Media Asing Soroti Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS
– Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru di angka Rp 18.000.
Kondisi ini turut diwartakan oleh media asing dan mendapat perhatian luas dari dunia internasional.
Pelemahan Rupiah juga terjadi di tengah volatilitas harga minyak dunia akibat perang di Iran.
Berikut sorotan dari AFP, Bloomberg, dan The Straits Times terhadap pelemahan rupiah.
Baca juga: Dampak Rupiah Anjlok Bisa sampai Meja Makan, Kelas Menengah Paling Rentan
AFP
Kantor berita AFP menyoroti merosotnya rupiah hingga menyentuh angka Rp 18.028 per dollar AS meskipun Bank Indonesia (BI) telah berulang kali melakukan intervensi.
Media yang berbasis di Perancis itu menyebut lonjakan harga minyak mentah dunia dipicu oleh perang Iran tak bisa dilepaskan dari kondisi ini.
Sebab, kenaikan harga minyak memukul perekonomian Indonesia yang berstatus sebagai negara importir bersih atau net importer minyak.
Kondisi tersebut diperparah oleh menyusutnya surplus perdagangan dari 3,3 miliar dollar AS menjadi hanya 89 juta dollar AS pada April.
Baca juga: Siapa Sangka, Video 90 Detik Baby Shark Bisa Hasilkan Triliunan Rupiah
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, 18.000 merupakan angka psikologis bagi investor pasar yang didorong oleh tingginya permintaan dollar untuk impor energi di tengah menipisnya surplus perdagangan.
"Pasokan dollar dari perdagangan menipis, sementara kebutuhan dollar untuk impor energi, bahan baku, dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan musiman tetap signifikan," ujar Josua kepada AFP.
"Inilah mengapa peningkatan suku bunga BI dan intervensi tidak cukup untuk membalikkan (depresiasi) rupiah," lanjutnya.
Baca juga: Media Asing Ramai Ulas Rencana Indonesia Pangkas Nol dari Rupiah
Bloomberg
Media ekonomi Bloomberg menyoroti pelemahan rupiah memimpin pelemahan mata uang di Asia.
Sepanjang tahun 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar 7 persen, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di antara mata uang pasar berkembang global yang dipantau Bloomberg.
Penurunan ini dinilai Bloomberg juga dipicu oleh lonjakan harga minyak Brent yang memicu kekhawatiran terhadap keseimbangan fiskal dan eksternal Indonesia.
Faktor lainnya menurut Bloomberg adalah merosotnya cadangan devisa ke level terendah dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini pun turut meningkatkan risiko penurunan peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings dan Moody’s Ratings.
Baca juga: Dollar Hari Ini Tembus Rp 18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah
Mohit Mirpuri dari SGMC Capital Pte menyatakan investor bersikap sangat berhati-hati akibat situasi ini.
"Investor tetap berhati-hati di tengah kekhawatiran yang berkepanjangan atas lintasan fiskal Indonesia, spekulasi seputar potensi penurunan peringkat, dan pelemahan rupiah yang terus berlanjut," kata Mirpuri.
Sementara itu, Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melihat adanya pemisahan kondisi pasar Indonesia dengan tren global.
"Ini bukan lagi cerita tentang aksi jual pasar berkembang yang berbasis luas. Sebaliknya, ini menjadi cerita tentang risiko spesifik Indonesia," kata Liza.
Kondisi ini diamini oleh salah satu pendiri Alphagate Capital, Henry Wibowo.
Dia menambahkan bahwa kekhawatiran peringkat kredit dan prospek Indonesia kini tengah membebani pasar akibat risiko pelebaran defisit fiskal.
Baca juga: Rupiah Capai Rp 18.000, Banggar DPR: Sudah Undervalued
The Straits Times
Media asal Singapura, The Straits Times, melaporkan rupiah sempat melorot ke level Rp 18.029,5 per dollar AS serta mencetak rekor terendah baru terhadap dollar Singapura di angka Rp 14.047,71.
Penurunan tajam ini memicu ekspektasi bahwa BI akan dipaksa mengambil langkah agresif untuk menahan keluarnya modal asing dari pasar keuangan dalam negeri.
Parisha Saimbi dari BNP Paribas mencatat bahwa otoritas Indonesia memiliki rekam jejak kuat dalam mempertahankan angka psikologis bulat.
Berdasarkan pandangannya, 18.000 kemungkinan merupakan tingkat psikologis yang akan dipantau ketat oleh pelaku pasar.
Baca juga: Rupiah Terpuruk ke Rekor Terendah, Cek Kurs Dollar AS di Bank-bank Besar
"Upaya intervensi Bank Indonesia tampaknya kemungkinan akan mencoba menahan laju depresiasi mata uang," ucapnya.
Ahli strategi forex dari MUFG, Lloyd Chan, menegaskan pentingnya stabilitas mata uang bagi kebijakan moneter dalam negeri.
"Stabilitas rupiah adalah mandat utama bagi BI. Mengingat lintasan depresiasi rupiah, BI kemungkinan harus menaikkan suku bunga lagi pada bulan Juni," kata Chan yang memproyeksikan kenaikan sebesar 50 basis poin.
Meskipun BI dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa mereka terus berupaya menstabilkan rupiah dan mengoptimalkan semua instrumen kebijakan yang tersedia, dampaknya dinilai terbatas karena cadangan devisa terus merosot.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Ekonom Ungkap Penyebab Utamanya