Roadmap Logam Tanah Jarang, Kunci Daya Saing RI?
China memanfaatkan dominasi penambangan dan pengolahan logam tanah jarangnya sebagai alat geopolitik.(AP PHOTO via DW INDONESIA)
19:12
13 Februari 2026

Roadmap Logam Tanah Jarang, Kunci Daya Saing RI?

— Dorongan penyusunan roadmap nasional Logam Tanah Jarang (LTJ) menguat di tengah ketidakpastian rantai pasok global mineral kritis.

Kejelasan arah kebijakan dinilai menjadi kunci agar Indonesia mampu membangun industri strategis bernilai tambah tinggi dan tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah.

“Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan Logam Tanah Jarang, namun diperlukan roadmap nasional yang terintegrasi agar pengelolaannya tidak berjalan parsial dan mampu memberikan nilai tambah yang optimal bagi industri nasional,” ujar Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dewi Yustisiana, melalui keterangannya, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Eksplorasi, Kunci Indonesia Masuk Rantai Pasok Logam Tanah Jarang

Menurut Dewi, meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral berbasis teknologi tinggi harus direspons dengan kebijakan yang jelas, terarah, dan berbasis data.

Ia menilai, pengelolaan LTJ perlu didukung inventori nasional yang akurat serta penguatan riset dan koordinasi lintas sektor agar ekosistem industri bernilai tambah dapat tumbuh di dalam negeri.

Roadmap LTJ, lanjut dia, akan memberikan kepastian arah hilirisasi mineral sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pengembangan industri strategis nasional.

Baca juga: AS dan Malaysia Sepakati Kerja Sama Penjualan Logam Tanah Jarang

Kejelasan kebijakan dinilai menjadi faktor kunci dalam mendorong investasi berkualitas dan penguatan kapasitas teknologi nasional.

Di sisi lain, Dewi mengingatkan agar pengembangan LTJ tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan dan tata kelola yang baik.

Penguatan industri mineral strategis, menurutnya, harus berjalan selaras dengan perlindungan ekosistem serta manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Baca juga: China Tunda Aturan Ekspor Logam Tanah Jarang dan Lanjutkan Impor Kedelai AS

Ketegangan Global dan Momentum Indonesia

Isu kemandirian LTJ juga mencuat di tengah memanasnya persaingan dagang Amerika Serikat dan China.

Presiden AS Donald Trump mengancam tarif impor hingga 100 persen terhadap produk asal China mulai 1 November 2025, dengan ketergantungan pasokan LTJ sebagai salah satu pemicu.

Lebih dari 60 persen pasokan bijih LTJ dunia berasal dari China dan lebih dari 90 persen proses pemurniannya dilakukan di negara tersebut, menjadikan posisi negara itu dominan dalam rantai pasok global.

“Permintaan logam tanah jarang diperkirakan tumbuh 50 sampai 60 persen pada 2040 dan akan melampaui pasokan,” ujar Edi Permadi, Tenaga Profesional Lemhannas RI, dikutip Senin (13/10/2025) lalu.

“Salah satu pendorong utamanya adalah kebutuhan magnet permanen untuk kendaraan listrik dan teknologi maju,” lanjut dia.

Di tengah dinamika tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang menjadi pemain baru karena potensi LTJ ditemukan sebagai mineral ikutan pada tambang timah, bauksit, nikel, hingga batuan granit.

Presiden Prabowo Subianto disebut mendorong pengembangan LTJ melalui PT Timah Tbk (TINS) yang telah memiliki cadangan monasit dan membangun pilot plant pengolahan LTJ di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, bersama MIND ID.

“Dibutuhkan peta jalan pengembangan mineral dan LTJ dari hulu ke hilir untuk mendukung kemandirian mineral strategis nasional,” kata Edi.

Menurut dia, pengembangan LTJ harus dimulai dari eksplorasi sesuai standar nasional dan internasional, pembangunan fasilitas pemurnian, hingga industri hilir berbasis LTJ, dengan dukungan regulasi dan koordinasi lintas kementerian agar berkelanjutan.

Tag:  #roadmap #logam #tanah #jarang #kunci #daya #saing

KOMENTAR