Alasan Danantara Masuk BEI Setelah Demutualisasi
– Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyatakan kesiapan mengikuti proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berminat menjadi pemegang saham setelah skema tersebut diterapkan.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan pihaknya akan mengikuti terlebih dahulu proses demutualisasi sebelum menentukan langkah lanjutan, termasuk porsi saham Danantara di BEI.
“Kita ikuti dulu proses demutualisasinya, nanti tentunya sesudah itu baru nanti kita melihat besarannya, persentase dari saham itu,” ujar Rosan di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Menurut Rosan, alasan Danantara masuk BEI tidak lepas dari upaya mendukung transformasi pasar modal nasional serta penguatan tata kelola bursa.
Baca juga: Di Balik Minat Danantara ke BEI, Ini Catatan Ekonom soal Transparansi
“Kami terbuka, kalau sudah terjadi demutualisasi tentu Danantara berkeinginan untuk masuk juga,” ujarnya di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, kepemilikan saham tersebut tidak harus melalui perusahaan sekuritas, melainkan dapat dilakukan secara langsung oleh Danantara.
“Yang pentingnya justru dengan keberadaan kami ini, kami ingin menjadi lebih baik dan lebih terbuka,” kata Rosan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani di Istana, Jakarta, Senin (15/9/2025).
Dukung Reformasi dan Transparansi Bursa
Pemerintah saat ini mempercepat penyelesaian aturan demutualisasi BEI agar dapat diproses pada 2026. Kebijakan ini dinilai penting untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta mengurangi potensi benturan kepentingan di pasar modal.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai demutualisasi sebagai transformasi struktural. Skema ini memisahkan kepentingan pengelola bursa dan anggota bursa yang selama ini terbatas pada perusahaan sekuritas.
Baca juga: Airlangga sampai Purbaya Datangi Wisma Danantara Bahas Kursi Kosong di OJK dan BEI
Airlangga menjelaskan, selama bursa berbasis keanggotaan, posisi direksi dan pengurus berpotensi dipengaruhi anggota bursa yang berasal dari berbagai perusahaan sekuritas dengan kepentingan berbeda.
Dengan struktur kepemilikan yang lebih terbuka pascademutualisasi, independensi pengelolaan BEI diharapkan semakin kuat.
Rosan juga menyebut minat terhadap BEI tidak hanya datang dari Danantara. Institusi keuangan global akan diberi ruang untuk berpartisipasi.
“Menurut saya, tentunya bukan hanya Danantara, tapi juga dari institusi keuangan dunia lainnya pun akan dibuka. Nanti kita lihat yang terbaiknya seperti apa,” ujarnya.
Dinilai Perkuat Kelembagaan Pasar Modal
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai rencana Danantara masuk BEI sebagai momentum strategis dalam proses demutualisasi.
“Demutualisasi sendiri diarahkan agar bursa menjadi lebih profesional, transparan dan akuntabel,” ungkap Yusuf di Jakarta, Sabtu (31/1/2026), dikutip dari Antara.
Baca juga: Purbaya Minta “Penggoreng Saham” Dibereskan sebelum Demutualisasi BEI
Menurut dia, jika Danantara berperan sebagai investor strategis yang mendukung penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta modernisasi infrastruktur, struktur pasar berpotensi menjadi lebih efisien dan sehat.
Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga independensi dan menghindari konflik kepentingan.
“Karena itu, penting memastikan bahwa keterlibatan Danantara tidak menimbulkan persepsi adanya pengaruh kebijakan yang terlalu besar dalam operasional bursa, sehingga transparansi tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga dipercaya oleh pelaku pasar,” ujar dia.
Yusuf menambahkan, jika porsi dan peran Danantara dirancang proporsional dengan tata kelola yang jelas, kehadirannya dapat menjaga stabilitas dan profesionalisme BEI.
Sebaliknya, jika ruang intervensi tidak diatur dengan baik, terdapat risiko munculnya persepsi bahwa mekanisme pasar menjadi kurang market driven.
Dari sisi investasi, langkah Danantara masuk BEI juga dinilai sebagai sinyal komitmen memperkuat ekosistem pasar modal.
“Investor, khususnya asing, umumnya memperhatikan kualitas institusi. Karena itu, konsistensi kebijakan dan tata kelola akan sangat menentukan,” ucapnya.
Baca juga: OJK Buka Pintu Investor Masuk Bursa Setelah Demutualisasi, Danantara Berpeluang Jadi Pemegang Saham
Skema Masuk Masih Dikaji
Terkait mekanisme masuk, Rosan mengatakan pihaknya masih mengkaji struktur terbaik, termasuk kemungkinan melalui penawaran umum perdana saham (IPO) atau mekanisme lain setelah struktur demutualisasi difinalkan.
“Kami lihat struktur yang terbaik. Nanti kami lihatlah (berapa persen sahamnya),” ucapnya.
Sebagai informasi, demutualisasi merupakan perubahan status BEI dari organisasi berbasis keanggotaan atau Self-Regulatory Organization (SRO) menjadi entitas berbentuk perusahaan yang dapat dimiliki publik atau pihak lain.
Skema ini bertujuan memisahkan kepentingan anggota bursa dan pengelola bursa guna mengurangi potensi benturan kepentingan.