IPOT Rilis xRDN, Cara Menabung Digital Gen Z dengan Imbal Hasil 2 Persen
Di era keuangan digital, risiko terbesar bagi masyarakat tidak lagi semata-mata berasal dari fluktuasi pasar, melainkan dari dana yang tidak produktif serta sistem penyimpanan yang tidak sepenuhnya aman.
Maraknya kasus phishing, pembobolan akun keuangan, dan penyalahgunaan identitas digital menunjukkan, risiko finansial kini lebih banyak datang dari sisi keamanan akses, bukan hanya dari pergerakan harga aset.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai platform keuangan berlomba menawarkan kemudahan transaksi dan fitur instan.
Baca juga: Waspada Phishing, Ini Cara Jaga Keamanan Akun Keuangan Digital
Perbedaan orang kaya dan kelas menengah tidak hanya terletak pada besarnya penghasilan. Kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten setiap hari menjadi faktor penentu akumulasi kekayaan jangka panjang.
Namun, dalam praktiknya, aspek keamanan kerap ditempatkan sebagai lapisan tambahan, bukan fondasi utama sistem.
Ketika terjadi gangguan atau manipulasi akses akun, nasabah menjadi pihak paling rentan terhadap potensi kerugian.
Berangkat dari lanskap tersebut, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memperkenalkan xRDN, sebuah cara menabung digital berbasis pasar modal yang dirancang untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni dana yang tidak produktif dan risiko keamanan digital yang semakin kompleks.
Alternatif untuk dana parkir investor
Dalam industri sekuritas, sebagian besar Rekening Dana Nasabah (RDN) maupun tabungan bank konvensional umumnya memberikan imbal hasil sekitar 0,02 hingga 0,2 persen per tahun.
Baca juga: QRIS Jadi Infrastruktur Keuangan Digital: Dari Warung hingga Wisata Mancanegara
Angka tersebut dinilai relatif rendah bagi investor yang memiliki dana menganggur atau dana parkir sebelum dialokasikan ke instrumen investasi tertentu.
xRDN menawarkan potensi imbal hasil sekitar 2 persen. Angka ini secara nominal lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan konvensional maupun sebagian besar RDN pada umumnya.
Meski demikian, IPOT menegaskan xRDN bukan instrumen spekulatif dan tidak menjanjikan imbal hasil tetap.
Ilustrasi investasi.
Produk ini diposisikan sebagai cash asset strategis bagi investor pasar modal, likuid, lebih produktif, dan tetap berada dalam ekosistem yang terintegrasi dengan aktivitas investasi.
Baca juga: 48 Persen Treasurer Indonesia Khawatir Risiko Siber Hambat Transformasi Keuangan Digital
Bagi penabung bank dan masyarakat digital, xRDN disebut sebagai alternatif cara menabung yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda, khususnya Gen Z, yang terbiasa dengan ekosistem digital dan mengutamakan fleksibilitas.
IPOT menyebut, kepercayaan terhadap pendekatan ini tercermin dalam respons pasar saat terjadi gejolak pada akhir Januari lalu.
Di tengah meningkatnya volatilitas dan sikap defensif investor, perusahaan justru mencatat masuknya dana investor dalam skala triliunan rupiah ke dalam ekosistem xRDN.
Arus dana tersebut disebut sebagai indikasi kepercayaan pasar terhadap kombinasi produktivitas dana dan fondasi keamanan sistem yang ditawarkan.
Baca juga: Transaksi Keuangan Digital 2024 Melesat, QRIS Melonjak 175,2 Persen
Keamanan sebagai fondasi sistem
Selain menawarkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga RDN dan tabungan konvensional, IPOT menekankan aspek keamanan sebagai pilar utama pengembangan xRDN.
Perusahaan menilai dalam lanskap keuangan digital saat ini, keamanan tidak dapat lagi diposisikan sebagai fitur tambahan. Risiko phishing dan peretasan (hacking) dinilai sebagai ancaman nyata yang harus diasumsikan selalu ada.
xRDN dirancang dalam ekosistem yang tidak bergantung pada satu lapisan sistem semata. Jika terjadi gangguan pada sistem eksternal seperti perbankan, dana nasabah tetap berada dalam struktur yang terisolasi.
Dengan pendekatan ini, perlindungan tidak hanya bergantung pada satu titik sistem.
