Danantara Targetkan Negosiasi Utang Whoosh Rampung Kuartal I 2026
- Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan proses negosiasi utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dengan pihak China rampung pada Kuartal I 2026.
COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, dirinya belum dapat memastikan kapan tepatnya negosiasi utang Whoosh dengan China akan dilakukan. Namun dia memastikan negosiasi tidak akan melampaui kuartal pertama tahun ini.
"(Jadwal negosiasi utang Whoosh) nanti kita tunggu Pak Menko (Airlangga Hartarto). Tapi enggak usah khawatir, Kuartal I selesai," ujarnya di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Negosiasi Utang Whoosh Berlanjut, Keputusan Final Belum Diambil
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (28/1/2026).Dia juga mengungkapkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membahas skema pembayaran utang Kereta Cepat Whoosh yang sempat direncanakan 50 persennya dibayarkan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
"Nanti sedang didiskusikan dengan Kementerian Keuangan," jawab Dony saat ditanya wartawan mengenai skema pembayaran utang Whoosh dengan APBN.
Menurutnya, beban utang Kereta Cepat Whoosh tidak perlu dikhawatirkan karena dia optimistis operator Whoosh yakni PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) dapat menopang keberlanjutan bisnis ini.
"Saya juga bingung, masalahnya apa sih? Sebenarnya kan sudah selesai bahwa proses itu akan diselesaikan. Dia (Whoosh) memberikan dampak ekonomi, secara operasional mereka mampu untuk sustain. Masalahnya kan hanya di investasi kita yang kekecilan sehingga utangnya menjadi besar waktu pembangunan," ungkapnya.
Sebagai informasi, proyek Kereta Cepat Whoosh menimbulkan beban utang uang cukup besar. Total utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai sekitar 7,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 120,38 triliun (kurs Rp 16.500 per dollar AS).
Dari total itu, 75 persen dibiayai melalui pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga dua persen per tahun dan tenor 40 tahun.
Seiring berjalannya waktu, biaya proyek membengkak akibat cost overrun hingga 1,2 miliar dollar AS. Tambahan utang tersebut dikenakan bunga di atas tiga persen per tahun.
Adapun pinjaman tambahan sebesar 542,7 juta dollar AS digunakan untuk menutup pembengkakan biaya yang menjadi tanggungan konsorsium Indonesia sebesar 75 persen. Sisanya dipenuhi melalui penyertaan modal negara (PMN) dari APBN.
Di sisi lain, bisnis Kereta Cepat Whoosh masih mencatatkan kerugian sejak beroperasi pada 17 Oktober 2023. KAI bersama dengan tiga BUMN lainnya harus menanggung renteng kerugian dari Whoosh sesuai porsi sahamnya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI).
Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited) yang dipublikasikan di situs resminya, entitas anak KAI, PT PSBI, tercatat merugi hingga Rp 4,195 triliun sepanjang 2024.
Artinya, dalam sehari saja bila menghitung dalam setahun ada 365 hari, konsorsium BUMN Indonesia harus menanggung rugi dari beban KCIC sebesar Rp 11,493 miliar per hari.
Tag: #danantara #targetkan #negosiasi #utang #whoosh #rampung #kuartal #2026