Operasi Robotik Minimal Invasif Bantu Pertahankan Ginjal Saat Operasi Tumor
- Teknologi operasi robotik membuka peluang lebih besar dalam tindakan minimal invasif, termasuk pada pengangkatan tumor ginjal.
Dengan presisi tinggi dan kontrol penuh dari dokter, ginjal kini tidak selalu harus diangkat seluruhnya meski terdapat tumor.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU (K) Onk, FICRS, Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono yang mengenalkan tentang manfaat sistem robotik Da Vinci XI untuk tindakan bedah.
Menurutnya, teknologi robotik merupakan pengembangan dari laparoskopi, tetapi dengan keunggulan utama pada kestabilan kamera dan presisi gerakan.
“Robot itu punya kemampuan yang tidak membuat (tangan) bergetar. Sebenarnya pengembangan dari laparoskopi, tapi laparoskopi itu semua dipegang oleh manusia,” ujarnya saat Media Meet Up di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026).
Ia mengibaratkan kestabilan kamera robotik seperti penggunaan tripod dalam fotografi.
“Kalau kita membuat foto night shot, lebih bagus dipegang tangan kita atau pakai tripod, itulah contohnya. Dengan robot kita bisa melihat organ itu lebih fix, sehingga kita bisa lebih fokus karena kita yang mengendalikan semuanya bukan orang lain,” katanya.
Bantuan robotik lebih presisi
Selain kestabilan visual, robot juga memiliki presisi tinggi yang menjadi keunggulan utama dalam operasi minimal invasif.
Presisi ini membuat dokter dapat mengontrol setiap gerakan alat bedah dengan lebih akurat dan konsisten, terutama saat menangani jaringan yang sensitif.
“Kita mesti mengetahui bahwa robot itu punya presisi yang sangat bagus. Semua pergerakan tangan kita benar-benar ditransfer ke tangan robot tersebut dan dia bisa memotong jaringan itu milimeter demi milimeter dengan stabil,” kata dr. Agus.
Menurut dr. Agus, tangan manusia memiliki keterbatasan dalam menjaga kestabilan gerakan dalam waktu lama.
“Saya mungkin bisa satu milimeter, tapi begitu lima menit udah mulai goyang. Nah, robot dari pengalaman yang saya kerjakan, dia bisa memotong milimeter demi milimeter,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dengan bantuan robot, dokter dapat bekerja lebih stabil, sehingga dapat meminimalkan risiko kesalahan saat operasi.
Presisi tersebut memungkinkan dokter mempertahankan organ. Dalam kasus tumor ginjal, ginjal tidak selalu harus diangkat seluruhnya.
“Operasi pertama yang kita kerjakan di sini adalah pengangkatan tumor ginjal yang tidak harus kita angkat ginjalnya,” katanya.
“Selama ini kan pasti berlaku kalau ada tumor di ginjal pasti diangkat ginjalnya. Itu sudah tidak berlaku kalau kita temukan tumornya kecil,” jelasnya lebih lanjut.
Ia mencontohkan pada kasus tumor ginjal berukuran 4-5 sentimeter.
“Ginjalnya ada tumor sekitar 4–5 sentimeter, dengan teknologi robotik saya bisa memotong, bisa melihat dengan jelas, kemudian kita angkat dan ginjalnya yang masih normal ini saya tinggal jahit,” cerita dr. Agus.
Dengan metode ini, pasien tetap memiliki dua ginjal.
“Kalau dibilang, pasiennya masih punya dua ginjal walaupun pasti sudah terpotong, tapi kan tidak sampai 75 persen,” ujarnya.
Kapan ginjal harus diangkat seluruhnya?
Prof. Dr.dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU (K) Onk, FICRS, Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono saat melakukan tindakan operasi tumor ginjal menggunakan sistem Da Vinci XI.
Lebih lanjut, dr. Agus menjelaskan, keputusan mempertahankan atau mengangkat seluruh ginjal dapat ditentukan berdasarkan ukuran dan letak tumor.
“Kalau ukuran tumornya itu tidak melebihi setengah ginjalnya, kita akan sulit untuk mempertahankan ginjal. Jadi kalau sudah lebih dari 50 persen ginjalnya ada tumor, kita akan mempertahankan. Kurang dari itu sangat tergantung dengan tumornya,” katanya.
Selain itu, letak tumor juga menjadi faktor penting.
“Kalau tumornya di luar, itu bisa, itu lebih mudah. Tapi dengan teknologi robot, beberapa kasus itu tumornya sudah di dalam,” ujarnya.
Berdasarkan pengalamannya, dr. Agus bercerita bahwa dirinya pernah menangani tumor yang tidak tampak dari luar ginjal.
Dalam kondisi seperti ini, lokasi tumor tidak bisa ditentukan hanya dengan pengamatan visual, sehingga memerlukan bantuan pencitraan sebelum tindakan dilakukan.
“Saya pernah melakukan, tumornya itu tidak kelihatan dari ginjalnya. Saya melakukan USG dulu, oh tumornya di sini. Kita potong dengan robot, kemudian kita keluarkan tumornya itu berhasil,” katanya.
Keputusan tetap bergantung pada kondisi pasien
Meski demikian, keputusan seperti ini tetap bergantung pada kondisi pasien.
“Tapi ya, kembali lagi, sangat tergantung dengan kondisi anatomi pasien pada saat operasi,” tuturnya.
Teknologi robotik menunjukkan bahwa operasi tumor ginjal kini tidak selalu identik dengan pengangkatan keseluruhan organ.
Dengan pendekatan minimal invasif dan presisi tinggi, dokter dapat mengangkat tumor sekaligus mempertahankan fungsi ginjal pasien.
Tag: #operasi #robotik #minimal #invasif #bantu #pertahankan #ginjal #saat #operasi #tumor