Rupiah Terpuruk Saat Mata Uang ASEAN Lainnya Stabil, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Kenapa rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah. Penyebab nilai tukar rupiah melemah. Apa yang terjadi jika rupiah melemah. Kenapa rupiah melemah.(PIXABAY/DARNO BEGE)
14:08
4 Juni 2026

Rupiah Terpuruk Saat Mata Uang ASEAN Lainnya Stabil, Apa Penyebabnya?

- Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) telah menembus level psikologis baru Rp 18.000 pada Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga pukul 13.37 WIB nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 18.043, atau melemah 76 poin setara 0,42 persen dibandingkan pembukaannya.

Tren pelemahan rupiah yang terjadi di Indonesia ini ternyata tidak dialami oleh negara-negara ASEAN lainnya.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000, Mendag: Kesempatan Ekspor Kita Makin Bagus

ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Dolar ke rupiah. Dollar ke rupiah. Rupiah ke dollar. 1 dolar berapa rupiah hari ini.ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan ilustrasi rupiah dollar AS, dolar hari ini. Dolar ke rupiah. Dollar ke rupiah. Rupiah ke dollar. 1 dolar berapa rupiah hari ini.

Ekonom sekaligus Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Ishak Razak mengatakan, perbedaan mendasar Indonesia dengan negara lain dalam hal depresiasi mata uang terletak pada persepsi investor.

Apalagi saat ini Indonesia menjadi negara nomor dua dengan nilai depresiasi mata uang terhadap dollar AS terdalam, hanya kalah dari India di posisi pertama.

Sementara negara lain terutama di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia relatif terjaga.

"Persepsi investor itu mungkin di negara lain lebih kondusif, gitu. Jadi tidak terlalu gaduh," kata dia ketika ditemui di kawasan Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000, Mendag: Kesempatan Ekspor Kita Makin Bagus

Ia menambahkan, di negara lain tidak terdapat kebijakan kontroversial yang menimbulkan ketidakpercayaan dan ketidakpastian.

Ishak menekankan, pasalnya investor di pasar keuangan sensitif terhadap sentimen dan cenderung bergerak dalam jangka waktu yang pendek.

"Dia (investor) bisa hari ini keluar, besok masuk lagi. Jadi butuh kepastian," imbuh dia.

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Untuk itu, ia berharap pemerintah dapat menciptakan kepastian dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang lebih kondusif.

Baca juga: IHSG Ambles di Sesi I, Kurs Rupiah Rp 18.040 Picu Kekhawatiran Pasar

Ishak menceritakan, negara lain seperti Vietnam dapat mempertahankan mata uang dari risiko global karena memiliki devisa yang besar.

Hasil tersebut didapatkan dari limpahan investasi re-ekspor dari China.

Penurunan tajam perdagangan China dengan Amerika Serikat membuka peluang untuk negara di Asia Tenggara seperti Vietnam karena ada reorientasi dari perdagangan China.

"Jadi mereka mengalihkan investasi dan ekspornya ke negara ASEAN, dan kemudian negara-negara ASEAN re-ekspor ke AS atau negara-negara Eropa dan seterusnya," urai dia.

Baca juga: Dollar Hari Ini Tembus Rp 18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah

Kondisi ini membuat neraca current account alias transaksi berjalan Vietnam membaik ditopang oleh peningkatan aktivitas perdagangan impor dan ekspor.

"Di samping tadi kebijakannya juga lebih kondusif, jadi tidak terlalu berdampak pada pelemahan nilai tukar mereka," ungkap Ishak.

Selain itu, China juga tergolong menjadi negara yang mampu menjaga nilai tukar mata uangnya dengan baik.

Intervensi China dinilai efektif untuk menjaga nilai tukar yang relatif stabil.

Baca juga: Rupiah Terpuruk ke Rekor Terendah, Cek Kurs Dollar AS di Bank-bank Besar

"Menjaga agar yuan itu tetap kompetitif," ungkap dia.

Hal itu terjadi karena China memiliki cadangan devisa yang besar dari hasil surplus ekspor.

Ishak menjelaskan, surplus ekspor didapatkan dari pertumbuhan industri manufakturnya yang terus tumbuh, bahkan dalam 20-30 tahun terakhir.

"Itu (manufaktur) semestinya yang menjadi concern pemerintah sekarang. Itulah bagaimana agar fondasi industri manufaktur domestik ini benar-benar diperkuat," tutup dia.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Ekonom Ungkap Penyebab Utamanya

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai," ujar Destry dalam keterangan resmi.

Tag:  #rupiah #terpuruk #saat #mata #uang #asean #lainnya #stabil #penyebabnya

KOMENTAR