Impor Gula Tak Terkendali, BUMN Sugar Co Rugi Rp 680 Miliar
- Badan Pengaturan BUMN menyebut PT Sugar Co atau PT Sinergi Gila Nusantara mencatat kerugian Rp 680 miliar pada 2025.
Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria mengatakan kerugian dipicu impor gula yang tidak terkendali.
“Sugarco membukukan rugi Rp 680 miliar akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol,” kata Dony dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Mentan Ungkap Penyebab Produksi Gula Rendah: 70-80 persen Ratoon Tebu Rusak
Dony menilai masuknya gula rafinasi impor menekan industri dalam negeri. Produk impor membanjiri pasar dan menghambat perkembangan produsen lokal.
Persoalan tata kelola gula dinilai perlu penanganan serius. Kondisi ini berisiko terus berulang jika tidak dibenahi.
“Kalau ini diteruskan, ini sulit untuk industri gula kita berkembang akibat daripada kebocoran-kebocoran daripada gula rafinasi yang masuk ke dalam pasar,” ujarnya.
BUMN bersama Kementerian Pertanian sempat membeli gula rakyat senilai Rp 1,5 triliun pada 2025. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk subsidi, namun dinilai belum efektif.
Upaya tersebut diarahkan untuk mendorong swasembada gula nasional. Dony menilai dukungan regulasi kuat diperlukan untuk mengatasi persoalan impor.
“Kalau tidak, menurut saya, akan sulit bagi kami untuk bisa menghadapi harga gula yang kemudian menjadi kebocoran daripada impor gula rafinasi yang masuk ke dalam masyarakat,” tutur Dony.
Baca juga: Impor 1.000 Ton Beras AS, Zulhas: Bukan Beras Biasa, Misal buat yang Kena Gula...
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut produksi gula dalam negeri mencapai 2,67 juta ton. Angka ini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Konsumsi gula tercatat 6,7 juta ton. Rinciannya terdiri dari 3,9 juta ton untuk industri dan 2,8 juta ton untuk konsumsi.
“Dengan demikian kita masih perlu 4,03 juta ton,” kata Amran.
Amran menyoroti kejanggalan di lapangan. Produksi dalam negeri tidak terserap optimal meski pasokan kurang.
Ia menyebut gula rafinasi impor telah membanjiri pasar domestik.
“Satu sisi produksi kita kurang, tapi gulanya tidak bisa laku. Jadi produksi kita kurang tapi molase gula tidak bisa laku,” ujar Amran.
“Yang terjadi di lapangan, Bu, kita buka saja, rafinasi banjir. Kalau bocor bocor sedikit, ini banjir,” lanjut Amran.