Salah Perhitungan Strategis Inggris atas AI Berdampak pada Munculnya Era Pekerja Tak Terserap dan Krisis Tenaga Kerja Global
Kesalahan strategis Inggris terhadap AI berpotensi mengguncang pasar kerja global (The Independent)
14:33
6 Januari 2026

Salah Perhitungan Strategis Inggris atas AI Berdampak pada Munculnya Era Pekerja Tak Terserap dan Krisis Tenaga Kerja Global

Inggris Raya memasuki fase baru krisis tenaga kerja global setelah strategi nasionalnya dalam pengembangan kecerdasan buatan dinilai mengabaikan dampak struktural terhadap pasar kerja. Di tengah percepatan otomatisasi, muncul kelompok baru pekerja yang tersingkir bukan karena siklus ekonomi, melainkan karena pergeseran teknologi yang melampaui kesiapan negara. Fenomena inilah yang kini disebut sebagai era pekerja tak terserap.

Pemerintah Inggris dalam beberapa tahun terakhir gencar mempromosikan investasi kecerdasan buatan sebagai motor pertumbuhan baru, termasuk rencana pendirian laboratorium riset otomatis pertama di negara tersebut. Namun, di balik optimisme kebijakan itu, para ahli menilai terdapat jurang besar antara ambisi teknologi dan kesiapan sosial-ekonomi untuk menanggung konsekuensinya.

Dilansir dari The Independent, Selasa (6/1/2026), kritik paling tajam datang dari Profesor Yu Xiong, pakar kecerdasan buatan yang sebelumnya memimpin all-party parliamentary group Parlemen Inggris untuk metaverse dan Web 3.0. Dia menyebut pendekatan pemerintah sebagai sebuah kesalahan perhitungan besar. Menurutnya, negara terlalu fokus mengejar daya saing global, tetapi gagal mengantisipasi dampak langsung otomatisasi terhadap tenaga kerja.

Dalam pandangan Xiong, kesalahan utama terletak pada cara publik dan pembuat kebijakan memahami kecerdasan buatan. "Sistem AI saat ini bukanlah penalar sejati, melainkan reasoning parrots—mesin statistik yang mengekstraksi pola dari pekerjaan yang sudah ada dan mengubahnya menjadi proses yang bisa dijalankan mesin jauh lebih cepat daripada manusia," tulisnya. Konsekuensinya, banyak pekerjaan kognitif yang selama ini dianggap aman justru lebih mudah diotomatisasi.

Peringatan serupa juga datang dari Gubernur Bank of England, Andrew Bailey. Dia menegaskan bahwa dampak AI terhadap tenaga kerja akan sebanding dengan Revolusi Industri.

"Seperti yang terjadi pada Revolusi Industri, teknologi tidak selalu menimbulkan pengangguran massal. Namun, dalam prosesnya teknologi tetap menggantikan pekerjaan dan memindahkan orang dari peran lama mereka. Karena itu, kita perlu bersiap menghadapi pergeseran tersebut," ujar Bailey.

Ancaman itu tidak lagi bersifat abstrak. Diperkirakan sekitar delapan juta pekerjaan di Inggris kini terekspos risiko otomatisasi berbasis AI, termasuk di sektor penelitian dan pengembangan. Studi King's College London menunjukkan perusahaan yang paling terdampak AI telah mengurangi jumlah pekerja hingga 4,5 persen, sementara iklan lowongan kerja turun hampir seperempat, terutama di sektor profesional berupah tinggi.

Dari sisi global, kekhawatiran semakin menguat setelah Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer yang dikenal sebagai "bapak AI", memperingatkan bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan "banyak sekali pekerjaan" mulai 2026.

Dalam wawancara dengan CNN, Hinton menyatakan, "AI sudah sangat unggul. Dalam beberapa tahun, sistem ini akan mampu menangani proyek rekayasa perangkat lunak berskala panjang, sehingga hanya sedikit manusia yang dibutuhkan."

Dampak lanjutan dari pergeseran ini tidak hanya menyentuh ekonomi, tetapi juga fondasi sosial. Profesor Xiong memperingatkan risiko munculnya kelompok pekerja yang tersingkir secara permanen dari pasar kerja, yakni lapisan masyarakat yang semakin bergantung pada bantuan negara. Jika kelompok ini membesar, tekanan terhadap sistem kesejahteraan Inggris yang sudah terbebani berpotensi meningkat tajam.

Lebih jauh, hilangnya pekerjaan sebagai poros utama kehidupan sosial berpotensi memicu krisis identitas. Dalam masyarakat modern, pekerjaan bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan juga penanda peran, status, dan keterlibatan seseorang dalam kehidupan sosial. Ketika peran tersebut hilang secara luas, dampak yang muncul tidak dapat dijawab hanya melalui kebijakan ekonomi konvensional.

Kondisi inilah yang menjadikan pengalaman Inggris relevan secara global. Ketika otomatisasi melampaui kesiapan negara, krisis tenaga kerja tidak lagi bersifat nasional, melainkan menjadi persoalan lintas batas. Tanpa perubahan strategi yang menempatkan kesiapan sosial setara dengan ambisi teknologi, era pekerja tak terserap berisiko menjadi ciri permanen ekonomi global.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #salah #perhitungan #strategis #inggris #atas #berdampak #pada #munculnya #pekerja #terserap #krisis #tenaga #kerja #global

KOMENTAR