Saham Software Masih Tertekan, Bikin Wall Street Naik Naik Tipis
Ilustrasi Wall Street.()
06:04
18 Februari 2026

Saham Software Masih Tertekan, Bikin Wall Street Naik Naik Tipis

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa (17/2/2026) waktu setempat.

Namun tekanan di sektor perangkat lunak membatasi kenaikan indeks utama Wall Street.

Mengutip CNBC pada Rabu (18/2/2026), indeks S&P 500 naik 0,1 persen ke level 6.843,22.

Nasdaq Composite menguat 0,14 persen menjadi 22.578,38, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 32,26 poin atau 0,07 persen ke posisi 49.533,19.

Baca juga: Wall Street Anjlok, Disrupsi AI dan Ancaman PHK Jadi Biang Kerok

Penguatan ini terjadi di tengah rotasi dana investor dari saham-saham software yang sudah tertekan sepanjang tahun ke sektor keuangan.

Hal itu membuat saham Citigroup melonjak 2,6 persen dan JPMorgan menguat lebih dari 1 persen.

Sebaliknya, tekanan masih membayangi saham teknologi.

ServiceNow turun lebih dari 1 persen dan telah melemah sekitar 31 persen sepanjang 2026.

Autodesk dan Palo Alto Networks masing-masing terkoreksi lebih dari 2 persen.

Secara kumulatif tahun berjalan, Autodesk telah turun sekitar 24 persen dan Palo Alto Networks merosot 11 persen.

Tekanan juga dialami Salesforce dan Oracle yang masing-masing melemah hampir 3 persen dan 4 persen dalam sehari.

Sepanjang tahun ini, Salesforce sudah terkoreksi 30 persen, sedangkan Oracle turun 21 persen.

ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) pun merosot lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa, sehingga total penurunannya sepanjang tahun mencapai 23 persen.

Sektor software tertekan oleh kekhawatiran bahwa teknologi AI berpotensi menggantikan sejumlah penyedia perangkat lunak khusus industri.

Chief Investment Strategist Concurrent Investment Advisors, Leah Bennett, mengatakan pasar masih membutuhkan waktu untuk melihat dampak AI terhadap kinerja laba perusahaan.

“Kita hanya perlu waktu untuk melihat seperti apa kinerja laba dari sebagian perusahaan ini nantinya,” ujar Leah Bennett dalam wawancara dengan CNBC.

Menurutnya, perusahaan yang tidak memiliki keunggulan kompetitif kuat atau “moat” bisnis yang jelas berisiko mengalami penurunan kinerja, sementara pasar akan semakin selektif dalam menentukan emiten yang mampu bertahan dan menjadi pemenang di era disrupsi.

“Saya pikir perusahaan yang tidak mampu bersaing dan tidak benar-benar memiliki ‘moat’ atau keunggulan kompetitif yang kuat dalam bisnisnya akan mengalami kemunduran,” paparnya.

Kekhawatiran terhadap dampak AI pekan lalu turut menekan sektor lain seperti real estat, transportasi truk, dan jasa keuangan.

S&P 500 mencatat dua pekan penurunan berturut-turut.

Dalam sepekan terakhir, S&P 500 dan Dow masing-masing turun lebih dari 1 persen, sementara Nasdaq melemah lebih dari 2 persen.

Dow dan S&P 500 kini mencatat empat pekan negatif dalam lima pekan terakhir, sedangkan Nasdaq membukukan lima pekan pelemahan beruntun, menjadi tren penurunan terpanjang sejak 2022.

Strategist saham AS Citi, Scott Chronert, menilai inovasi AI memunculkan pertanyaan terhadap valuasi jangka panjang di berbagai sektor.

Ia menyebut investor kini lebih fokus pada risiko spesifik masing-masing industri dibandingkan eksposur pasar secara luas.

“Inovasi AI dan disrupsinya kini memunculkan pertanyaan terhadap valuasi jangka panjang (terminal multiples) di berbagai sektor pasar, sehingga mendorong investor untuk lebih fokus pada risiko-risiko spesifik dibandingkan melakukan perubahan eksposur pasar secara luas,” ucap Scott Chronert.

“Untuk saat ini, narasi tersebut terlepas dari tren fundamental jangka menengah yang sebenarnya cukup baik. Beban kini berada pada perusahaan untuk meyakinkan pasar bahwa mereka memiliki keunggulan bisnis jangka panjang yang kuat, yang kemungkinan akan menjadi tema utama musim laporan keuangan kuartal pertama, kecuali kembali muncul fokus pada skenario soft landing ekonomi makro,” katanya.

Di sisi lain, kekhawatiran tersebut sempat menutupi rilis data inflasi terbaru.

Indeks harga konsumen (CPI) Januari tercatat lebih rendah dari perkiraan ekonom, setelah sebelumnya laporan ketenagakerjaan juga menunjukkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi.

Pekan ini, investor menantikan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada Jumat, yang menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed), serta risalah rapat bank sentral AS yang dijadwalkan terbit pada Rabu.

Bursa Efek New York sebelumnya tutup pada Senin karena libur Presidents’ Day.

Baca juga: Wall Street Terkoreksi Meski Data Pekerja AS Januari Solid

Tag:  #saham #software #masih #tertekan #bikin #wall #street #naik #naik #tipis

KOMENTAR