Baca juga: Pemerintah Luncurkan Satgas Jejaring Advokasi Inklusi Keuangan Digital Perempuan
Ilustrasi keamanan siber
IPOT juga menerapkan sistem keamanan tiga lapis. Sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa sekalipun pengguna menjadi korban phishing, akun saham tetap dalam kondisi terkunci dan tidak dapat disalahgunakan secara sepihak.
Pendekatan tersebut menempatkan perlindungan akses akun sebagai prioritas utama.
“Di saat banyak pihak fokus pada fitur dan pertumbuhan, kami memilih fokus pada fondasi. Dana nasabah harus produktif, tetapi sistemnya harus jauh lebih kuat. Security bukan tambahan, security adalah fondasi IPOT,” ujar Moleonoto The, President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).
Menjawab tantangan keamanan finansial digital
Kasus phishing yang menargetkan nasabah lembaga keuangan terus meningkat seiring dengan penetrasi layanan digital.
Baca juga: BI Perkuat Pelindungan Konsumen dalam Layanan Keuangan Digital
Modus yang digunakan pun semakin beragam, mulai dari tautan palsu, pesan instan, hingga rekayasa sosial yang memanfaatkan kelengahan pengguna.
Dalam konteks tersebut, risiko finansial tidak lagi terbatas pada pergerakan harga saham atau instrumen investasi, tetapi juga pada keamanan akses terhadap akun keuangan itu sendiri. Ketika akses berhasil diambil alih, kerugian dapat terjadi dalam waktu singkat.
IPOT menyatakan, desain xRDN mempertimbangkan asumsi terburuk bahwa risiko phishing dan hacking adalah ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak awal perancangan sistem.
Dengan demikian, penguatan sistem dilakukan bukan sebagai respons setelah kejadian, melainkan sebagai bagian dari struktur inti layanan.
Baca juga: Jadi Korban Penipuan Keuangan Digital, Ini yang Harus Dilakukan
Bagi investor pasar modal, xRDN berfungsi sebagai instrumen likuid yang tetap produktif sembari menunggu momentum investasi. Dana tidak hanya mengendap tanpa imbal hasil signifikan, tetapi tetap berada dalam ekosistem yang terintegrasi dengan akun investasi.
Ilustrasi menabung, menabung harian.
Sementara itu, bagi masyarakat digital dan penabung bank, xRDN diposisikan sebagai alternatif menabung dengan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan konvensional, likuiditas terjaga, serta sistem keamanan berlapis.
Pengelolaan sesuai regulasi pasar modal
IPOT menegaskan xRDN dikelola sesuai dengan regulasi pasar modal Indonesia serta mengedepankan prinsip transparansi dan perlindungan investor.
Produk ini tidak menjanjikan imbal hasil tetap, dan potensi imbal hasil sekitar 2 persen tetap bergantung pada kondisi pengelolaan dan dinamika pasar.
Baca juga: Dukung Inklusi Keuangan Digital UMKM, OJK: Kita Akan Sediakan Alternatif Pembiayaan
Penegasan ini disampaikan untuk membedakan xRDN dari instrumen yang bersifat spekulatif. Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut bahwa fokus utama tetap pada keseimbangan antara produktivitas dana dan kekuatan sistem perlindungan.
Peluncuran xRDN juga disertai ajakan kepada masyarakat untuk mengevaluasi kembali lokasi penyimpanan dana serta kekuatan sistem yang melindunginya.
Dalam konteks meningkatnya risiko keamanan finansial, perusahaan menilai bahwa kepercayaan terhadap platform keuangan akan semakin ditentukan oleh seberapa kokoh fondasi keamanannya.
Melalui xRDN, IPOT memposisikan diri sebagai penyedia layanan yang tidak hanya menawarkan kemudahan dan potensi imbal hasil, tetapi juga menempatkan keamanan sebagai struktur utama sistem.
Baca juga: Ekonom: Pemerintah Jangan Over Regulated terhadap Keuangan Digital
Di tengah kasus phishing dan meningkatnya risiko keamanan digital, produk ini diperkenalkan sebagai alternatif cara menabung digital dengan likuiditas terjaga dan perlindungan berlapis yang dirancang untuk menghadapi tantangan era keuangan modern.
Tag: #ipot #rilis #xrdn #cara #menabung #digital #dengan #imbal #hasil #persen