Tidak Ada Air di Luar Angkasa, Peneliti Sudah Punya Solusi untuk Cuci Baju
Ilustrasi astronot di luar angkasa.(Unsplash/NASA)
19:03
4 Juni 2026

Tidak Ada Air di Luar Angkasa, Peneliti Sudah Punya Solusi untuk Cuci Baju

- Sejumlah ilmuwan mengembangkan teknik baru untuk "mencuci" pakaian astronot di luar angkasa, tanpa memerlukan air.

Temuan ini dinilai penting untuk mendukung misi jangka panjang ke Bulan atau Mars, di mana pasokan air dan logistik sangat terbatas.

Selama ini, astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) membersihkan pakaian dengan cara memakai vacuum kering dan tisu pembersih kimia. Namun, cara tersebut dinilai kurang efektif.

Astronot pada dasarnya juga bisa mengganti baju yang sudah dipakai dalam waktu lama dan membuangnya ketika sudah kotor, tetapi hal ini dianggap tidak berkelanjutan untuk misi jangka panjang.

Baca juga: Akhirnya, Astronot Boleh Bawa iPhone Lagi ke Luar Angkasa

Nah, untuk mengatasi itu, tim peneliti yang dipimpin oleh Gabe Xu dari University of Alabama, bekerja sama dengan pakar mikrobiologi NASA, Chelsi Cassilly, mengembangkan teknologi baru.

Tim tersebut mengembangkan perangkat berukuran compact yang bisa memancarkan plasma dingin tipis, seukuran pensil, yang mampu membunuh bakteri pada permukaan kain tanpa air.

Perangkat yang dikembangkan itu bekerja dengan menggunakan listrik tegangan tinggi untuk mengionisasi campuran helium, udara, dan uap air.

Saat diarahkan ke kain, senyawa tersebut dapat menembus serat kain dan menghancurkan mikroorganisme melalui proses yang disebut stres oksidatif.

Berbeda dengan plasma panas, plasma dingin beroperasi pada suhu ruangan, sehingga aman untuk kain maupun kulit manusia.

Berdasarkan pengujian di laboratorium, tim memancarkan plasma pada sampel bakteri Staphylococcus caprae yang sebelumnya pernah ditemukan di ISS.

Hasilnya, jumlah bakteri pada sampel kain katun menghilang dari sekitar 250.000 per mililiter menjadi sekitar 60.000 per mililiter setelah proses pembersihan menggunakan plasma.

Pada akhirnya, perangkat bikinan tim peneliti mampu membunuh bakteri secara elbih efektif dibanding metode yang digunakan di ISS.

Menurut peneliti, metode ini mungkin tidak menghilangkan noda yang terlihat, tetapi mampu memusnahkan bakteri yang berpotensi membuat astronot terjangkit penyakit.

"Ada mikroba yang tahan dari sinar UV, tetapi sejauh eksperimen kami, tidak ada yang bisa bertahan dari stres oksidatif," kata Gabe Xu dalam wawancara dengan Live Science.

Saat ini, prototipe yang dikembangkan masih berukuran kecil dan hanya mampu membersihkan area selebar ujung pensil.

Baca juga: 3 HP yang Pernah Dipakai Astronot di Luar Angkasa

Ke depannya, para peneliti akan mengembangkan versi yang lebih besar, termasuk ruang pembersih plasma yang menyerupai mesin cuci serta kombinasi sistem plasma dan penyedot debu untuk membersihkan berbagai permukaan.

Teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk pakaian, tetapi juga dapat digunakan untuk mensterilkan baju antariksa, peralatan kerja, hingga furnitur lunak di habitat luar angkasa.

Menurut para peneliti, pengendalian mikroba akan menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan kru saat manusia mulai menetap lebih lama di Bulan atau Mars.

Habitat luar angkasa yang tertutup dan dihuni sedikit orang berpotensi menjadi lingkungan yang rentan terhadap penyebaran bakteri. Karena itu, teknologi sanitasi yang hemat sumber daya seperti plasma dingin dinilai dapat menjadi solusi penting bagi eksplorasi antariksa masa depan.

Kendati demikian, peneliti masih perlu melakukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas teknologi ini terhadap berbagai jenis mikroba, serta dampaknya terhadap daya tahan kain dalam penggunaan jangka panjang, dihimpun KompasTekno dari Interrsting Engineering.

Tag:  #tidak #luar #angkasa #peneliti #sudah #punya #solusi #untuk #cuci #baju

KOMENTAR