Usai Naik Tajam, Saham Indospring (INDS) Tersungkur ARB ke Rp 2.440
- Saham PT Indospring Tbk (INDS) ambruk hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) pada perdagangan Jumat (20/2/2026), setelah sebelumnya melesat hampir 1.170 dalam tiga bulan terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INDS dibuka di level 3.050, lalu naik ke 3.200. Namun tak berselang lama, saham emiten industri suku cadang kendaraan bermotor ini anjlok hingga menyentuh ARB.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 701.060 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp 189,40 miliar. Adapun harga rata-rata perdagangan berada di level Rp 2.702 per saham.
Jika menilik data penutupan perdagangan Kamis (19/2/2026), saham INDS menguat 3,99 persen ke posisi Rp 2.870 per saham. Lonjakan harga itu turut mendongkrak kapitalisasi pasar perseroan hingga menembus Rp 18,83 triliun.
Baca juga: Mulai Produksi Fastener, Indospring (INDS) Bidik Ekspor ke Timur Tengah hingga AS
Untuk diketahui INDS merupakan perusahaan industri yang bergerak di bidang produksi pegas untuk kendaraan bermotor, baik pegas daun maupun pegas keong.
Produk tersebut diproses dengan metode dingin maupun panas dan diproduksi berdasarkan lisensi dari Mitsubishi Steel Manufacturing, Jepang. Perseroan resmi melantai di bursa pada Agustus 1990 dengan mencatatkan 15 juta saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, saat ini disebut sebagai BEI.
Dari sisi struktur kepemilikan, saham INDS mayoritas dikuasai oleh Indoprima Gemilang dengan porsi sekitar 5,78 miliar saham atau setara 88,11 persen. Sementara itu, kepemilikan publik (masyarakat non-warkat) sekitar 729,87 juta saham atau 11,12 persen.
Adapun masyarakat warkat memegang sekitar 23,52 juta saham atau 0,36 persen.
Pada jajaran direksi dan komisaris, Wiranto Nurhadi tercatat memiliki sekitar 26,83 juta saham atau 0,41 persen. Sementara Lioe Cu Ling dan Bob Budiono masing-masing memiliki porsi yang sangat kecil, yakni di bawah 0,0001 persen.
Baca juga: Emiten Komponen Otomotif Indospring (INDS) Bidik Pasar Timur Tengah
Bidik Ekspor ke Timur Tengah hingga AS
INDS mulai memanen potensi pertumbuhan baru dari lini bisnis pengencang atau fastener (U-Bolt) yang resmi diproduksi secara komersial sejak 2025.
Produk ini diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan perseroan dalam beberapa tahun ke depan, seiring strategi diversifikasi pasar dan ekspansi global. Direktur INDS Bob Budiono menjelaskan, pada tahap awal perseroan memfokuskan pemasaran fastener ke segmen aftermarket otomotif, sambil tetap membuka peluang investasi lanjutan untuk pengembangan fastener non-otomotif sebagai langkah diversifikasi risiko usaha.
“Tahun ini fokus kami masih aftermarket. Namun, kami juga menyiapkan opsi ekspansi ke fastener non-otomotif. Targetnya, Indospring bisa masuk tiga besar pemain fastener di pasar domestik dan menjadikan lini ini sebagai motor pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026).
Baca juga: Saham Naik 145 Persen, Cek Rekomendasi Emiten Suku Cadang Indospring (INDS)
Menurut Bob, pabrik fastener Indospring kini telah beroperasi penuh, melengkapi portofolio bisnis perseroan yang sebelumnya didominasi oleh pegas daun, pegas keong, serta komponen sistem pengereman.
Dengan kapasitas produksi yang telah stabil, perseroan mulai mengarahkan strategi pada penguatan pasar ekspor. Untuk 2026, Indospring membidik ekspor ke kawasan Timur Tengah, khususnya Uni Emirat Arab (UAE) dan Uzbekistan, serta pasar Amerika Serikat.
Ia menjelaskan, pemilihan wilayah tersebut didasarkan pada kesamaan spesifikasi kendaraan dengan Indonesia, terutama dominasi truk merek Jepang yang menggunakan model dan standar teknis serupa.
"Karakteristik pasar Timur Tengah dan Asia Tengah memberikan peluang pertumbuhan yang menarik, sejalan dengan strategi INDS dalam memperluas basis pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada pasar domestik," papar Bob.
Dengan ekspansi ini, Indospring optimistis lini fastener akan berkontribusi terhadap kinerja keuangan perseroan dalam jangka menengah hingga panjang. Sebagai catatan, hingga kuartal III-2025, INDS mencatat penjualan bersih sebesar Rp 2,46 triliun. Tren pertumbuhan ini turut memperkuat optimisme perseroan menghadapi tahun mendatang.
Selain itu, INDS juga melihat prospek positif dari industri otomotif nasional.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil pada 2026 diperkirakan mencapai 850.000 unit, naik sekitar 5,4 persen dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 803.687 unit. Kenaikan ini diyakini akan memberikan dampak positif terhadap permintaan komponen kendaraan.
Dengan fokus ekspansi ke Timur Tengah, pengembangan produk domestik, serta diversifikasi portofolio, Indospring optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus mengukuhkan posisi di industri komponen otomotif, baik di pasar lokal maupun global.
Tag: #usai #naik #tajam #saham #indospring #inds #tersungkur #2440