal, keterlibatan AS ini menambah ketegangan di tengah situasi yang sudah memanas.
Iran ancam balas, pangkalan dan kapal AS jadi target
Tangkapan layar dari tayangan Iran Press pada 9 Januari 2026 memperlihatkan massa aksi demo Iran membawa papan slogan anti-pemerintah, ketika berunjuk rasa di Khorramabad, Iran barat.Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa jika AS benar-benar menyerang, maka seluruh pangkalan militer dan perkapalan AS, serta Israel, akan menjadi target sah.
Tahun lalu, AS pernah meluncurkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran dalam rangka membantu operasi militer Israel.
Kini, pernyataan Trump kembali menyulut bara konflik di kawasan.
Sementara itu, demonstrasi di Iran terus berlangsung pada Sabtu (10/1/2026) malam. Petugas medis di dua rumah sakit mengatakan kepada BBC bahwa lebih dari 100 jenazah diterima hanya dalam dua hari.
BBC Persia mengonfirmasi bahwa satu rumah sakit di Rasht menerima 70 jenazah pada Jumat (9/1/2026) malam. Seorang tenaga kesehatan di Teheran juga melaporkan 38 korban tewas.
Amnesty International menyatakan kekhawatirannya atas peningkatan penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat sejak Kamis (8/1/2026).
Dua kelompok HAM mencatat setidaknya 192 orang tewas, termasuk 78 warga sipil dan 38 aparat keamanan. BBC Persia juga mengonfirmasi identitas 26 korban, termasuk enam anak-anak.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat berpidato di hadapan para murid di Teheran, 3 November 2025.Menanggapi gelombang unjuk rasa, Ayatollah Ali Khamenei menyebut massa sebagai “sekelompok perusak” yang menurutnya berusaha menyenangkan Amerika Serikat.
Protes yang bermula dari krisis ekonomi telah menjalar ke seluruh provinsi Iran. Kini, tuntutan massa beralih menjadi desakan untuk mengakhiri kekuasaan sang pemimpin tertinggi.
Internet dimatikan, massa terus Melawan
Massa pro-pemerintah ikut turun ke jalan untuk membela rezim Ayatollah Ali Khamenei, dalam demo Iran di Kota Ardabil, Jumat (9/1/2026). Demo Iran kali ini pecah setelah meningkatnya biaya hidup.Rekaman yang diverifikasi menunjukkan bentrokan di berbagai kota seperti Mashhad dan Teheran.
Di Mashhad, massa bertopeng terlihat berlindung di balik tempat sampah dan api unggun, sementara bus terbakar.
Di distrik Gisha dan Heravi, Teheran, warga memenuhi jalan sambil membunyikan panci sebagai bentuk perlawanan.
Pemerintah Iran kemudian memutus jaringan internet secara nasional. Yang berbeda dari protes atas kematian Mahsa Amini pada 2022 adalah, kali ini pemutusan mencakup internet domestik—yang biasanya masih bisa diakses sebagai jalur komunikasi internal.
Saat itu, Mahsa Amini, seorang perempuan muda Kurdi, tewas setelah ditahan polisi moral karena dugaan melanggar aturan berpakaian.
Protes yang dipicu peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 550 orang tewas dan sekitar 20.000 orang ditahan, menurut kelompok HAM.
Peneliti internet Alireza Manafi mengatakan, pemadaman kali ini adalah yang paling parah. Ia menyebut satu-satunya alternatif adalah menggunakan koneksi satelit seperti Starlink, meski tetap berisiko terlacak oleh pemerintah.
Tag: #saat #cawe #cawe #trump #bikin #demo #iran #makin #panas