IHSG Ambruk Nyaris 5 Persen, Rupiah Terkoreksi 7 Persen, Asing Kabur Rp 66,2 Triliun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terpuruk menjelang penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (3/6/2026). Hingga pukul 11.30 WIB, indeks anjlok 302,116 poin atau 4,88 persen ke level 5.893,311.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan koreksi tajam IHSG yang melebihi 4 persen pada perdagangan sesi pertama dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya sektor perbankan utama (big banks) dan kelompok emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu.
Saham-saham tersebut sebelumnya menjadi motor penggerak utama penguatan IHSG setelah pasar merespons positif rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang kembali berada di level ekspansif, yakni 50.
“Koreksi IHSG yang melebihi 4 persen pada perdagangan pagi ini utamanya dipicu oleh aksi ambil untung pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor perbankan utama dan grup konglomerasi Prajogo, setelah sebelumnya menopang penguatan indeks pasca-rilis data PMI Manufaktur di level 50,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Rabu.
Baca juga: IHSG Terkoreksi 253,056 Poin Jelang Penutupan Sesi 1, Imbas Rupiah Anjlok?
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah saham perbankan bergerak ke zona merah jelang penutupan sesi satu perdagangan, Rabu siang ini.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang mengalami tekanan cukup besar. Hingga siang hari, saham BBCA turun 175 poin atau 3 persen ke posisi Rp 5.650 per saham.
Tekanan lebih dalam juga dialami PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Saham BBRI merosot 110 poin atau 3,62 persen ke are Rp 2.930.
Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan pelemahan terdalam di antara bank-bank BUMN. Saham BBNI turun 140 poin atau 3,72 persen ke angka Rp 3.620.
Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga tidak luput dari tekanan pasar. Saham BRIS terkoreksi 75 poin atau 3,86 persen ke level Rp 1.870.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 100 poin atau 2,40 persen ke level Rp 4.070.
Azharys menilai koreksi IHSG bukan dampak utama dari rebalancing indeks FTSE Russell yang menjadi perhatian pasar dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, bobot kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi saham-saham yang dikeluarkan dari indeks FTSE Russell relatif kecil dibandingkan total kapitalisasi dan aktivitas perdagangan di BEI.
“Kami menilai agenda rebalancing indeks FTSE Russell tidak memberikan dampak signifikan terhadap pelemahan ini, mengingat bobot kapitalisasi maupun nilai transaksi dari saham-saham yang dikeluarkan tergolong relatif kecil terhadap total pergerakan IHSG,” paparnya.
Baca juga: 10 Saham Net Buy Investor Asing IHSG Selasa (2/6) ANTM Paling Laku
Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh lebih dari Rp 17.900 per dollar AS diyakini menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen pasar.
Terdepresiasinya mata uang Garuda dipicu oleh menyempitnya surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 yang tercatat sebesar 90 juta dollar AS.
Meski surplus tersebut berhasil memperpanjang tren positif selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, capaian tersebut merupakan surplus bulanan terkecil sejak 2019 akibat lonjakan impor yang cukup signifikan.
“Penurunan surplus ini secara fundamental berpotensi menekan posisi neraca transaksi berjalan atau current account balance Indonesia ke depan,” pungkas dia.
Lebih lanjut, Azharys menilai depresiasi rupiah yang telah mencapai sekitar 7 persen secara year to date (YTD) menjadi faktor utama yang mendorong koreksi tajam IHSG saat ini karena meningkatkan risiko arus keluar modal asing (capital outflow).
Hingga saat ini arus keluar dana asing dari pasar saham telah mencapai Rp 66,2 triliun dan masih berpotensi bertambah apabila volatilitas nilai tukar terus berlanjut.
“Pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp 18.000 per dollar AS langsung direspons pasar dengan pengurangan posisi portofolio saham secara serentak karena stabilitas nilai tukar memiliki hubungan erat dengan ekspektasi terhadap kinerja emiten-emiten berbobot besar di indeks,” katanya.
Meski demikian, Azharys menegaskan bahwa kondisi pasar saat ini masih berada dalam kategori koreksi yang wajar dan belum mencerminkan kepanikan yang bersifat irasional.
Pelemahan IHSG lebih mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap akumulasi berbagai sentimen makroekonomi dibandingkan aksi jual panik (panic selling).
“Secara keseluruhan, kami melihat kondisi saat ini masih berada dalam koridor koreksi yang wajar secara teknikal akibat akumulasi sentimen makroekonomi, dan belum mengarah pada kepanikan pasar yang tidak rasional,” ungkap Azharys.
Berdasarkan analisis teknikal, level 5.900 menjadi area penopang (support) yang penting bagi IHSG dalam jangka pendek. Level tersebut akan menjadi area konsolidasi untuk menguji kekuatan daya beli investor di tengah tekanan nilai tukar dan meningkatnya ketidakpastian pasar global.
“Support kuat untuk batas koreksi IHSG berada di level 5.900. Area ini akan menjadi titik penting untuk menguji apakah pasar masih memiliki kekuatan beli yang cukup di tengah fase penyesuaian nilai tukar global,” lanjut dia.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #ambruk #nyaris #persen #rupiah #terkoreksi #persen #asing #kabur #triliun