Cerita Diana Kalera Merawat Tenun Sumba Tetap Lestari
Diana Kalera Lena (tengah)(DOC. BCA)
19:04
14 Februari 2026

Cerita Diana Kalera Merawat Tenun Sumba Tetap Lestari


Bagi perempuan Sumba, tenun bukan sekadar kain. Tenun adalah identitas yang melekat sejak lahir. Di balik setiap helai benang yang dirajut, tersimpan nilai budaya, status sosial, hingga kebanggaan keluarga.

Seorang perempuan Sumba tumbuh bersama alat tenun, belajar mengenal motif dan warna bahkan sebelum benar-benar memahami maknanya. Tak heran jika kemampuan menenun kerap dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari jati diri perempuan di tanah Sumba.

“Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” ujar Diana Kalera Lena, perempuan asli Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat berbincang dalam sebuah siniar di mini studio BCA Expoversary 2026 di Tangerang beberapa waktu lalu.

Baca juga: BCA Expoversary 2026 Bandung, Ada Promo Bunga KKB dan KPR Hanya 1,69 Persen

Ucapannya sederhana, tetapi sarat makna, dan seolah merangkum identitas, kebanggaan, sekaligus tanggung jawab budaya yang diwariskan turun-temurun.

Bagi Diana, menenun bukan sekadar keterampilan tangan. Ia adalah bagian dari napas kehidupan perempuan Sumba. Tradisi itu ditanamkan sejak kecil, menyatu dengan keseharian.

“Proses menenun dari tahapan awal sampai menjadi sehelai kain itu panjang sekali. Sejak usia enam tahun saya sudah membantu ibu, dan mulai menenun sendiri saat berusia 17 tahun,” tuturnya.

Di tanah kelahirannya, suara alat tenun bukan bunyi asing. Ia menjadi irama yang menemani pertumbuhan anak-anak perempuan Sumba menuju dewasa. Dari menggulung benang, mengikat motif, hingga meracik warna, semuanya dijalani dengan kesabaran dan ketekunan.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Luh Puspa menyambangi salah satu booth di area Bakti BCA pada gelaran BCA Expoversary 2026, Jumat (6/2/2026).KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Luh Puspa menyambangi salah satu booth di area Bakti BCA pada gelaran BCA Expoversary 2026, Jumat (6/2/2026).Komitmen perempuan-perempuan seperti Diana dalam menjaga warisan leluhur turut mendapat perhatian PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Melalui program pelatihan wastra warna alam, Bakti BCA menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI) untuk membina kelompok penenun di Sumba.

Diana menjadi salah satu peserta pertama dari komunitasnya yang bergabung dalam program tersebut. Pelatihan ini melibatkan 50 peserta dari empat komunitas, Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25 hingga 45 tahun.

Mayoritas adalah perempuan penenun, sementara para laki-laki turut mendukung ekosistem, terutama dalam pengembangan motif dan pengolahan bahan pewarna alami.

Baca juga: Dukung Pertumbuhan Ekonomi RI, BCA Expoversary 2026 Tebar Promo Properti hingga Otomotif

Diana tak hanya menjadi peserta. Ia juga menjadi penggerak. Setelah merasakan manfaat pelatihan, ia mengajak 13 perempuan dari desanya untuk ikut serta.

Menurutnya, salah satu hal paling berharga dari program tersebut adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan tentang pewarna alami—ilmu yang selama ini tidak terdokumentasi secara rapi meski berasal dari warisan nenek moyang.

“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari leluhur karena resepnya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA, kami diajarkan tentang pewarna alam secara lebih terstruktur,” ujarnya.

Sebelumnya, sebagian penenun masih mengandalkan pewarna sintetis karena keterbatasan pengetahuan dalam meracik warna alami. Melalui pelatihan ini, mereka diperkenalkan pada berbagai bahan dari alam, proses ekstraksi warna, hingga teknik penerapannya pada benang dan kain.

Hasilnya bukan sekadar kain yang indah. Ada nilai tambah yang lahir, baik dari sisi budaya maupun ekonomi. Pewarna alami memperkuat identitas wastra Sumba sekaligus menghadirkan praktik yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Diana, perubahan itu terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menenun kini bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi keluarga.

“Saya sudah merasakan manfaatnya. Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk membiayai sekolah anak. Warisan budaya ini tentu harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” katanya.

Ia berharap, tenun Sumba ke depan tidak hanya dikenal sebagai cenderamata atau perlengkapan upacara adat seperti pernikahan dan kematian, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang lebih luas dan mampu bersaing di pasar modern.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, Program Bakti BCA berupaya memberikan dampak yang berkelanjutan, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi komunitas.

Hera bilang, para penenun Sumba adalah tangan-tangan yang menjaga warisan budaya Indonesia. Karena itu, mereka perlu mendapatkan dukungan agar keahlian yang dimiliki tetap lestari sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.

“Melalui program pembinaan ini, kami ingin memastikan keahlian para penenun tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern,” kata Hera.

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, Diana dan para penenun Sumba memilih tetap setia pada benang-benang tradisi. Di tangan mereka, sehelai kain bukan hanya hasil karya, melainkan cerita tentang identitas, ketekunan, dan harapan yang terus ditenun dari generasi ke generasi.

“Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para pengrajin lokal,” tegas Hera.

Tag:  #cerita #diana #kalera #merawat #tenun #sumba #tetap #lestari

KOMENTAR