Kondisi Lingkungan Pascabanjir Aceh Tamiang Ganggu Kesehatan Anak
Kondisi terkini RSUD Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (27/12/2025).(kompas.com / Nabilla Ramadhian)
09:12
6 Januari 2026

Kondisi Lingkungan Pascabanjir Aceh Tamiang Ganggu Kesehatan Anak

- Kondisi lingkungan di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, bisa mengganggu kesehatan korban anak.

Sebab, lingkungan di pengungsian menjadi lembab dan becek saat hujan, dan berdebu saat kering, dapat memicu infeksi saluran pernapasan.

“Sementara, ketika kita bicara air dan makanan yang tidak higienis, ini akan meningkatkan risiko diare,” tutur dr. Arifin K. Kashmir, SpA.,Mkes., Sp2 Gastroenterologi Anak saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Adapun dr. Arifin adalah anggota Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) yang menjadi relawan di RSUD Aceh Tamiang sejak 27 Desember 2025.

Selain itu, kondisi lingkungan yang tercemar seperti itu juga membuat kulit anak lebih mudah terinfeksi, dan menyebabkan perlukaan mikro yang berisiko menimbulkan infeksi yang cukup besar.

“Anak dalam hal ini adalah kelompok yang paling cepat terdampak memang karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa. Dalam konteks ini, paparannya cukup banyak terhadap lingkungan yang kurang ideal,” ujar dr. Arifin.

Mengapa lingkungan pascabanjir sebabkan penyakit?

Air bersih sangat terbatas

Dijelaskan oleh dr. Arifin, permasalahan kesehatan pada anak bukan hanya dari peristiwa banjirnya, tetapi juga apa yang tersisa setelah air surut.

Soal air bersih, misalnya, aksesnya yang sangat terbatas bisa membuat kuman lebih mudah masuk ke dalam tubuh anak.

Anak korban banjir bermain bersama relawan disamping tumpukan kayu yang terbawa banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (3/1/2026).KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Anak korban banjir bermain bersama relawan disamping tumpukan kayu yang terbawa banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (3/1/2026).

“Dalam kondisi normal, air bersih digunakan untuk minum, cuci tangan, membersihkan alat makan, dan menyiapkan makanan. Di pengungsian, air bersih itu aksesnya tidak terlalu tersedia. Atau kalau ada, harus dipakai bergantian,” ungkap dia.

Pada akhirnya, tangan mungkin tidak selalu dicuci dengan sabun dan air mengalir. Peralatan makan dan minum juga tidak dibersihkan dengan optimal, alias “yang penting basah”

Terkadang, air minum juga tidak benar-benar aman karena memiliki risiko sudah terkontaminasi.

“Pada anak-anak, terutama bayi dan balita, kuman dari tangan ke makanan, atau air yang terkontaminasi, itu sangat mudah masuk ke dalam saluran cerna, dan hal ini akan memicu diare akut,” jelas dr. Arifin.

Ditambah lagi, risiko dehidrasi dan perburukan kondisi kesehatan pada anak, jauh lebih cepat terjadi dibandingkan pada orang dewasa.

Sanitasi belum optimal

Sanitasi yang belum optimal juga dapat mempercepat penyebaran penyakit. Sanitasi yang terganggu bisa berarti toilet yang terbatas atau tidak layak.

Kebersihannya mungkin kurang terjaga atau hanya tersedia satu toilet untuk beberapa tenda pengungsian, atau untuk beberapa lantai di gedung yang sedang difungsikan sebagai pengungsian.

Bisa pula berarti limbah yang tidak tertangani dengan baik, seperti tumpukan sampah yang dibiarkan menggunung, sampai mengeluarkan aroma tidak sedap dan mengundang banyak lalat.

Baik sanitasi yang kurang baik perihal toilet maupun sampah, air limbah bisa bercampur dengan lingkungan sekitar dan menciptakan lingkungan yang dapat menularkan penyakit.

“Kuman dari tinja (pada limbah toilet) dapat berpindah ke tangan, ke makanan, ke mainan anak, bahkan ke lantai tempat anak-anak bermain. Dan kami melihat beberapa anak mainnya di lantai,” ucap dr. Arifin.

Padahal, lantai adalah tempat terbaik untuk anak-anak bermain pascabanjir, dibandingkan di area becek penuh kuman. Namun, lantai yang kotor kurang ideal menjadi tempat bermain anak.

“Bagi anak kecil yang masih merangkak, memasukkan tangan ke mulut atau makanan tanpa sadar, kebiasaan masukin tangan ke mulut ini risiko diarenya jadi meningkat,” terang dr. Arifin.

Lingkungan yang ideal bagi kuman

Lingkungan pascabajir identik lembab dan gelap, dan lumpur yang terbawa sulit dibersihkan. Menurut dr. Arifin, ini adalah lingkungan yang sangat ideal bagi kuman.

“Dan jika kuman masuk lewat tangan atau makanan, ujung-ujungnya diare,” tutur dia.

Lingkungan yang kering pun tidak ideal untuk kesehatan anak. Sebab, lumpur yang kering membuat lingkungan berdebu saat terkena embusan angin. Ini mengancam kesehatan saluran pernapasan.

“Pertahanan alami parunya jadi melemah, virus dan bakteri jadi lebih mudah masuk. Ini makanya batuk pilek, ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), dan pneumonia, muncul setelah banjir, terutama pada saat (lingkungan) sudah mulai kering,” kata dr. Arifin.

Anak bukanlah versi kecil dari orang dewasa, sehingga mereka adalah kelompok yang paling rentan terganggu kesehatannya pascabanjir.

“Dalam kondisi air bersih yang terbatas, sanitasi yang buruk, dan lingkungan yang tidak sehat, anak adalah kelompok yang paling pertama yang akan terdampak, dan paling terakhir untuk pulih,” terang dr. Arifin.

Penyakit pascabanjir 

Dokter spesialis anak ini mengingatkan bahwa diare dan infeksi saluran pernapasan pascabanjir adalah konsekuensi langsung dari lingkungan yang belum aman. 

Jumlah anak yang sakit dapat terus bertambah. Bahkan, penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, termasuk penyakit infeksi lanjutan, bisa muncul.

“Kita belum bicara tentang DBD (demam berdarah), yang mana nyamuk bisa tumbuh populasinya dengan bagus. Leptspirosis sekarang kami ketemu juga dengan vektor-vektor penularan lanjutan,” ujar dr. Arifin.

Ada pula potensi munculnya kuman yang dibawa oleh tikus, serta situasi luka yang kotor dan menjadi infeksi pada pengidap tetanus.

“Jadi, kata kuncinya memang adalah kebersihan. Bagi orang dewasa, kondis ini mungkin sekadar enggak nyaman, batuk pilek, diare, mual, atau yang lain. Tapi bagi anak, kondisi ini bisa mengancam jiwa,” pungkas dr. Arifin.

Tag:  #kondisi #lingkungan #pascabanjir #aceh #tamiang #ganggu #kesehatan #anak

KOMENTAR