Rupiah Terendah Sepanjang Masa, Lebih Aman Simpan USDT atau Dollar AS?
- Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), investor aset kripto berpandangan memiliki USDT akan melindungi nilai uang.
Padahal, aset kripto USDT dan dollar AS secara tunai memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda.
Pengamat aset kripto Desmond Wira mengatakan, dalam rangka lindung nilai (hedging) dari pelemahan rupiah, menaruh dana di aset kripto USDT tidak langsung menyelesaikan masalah.
"Tidak sepenuhnya bijak menaruh 100 persen hanya di USDT, meski USDT efektif sebagai hedge karena nilainya ikut naik saat kurs dollar AS atau nilai rupiah melemah," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).
Ia menambahkan, saat ini memang banyak orang Indonesia pakai USDT untuk tujuan lindung nilai tersebut.
Baca juga: Apa Itu USDT? Stablecoin yang Banyak Dipakai Trader Kripto
Strategi itu terutama dilakukan bagi investor yang membutuhkan fleksibilitas digital.
Menurut Desmond, alasan diversifikasi tetap penting.
Pasalnya, USDT juga memiliki risiko yang spesifik.
Sebagai contoh, USDT bisa depeg di stress market meski jarang dan sifatnya sementara.
Depeg sendiri merupakan kondisi ketika nilai mata uang kripto seperti USDT lepas atau turun dari nilai patokannya yakni 1 dollar AS.
Hal tersebut dapat terjadi saat pasar sedang tertekan dan mengalami krisis.
Permintaan jual yang tinggi dari investor yang panik dapat membuat sistem eror atau menurunkan nilai pada sistem digital.
Risiko lain dapat datang dari penerbit aset kripto Tether tersebut ketika mengalami krisis keuangan.
Gangguan lain yang berasal dari exchange kripto atau blockchain juga dapat terjadi meskipun sifatnya sementara.
Sebaliknya, ia menjelaskan, untuk tingkat keamanan (pure safety) sebenarnya memiliki dollar AS secara fisik atau rekening bank valuta asing (valas) lebih aman.
Ilustrasi dollar AS.
Desmond bilang, jaminan keamanan tersebut datang karena tidak ada risiko counterparty atau pihak lawan seperti dari perusahaan kripto.
"Ini tempat berlindung paling aman secara tradisional karena langsung klaim atas dollar AS asli tanpa perantara tambahan," ucap dia.
Dengan demikian, baik USDT atau dollar AS punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Desmond berpandangan, investor dapat melakukan kombinasi atau diversifikasi.
"Sebagian tunai dollar AS bank atau fisik dan sebagian kripto. Semakin panjang mau simpan dollar AS, perbesar instrumen dollar AS tunai, karena jauh lebih aman," tutur dia.
Perbedaan USDT dan dollar AS
Lebih lanjut Desmond menjelaskan, terdapat perbedaan utama antara USDT dan dollar AS fisik atau rekening valas perbankan.
Bagi seorang investor, aset kripto USDT merupakan stablecoin digital berbasis blockchain utamanya Ethereum dan Tron. Koin ini dipatok dengan rasio 1:1 dengan dollar AS.
USDT memiliki sifat yang mudah ditransfer 24/7 secara global, biaya rendah, dan likuid tinggi di exchange kripto Indonesia.
Dengan demikian, USDT bisa dibilang cocok untuk transaksi cepat.
Sementara itu, dollar AS tunai atau fisik merupakan uang kertas fisik atau saldo di rekening valas bank.
Secara umum, dollar AS tunai ini lebih nyata, tapi kurang praktis untuk jumlah besar.
Pasalnya, uang tunai memiliki risiko pencurian dan penyimpanan.
Apalagi aturan pemerintah akan membatasi pembelian dollar AS dari pemerintah, maksimal 25.000 dollar AS.
Selain itu, dollar AS tunai juga biasanya memiliki layanan transfer antarbank yang lebih lambat dan mahal.
Sebagai informasi, USDT adalah singkatan dari US Dollar Token. USDT hadir untuk memberikan alternatif aset digital yang lebih stabil bagi pelaku pasar kripto.
USDT diterbitkan oleh perusahaan Tether yang berada di bawah iFinex, grup yang juga mengoperasikan bursa kripto Bitfinex.
Popularitas USDT tidak lepas dari fungsinya sebagai aset penyeimbang di pasar kripto.
Dengan nilai yang mengikuti dollar AS, investor dapat mengalihkan dana ke USDT ketika pasar sedang bergejolak tanpa harus keluar dari ekosistem aset digital.
Stabilitas harga tersebut membuat USDT banyak digunakan sebagai media pertukaran dalam perdagangan kripto.
Selain itu, stablecoin juga menjadi instrumen yang umum dipakai dalam layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi), termasuk untuk aktivitas pinjam-meminjam maupun staking.
Sebagai ilustrasi, ketika kurs rupiah menembus tingkat psikologis baru di luar jam kerja bank, investor dapat langsung mengamankan aset ke USDT melalui ponsel tanpa perlu menunggu hari esok.
USDT juga lebih praktis ketika investor ingin memanfaatkan dana tersebut untuk transaksi digital internasional atau berniat melirik investasi kripto lainnya.
Sementara itu, dollar AS fisik merupakan tempat perlindungan paling aman jika tujuannya adalah keamanan jangka panjang, tanpa memikirkan risiko teknologi.
Baca juga: Andai Rupiah Menyentuh Rp 20.000 Per Dollar AS
Tag: #rupiah #terendah #sepanjang #masa #lebih #aman #simpan #usdt #atau #dollar