Impor 105.000 Pikap India, KSPI: Buruh Lokal Sedang Dibayangi PHK
Presiden KSPI dan Partai Buruh Said Iqbal saat menemui wartawan di titik aksi buruh jawa barat yanh menuntut revisi UMSK di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025)(KOMPAS.com/Omarali Dharmakrisna Soedirman)
14:44
24 Februari 2026

Impor 105.000 Pikap India, KSPI: Buruh Lokal Sedang Dibayangi PHK

- Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut, importasi 105.000 mobil dari India dilakukan di tengah pekerja industri sektor otomotif dibayangi ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Impor mobil itu dilakukan PT Agrinas Pangan Nusantara untuk menunjang operasional Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdes) Merah Putih.

Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, pembelian mobil India senilai Rp 24,66 triliun itu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pajak masyarakat.

“Itu kan karena itu uang pajak rakyat Indonesia dalam APBN kok menghidupkan buruh India, pekerja India bergembira ria, pekerja buruh di sektor otomotif terancam PHK,” kata Said dalam konferensi pers virtual, Selasa (24/2/2026).

Baca juga: Tolak Impor 105.000 Pikap dari India, Ahli Teknik: Industri Lokal Mampu Produksi 1 Juta Unit

Bayang-bayang PHK buruh industri otomotif tanah air bukan tanpa dasar.

Sejumlah pekerja pabrik mobil sudah mengadu ke Pos Oranye yang dibentuk KSPI dan Partai Buruh.

Menurut Said, para karyawan Toyota, Daihatsu, Hino, Isuzu, dan Suzuki itu mengungkapkan potensi PHK.

“Produsen-produsen mobil ini yang menyatakan bahwa di perusahaan-perusahaan mobil mereka ini punya potensi terancam PHK,” ujar Said.

Ia menyebut, pembelian Agrinas Pangan Nusantara ke pabrik mobil dalam negeri bisa memperpanjang kontrak para pekerja.

Pembelian 105.000 pikap dalam negeri bahkan akan menyerap puluhan tenaga kerja minimal dalam satu tahun.

Perputaran ekonomi juga berlanjut dengan penyediaan suku cadang ratusan mobil pikap oleh produsen komponen otomotif.

Jika pemerintah perlu mobil pikap dengan harga lebih miring, menurutnya mereka bisa berdiskusi dengan produsen untuk mengurangi fitur tertentu yang tidak signifikan

“ Ada Hino, ada Isuzu, ada Suzuki, ada Toyota, ada Mitsubishi, itu anggota-anggota KSPI. Dan pabrikan Jepang lebih top mutu kualitas, kalau harga bisa negosiasi dengan menurunkan spek, spesifikasi,” tutur Said.

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026).KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Penjelasan Agrinas

Sebagai informasi, Agrinas Pangan Nusantara telah meneken kontrak pembelian 105.000 pikap itu dari dua pabrikan India yakni Mahindra & Mahindra (M&M) Ltd dan Tata Motors.

Rinciannya, 35.000 pikap 4x4 dari Mahindra, 35.000 pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota menyebut, 200 pikap telah tiba dari Mahindra telah tiba di Indonesia.

Pengiriman tahap berikutnya akan dilakukan dengan 400 unit pikap.

"Sampai akhir bulan ini (target) sudah 1.000 unit. Tahun ini 35.000 kita usahakan bisa sampai semua, yang Mahindra," ujar Joao saat ditemui Kompas.com di kantornya, Jakarta, dikutip Senin (23/2/2026).

Importasi ini menjadi sorotan hingga disindir Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang bertanggung jawab atas industri dalam negeri.

Politikus Partai Golkar itu mengatakan, pabrikan otomotif dalam negeri mampu memproduksi pikap.

Ia juga menyebut, kualitas produk pikap dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor dan telah diterima masyarakat.

“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pikap dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri,” kata Agus dalam keterangan resmi, Kamis (19/2/2026).

Baca juga: Dasco Minta Impor 105.000 Pikap India Ditunda, Dirut Agrinas: Kami Manut Saja

Tag:  #impor #105000 #pikap #india #kspi #buruh #lokal #sedang #dibayangi

KOMENTAR