Wall Street Anjlok, Saham Chip Rontok Setelah Data Tenaga Kerja AS Kuat
Ilustrasi Wall Street.()
10:32
6 Juni 2026

Wall Street Anjlok, Saham Chip Rontok Setelah Data Tenaga Kerja AS Kuat

 Bursa saham Amerika Serikat atau AS anjlok pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat. Tekanan utama datang dari aksi jual besar-besaran pada saham semikonduktor.

Indeks Nasdaq Composite, yang banyak berisi saham teknologi, turun 4,18 persen ke level 25.709,43. Penurunan tersebut menjadi koreksi harian terbesar Nasdaq sejak gejolak tarif pada April 2025.

Indeks S&P 500 melemah 2,64 persen ke level 7.383,74.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 695,15 poin atau 1,35 persen ke level 50.866,78. Padahal, indeks Dow Jones sempat ditutup pada rekor tertinggi pada Kamis.

Tekanan jual pada saham chip sudah terlihat sejak Kamis (4/6/2026). Namun, pelemahan pada Jumat berlangsung jauh lebih tajam.

Baca juga: Wall Street Ditutup Bervariasi, Dow Jones Cetak Rekor Baru Saat Saham AI Berguguran

Penyebab utama penurunan saham chip sepanjang pekan ini belum sepenuhnya jelas.

Sebagian tekanan muncul setelah Broadcom tidak menaikkan prospek bisnis chip kecerdasan buatan atau artificial intelligence, AI, pada Rabu malam.

Kekecewaan itu membuat saham semikonduktor kehilangan momentum pada Kamis. Tekanan kemudian membesar pada Jumat.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah rilis data tenaga kerja Mei yang jauh lebih kuat dari perkiraan juga ikut menekan pasar.

Indeks S&P 500 turun lebih dari 2 persen sepanjang pekan ini.

Penurunan tersebut menjadi pekan negatif pertama bagi S&P 500 dalam 10 pekan terakhir. Nasdaq Composite anjlok 4,7 persen dalam sepekan setelah tekanan pada Jumat. Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan juga melemah tipis dalam sepekan.

Baca juga: Wall Street Jatuh dari Rekor Tertinggi, Konflik AS-Iran dan Harga Minyak Jadi Pemicu

Saham chip rontok

Exchange traded fund atau ETF iShares Semiconductor turun 10 persen. Penurunan tersebut menjadi kinerja harian terburuk ETF itu sejak Maret 2020.

Saham Broadcom turun hampir 8 persen pada Jumat. Sebelumnya, saham Broadcom sudah anjlok lebih dari 12 persen pada Kamis.

Saham Marvell Technology turun lebih dari 16 persen. Saham Intel dan Advanced Micro Devices masing-masing melemah sekitar 11 persen.

Micron Technology, produsen chip memori yang belakangan menjadi salah satu penggerak pasar bullish, turun 13 persen. Saham tersebut juga sudah anjlok 8 persen pada Kamis.

“Investor seperti sedang menunggu kesempatan untuk menjual,” kata Kepala Strategi Pasar Nationwide Mark Hackett.

“Bukan berarti harus keluar. Tetapi jika Anda memiliki beberapa saham semikonduktor ini selama dua bulan terakhir, Anda sangat tidak sesuai dengan tujuan posisi jangka panjang Anda. Anda perlu mengambil keuntungan pada titik tertentu,” lanjut dia.

Tekanan juga terlihat pada aset spekulatif lain. Bitcoin turun ke bawah 60.000 dollar AS untuk pertama kalinya sejak akhir 2024.

Dengan kurs Rp 18.035 per dollar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp 1,08 miliar. Meski turun tajam, ETF iShares Semiconductor masih naik 79 persen sepanjang tahun ini.

Pasar bersiap hadapi IPO SpaceX

Penurunan saham teknologi terjadi saat investor bersiap menghadapi penawaran umum perdana saham atau initial public offering, IPO, SpaceX pada pekan depan.

Perusahaan antariksa dan kecerdasan buatan milik Elon Musk itu bersiap melantai di bursa dengan valuasi 1,77 triliun dollar AS.

Nilai tersebut setara sekitar Rp 31.921,95 triliun. IPO SpaceX mendorong antusiasme terhadap sektor teknologi dan AI.

Namun, sebagian investor khawatir debut tersebut dapat menandai puncak gelembung investasi.

Sebagian pelaku pasar menilai penurunan saham chip dan bitcoin terjadi karena investor mulai menyediakan ruang dalam portofolio untuk membeli saham SpaceX.

“Orang-orang yang ingin masuk ke IPO SpaceX minggu depan, kemungkinan besar mereka tidak akan menggunakan dana Procter & Gamble untuk mendanainya,” kata Hackett.

“Itu akan berupa beberapa perdagangan AI ini, semikonduktor, saham-saham yang sedang naik daun, atau setidaknya teknologi secara umum. ... Begitu batu besar mulai menggelinding menuruni bukit, seperti yang kita lihat kemarin, Anda dapat melihat aksi jual yang cukup tidak teratur,” lanjut dia.

Data tenaga kerja tekan ekspektasi suku bunga

Tekanan pada saham teknologi juga muncul setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics, BLS, merilis data ketenagakerjaan.

Jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian atau nonfarm payrolls bertambah 172.000 pada Mei 2026.

Angka itu jauh di atas perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones, yang memproyeksikan tambahan 80.000 pekerjaan.

Data tenaga kerja yang kuat membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke atas 4,5 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun naik ke atas 5 persen.

Level tersebut kembali memunculkan kekhawatiran soal perlambatan ekonomi dan kenaikan biaya pinjaman bagi perusahaan.

Kekhawatiran itu menjadi perhatian pasar karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan belanja modal besar.

Saat saham teknologi dilepas, investor beralih ke sektor yang lebih defensif. Sektor tersebut antara lain kesehatan dan kebutuhan pokok.

Saham Colgate Palmolive naik 4 persen. Saham Coca Cola menguat lebih dari 3 persen. Saham Johnson & Johnson naik 2 persen.

Tag:  #wall #street #anjlok #saham #chip #rontok #setelah #data #tenaga #kerja #kuat

KOMENTAR