Child Grooming Bisa Membekas Seumur Hidup, Luka yang Baru Terasa Saat Dewasa
Ilustrasi anak. Buku Broken Strings mengingatkan bahwa child grooming dapat meninggalkan luka psikologis yang baru disadari korban ketika memasuki usia dewasa.(Freepik/jcomp)
08:06
19 Januari 2026

Child Grooming Bisa Membekas Seumur Hidup, Luka yang Baru Terasa Saat Dewasa

Luka akibat child grooming sering tidak disadari hingga korban beranjak dewasa dan mengalami kesulitan dalam relasi, kepercayaan, serta penerimaan diri.

Fenomena ini menjadi salah satu refleksi utama dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang mengingatkan bahwa pengalaman masa kecil yang tampak “aman” dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang.

Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa manipulasi emosional pada anak kerap baru disadari bertahun-tahun kemudian, ketika luka tersebut telah membentuk cara korban memandang diri dan orang lain.

Grooming tidak hanya mencuri masa kecil, tapi juga memengaruhi cara seseorang mencintai dirinya sendiri dan berelasi dengan orang lain,” ujarnya Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

Dampak child grooming

Menurut Lahargo, berikut adalah beberapa dampak child grooming pada korban.

  • Kebingungan emosi yang sulit dijelaskan

Salah satu dampak paling umum dari child grooming adalah kebingungan emosi.

Korban sering kesulitan memahami perasaannya sendiri karena pengalaman masa kecilnya dibangun di atas relasi yang manipulatif.

Perhatian yang dulu terasa hangat bercampur dengan ketidaknyamanan yang tidak pernah diberi ruang untuk diakui.

Akibatnya, korban tumbuh dengan perasaan bersalah yang berlebihan tanpa tahu sumbernya.

  • Trauma dalam relasi dewasa

Ilustrasi pasangan yang sedang berkonflik. Buku Broken Strings mengingatkan bahwa child grooming dapat meninggalkan luka psikologis yang baru disadari korban ketika memasuki usia dewasa.Freepik Ilustrasi pasangan yang sedang berkonflik. Buku Broken Strings mengingatkan bahwa child grooming dapat meninggalkan luka psikologis yang baru disadari korban ketika memasuki usia dewasa.

Dampak child grooming juga terlihat jelas dalam pola relasi saat dewasa. Menurut Lahargo, korban cenderung mudah terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Kesulitan mengenali batasan membuat korban sering merasa harus selalu menyenangkan orang lain.

Rasa takut ditinggalkan atau kehilangan kedekatan membuat mereka enggan berkata tidak, bahkan ketika merasa tidak nyaman.

  • Harga diri yang tergerus perlahan

Dalam jangka panjang, child grooming dapat merusak cara korban memandang dirinya sendiri.

Banyak korban tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya adalah penyebab dari perlakuan yang dialaminya. Perasaan “aku yang salah” menjadi narasi internal yang sulit dilepaskan.

Lahargo menjelaskan bahwa harga diri yang rendah ini bukan terbentuk secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses manipulasi yang berlangsung lama.

Kesadaran yang datang terlambat

Tidak sedikit korban yang baru menyadari pengalaman grooming setelah bertahun-tahun berlalu.

Kesadaran itu sering muncul saat korban membaca, mendengar, atau mengalami situasi yang membuatnya berefleksi.

“Oh, itu ternyata bukan kedekatan yang sehat,” menjadi kalimat yang kerap muncul dalam proses pemahaman diri.

Momen kesadaran ini bisa menjadi awal pemulihan, tetapi juga memunculkan kesedihan atas luka yang lama terabaikan.

Mengapa dampaknya tidak langsung terlihat

Lahargo menjelaskan bahwa grooming dilakukan secara bertahap dan halus. Anak tidak pernah diberi kesempatan untuk menilai relasi tersebut secara kritis.

Ketika batasan dilanggar perlahan, tubuh dan emosi anak belajar menormalisasi ketidaknyamanan. Pola ini kemudian terbawa hingga dewasa, tanpa disadari sebagai bentuk trauma.

Pemulihan dimulai dari pengakuan luka

Pemulihan dari dampak child grooming tidak selalu mudah, tetapi dimungkinkan.

Langkah pertama adalah mengakui bahwa pengalaman tersebut memang melukai.

Lahargo menekankan bahwa korban tidak bersalah atas manipulasi yang dialaminya. Kesadaran ini penting untuk memutus siklus menyalahkan diri sendiri.

Mengakhiri luka yang diturunkan

Child grooming bukan hanya persoalan masa lalu, tetapi juga berpotensi memengaruhi generasi berikutnya.

Luka yang tidak disadari dan tidak dipulihkan dapat terbawa dalam pola relasi selanjutnya.

“Luka yang tidak disadari bisa berubah menjadi luka yang diwariskan,” ujar Lahargo.

Dengan memahami dampak jangka panjang child grooming, masyarakat diharapkan lebih peka dan mampu melindungi anak sejak dini.

Tag:  #child #grooming #bisa #membekas #seumur #hidup #luka #yang #baru #terasa #saat #dewasa

KOMENTAR