PwC: 96 Persen Pekerja RI Pengguna AI Harian Akui Produktivitas Naik
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).(SHUTTERSTOCK)
07:20
27 Februari 2026

PwC: 96 Persen Pekerja RI Pengguna AI Harian Akui Produktivitas Naik

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia kerja menunjukkan dampak nyata terhadap produktivitas, keamanan kerja, hingga tingkat penghasilan pekerja.

Namun, tingkat adopsi dan akses terhadap manfaat AI tersebut masih belum merata.

Hal itu terungkap dalam Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 yang dirilis PwC Indonesia.

Baca juga: PM Singapura Janjikan Tak Akan Ada Jobless Growth Meski AI Ubah Arah Ekonomi

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Alibaba Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Survei ini melibatkan 49.843 responden di 48 negara dan 28 sektor industri, serta dilakukan pada 7 Juli hingga 18 Agustus 2025.

Hasil survei menunjukkan, pekerja yang menggunakan generative AI setiap hari melaporkan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang jarang atau tidak menggunakan teknologi tersebut.

Secara global, 92 persen pengguna harian AI menyatakan produktivitas mereka meningkat.

Sebanyak 58 persen merasa keamanan kerja mereka lebih kuat, dan 52 persen melaporkan peningkatan gaji.

Baca juga: Tren Perbankan 2026: AI Ubah Cara Bank Cari Untung

Sebaliknya, di antara pekerja yang hanya menggunakan AI secara sporadis, hanya 58 persen yang merasakan peningkatan produktivitas.

Sebanyak 36 persen merasa lebih aman secara profesional, dan 32 persen melihat kenaikan gaji.

Pete Brown, Global Workforce Leader PwC, menyatakan, karyawan yang menggunakan AI setiap hari menuai hasilnya, yakni produktivitas yang lebih tinggi, keamanan kerja yang lebih baik, dan gaji yang lebih tinggi.

"Tetapi untuk meningkatkan manfaat ini, bisnis harus melampaui pelatihan. Pekerjaan itu sendiri perlu dirancang ulang dan kemitraan manusia-mesin perlu didefinisikan ulang," tutur Brown, dikutip dari pernyataan resmi PwC Indonesia, Jumat (27/2/2026).

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca juga: Studi Ritel Terbaru, 45 Persen Konsumen Pakai AI buat Belanja Ramadhan

"Keberhasilan dalam hal ini akan menentukan apakah GenAI menjadi mesin pertumbuhan dan inklusi yang sesungguhnya, atau hanya peluang yang terlewatkan," imbuh Brown.

96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan AI melaporkan peningkatan produktivitas

Di Indonesia, tren serupa terlihat dengan intensitas yang bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Sebanyak 96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan AI setiap hari melaporkan peningkatan produktivitas.

Kemudian, 82 persen merasa keamanan kerja mereka meningkat, dan 72 persen mengaku memperoleh kenaikan kompensasi alias gaji.

Baca juga: LinkedIn: AI Ciptakan 1,3 Juta Pekerjaan Baru di Dunia

Untuk pekerja yang tidak menggunakan AI setiap hari, 75 persen tetap melaporkan peningkatan produktivitas.

Sebanyak 63 persen merasa aman dalam pekerjaan mereka, dan 52 persen menyatakan memperoleh kenaikan gaji.

Dari sisi adopsi, 69 persen responden di Indonesia menyatakan telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka selama 12 bulan terakhir.

Namun demikian, hanya 16 persen yang menggunakan generative AI setiap hari, dan 8 persen yang menggunakan agentic AI secara harian.

Baca juga: Berkat Optimisme AI, Ringgit Malaysia Diproyeksi Terus Menguat di 2026

Secara global, 54 persen responden menyatakan telah menggunakan AI dalam setahun terakhir. Akan tetapi, hanya 14 persen yang menggunakannya setiap hari.

Untuk agentic AI, pengguna harian secara global hanya mencapai 6 persen.

Temuan ini menunjukkan, meskipun manfaat penggunaan AI cukup jelas, tingkat pemanfaatan intensif masih terbatas.

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). shutterstock Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perubahan yang diperkirakan terjadi

Survei tersebut juga menyoroti ekspektasi pekerja terhadap perubahan besar dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: BCA Jadi Bank Pertama di Asia Tenggara yang Dapat Sertifikasi Manajemen AI

Lita Dewi, Workforce Transformation Leader PwC Consulting Indonesia, mengatakan, perubahan-perubahan ini akan menentukan masa depan pekerjaan, yakni regulasi, teknologi, geopolitik, serta preferensi pelanggan.

Lita menjabarkan, di Indonesia, hampir separuh pekerja yang disurvei memperkirakan dampak besar dari pergeseran regulasi (49 persen), dan 45 persen mengantisipasi transformasi teknologi, meningkat menjadi 74 persen di antara pengguna GenAI harian.

"Sementara itu, 44 persen pekerja yang disurvei percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan juga berdampak pada pekerjaan mereka dalam tiga tahun ke depan," tutur dia.

Data menunjukkan 49 persen pekerja Indonesia memperkirakan perubahan regulasi akan berdampak besar terhadap pekerjaan mereka.

Baca juga: Saat AI Melaju, Sekolah Jadi Titik Awal Pembelajaran

Sebanyak 45 persen mengantisipasi transformasi teknologi, dan angka ini meningkat menjadi 74 persen di kalangan pengguna harian GenAI.

Selain itu, 44 persen pekerja Indonesia percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan juga akan memengaruhi pekerjaan mereka dalam tiga tahun ke depan.

Ketimpangan akses pengembangan keterampilan

Survei PwC juga mengidentifikasi adanya upskilling divide atau kesenjangan akses terhadap peluang pembelajaran dan pengembangan keterampilan.

Secara global, hanya 51 persen non-manajer yang merasa memiliki sumber daya yang cukup untuk belajar dan berkembang.

Baca juga: Ekonomi Digital ASEAN Berpotensi Rp 16.828 T, Thailand Catat Adopsi AI Tertinggi

Ilustrasi bekerja di kantor.PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor.

Angka ini meningkat menjadi 66 persen di kalangan manajer dan 72 persen di tingkat eksekutif senior.

Di Indonesia, kesenjangan tersebut tetap terlihat, meskipun persentasenya lebih tinggi.

Sebanyak 64 persen non-manajer merasa memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran. Angka ini meningkat menjadi 78 persen di tingkat manajer dan 89 persen di kalangan eksekutif senior.

Temuan ini menunjukkan bahwa akses terhadap pengembangan keterampilan cenderung meningkat seiring dengan jenjang jabatan.

Baca juga: Singapura Siapkan Insentif AI dalam APBN 2026, Bidik Produktivitas Bisnis

Budaya belajar di tempat kerja

Budaya organisasi juga menjadi faktor yang memengaruhi kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi perubahan.

Secara global, 54 persen responden menyatakan bahwa tim mereka memperlakukan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Namun, terdapat perbedaan antar sektor.

Di sektor teknologi, angka tersebut mencapai 65 persen. Sebaliknya, di sektor transportasi dan logistik, hanya 47 persen responden yang menyatakan hal serupa.

Di Indonesia, 72 persen pekerja menyatakan bahwa kegagalan diperlakukan sebagai peluang belajar. Angka ini bahkan mencapai 88 persen di sektor jasa keuangan.

Baca juga: AI Jadi Host Live Shopping E-Commerce: Transformasi atau Krisis Pekerjaan?

Selain itu, 76 persen pekerja Indonesia menyatakan merasa nyaman berbagi ide dan saran di tempat kerja. Secara global, angka tersebut berada di 62 persen.

Berdasarkan kelompok generasi, manajer Gen X di Indonesia mencatat tingkat kenyamanan tertinggi dalam menyampaikan pandangan, yakni 89 persen.

Sementara itu, non-manajer Gen Z berada pada angka 68 persen, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata global untuk kelompok serupa, yaitu 55 persen.

Secara keseluruhan, Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menggambarkan dinamika dunia kerja yang dipengaruhi percepatan adopsi teknologi, perubahan regulasi, kondisi geopolitik, serta tekanan finansial yang masih dirasakan sebagian pekerja.

Baca juga: Raksasa Bir Dunia PHK 6.000 Karyawan, Fokus Produktivitas Berbasis AI

Survei ini melibatkan hampir 50.000 pekerja di berbagai sektor industri dan negara, dengan penyesuaian data berdasarkan distribusi usia dan gender di masing-masing populasi tenaga kerja.

Temuan tersebut menunjukkan perbedaan pengalaman dan persepsi yang cukup signifikan antara pekerja yang menggunakan AI secara intensif dan mereka yang belum mengadopsinya secara rutin, serta adanya kesenjangan akses terhadap pengembangan keterampilan di berbagai jenjang organisasi.

Tag:  #persen #pekerja #pengguna #harian #akui #produktivitas #naik

KOMENTAR