Wall Street Anjlok, Disrupsi AI dan Ancaman PHK Jadi Biang Kerok
Ilustrasi Wall Street, bursa saham AS New York Stock Exchange. (UNSPLASH/DAVID VIVES)
08:04
13 Februari 2026

Wall Street Anjlok, Disrupsi AI dan Ancaman PHK Jadi Biang Kerok

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kompak melemah pada Kamis (12/2/2026) di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak negatif ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Teknologi yang sebelumnya dipuja sebagai mesin pertumbuhan baru itu kini justru dipandang sebagai ancaman bagi model bisnis banyak industri dan berpotensi memicu lonjakan pengangguran.

Mengutip CNBC, Jumat (14/2/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot 669,42 poin atau 1,34 persen ke level 49.451,98. Tekanan terbesar datang dari saham Cisco Systems yang anjlok 12 persen setelah produsen perangkat jaringan itu memberikan proyeksi kinerja kuartal berjalan yang mengecewakan.

Indeks S&P 500 ikut turun 1,57 persen ke 6.832,76, sedangkan Nasdaq Composite, yang sarat saham teknologi, terkoreksi lebih dalam, yakni 2,03 persen ke 22.597,15.

Baca juga: Wall Street Terkoreksi Meski Data Pekerja AS Januari Solid

Sepanjang tahun ini, sejumlah sektor mulai terpukul setelah berbagai perangkat berbasis AI dirilis ke pasar. Investor khawatir teknologi tersebut bisa menggantikan sebagian fungsi bisnis tradisional atau setidaknya menggerus margin keuntungan.

Saham sektor keuangan seperti Morgan Stanley tertekan karena muncul kekhawatiran AI dapat mendisrupsi bisnis manajemen kekayaan. Di sektor transportasi, saham perusahaan logistik C.H.

Robinson bahkan ambles 14 persen akibat kekhawatiran AI akan membuat operasional pengiriman barang lebih efisien, namun sekaligus menekan pendapatan.

Dampaknya menjalar hingga ke sektor properti. Saham CBRE dan SL Green Realty melemah karena investor menilai potensi kenaikan pengangguran dapat mengurangi permintaan ruang kantor.

Sektor perangkat lunak yang sebelumnya menjadi bintang reli teknologi juga belum lepas dari tekanan. Saham Palantir Technologies turun hampir 5 persen dan telah terkoreksi lebih dari 27 persen sejak awal tahun. Saham Autodesk merosot hampir 4 persen, dengan pelemahan tahunan sekitar 24 persen.

ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) turun hampir 3 persen dan kini sudah sekitar 31 persen di bawah level puncaknya, setelah masuk fase bear market bulan lalu.

“AI yang dulu mendorong saham-saham ini melesat dengan valuasi tinggi, kini justru menjadi faktor yang menahan laju mereka,” ujar Jay Woods, chief market strategist Freedom Capital Markets.

Sentimen negatif semakin kuat setelah harga perak, yang sempat menjadi favorit investor ritel, anjlok 10 persen. Kondisi ini mempertegas sikap pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off).

Baca juga: Wall Street Bangkit dari Tekanan, Saham Teknologi Jadi Penopang Utama

Di tengah tekanan tersebut, investor beralih ke saham defensif. Saham Walmart naik 3,8 persen dan Coca-Cola menguat 0,5 persen.

Sektor kebutuhan pokok (consumer staples) dan utilitas menjadi penopang utama S&P 500 dengan kenaikan masing-masing lebih dari 1 persen.

Bahkan, sektor consumer staples mencetak rekor penutupan tertinggi baru.

Sebelumnya, pasar sempat menguat berkat laporan ketenagakerjaan yang solid. Namun optimisme itu memudar setelah revisi data menunjukkan tidak ada pertumbuhan lapangan kerja pada paruh kedua 2025. Hal ini memicu keraguan apakah pemulihan tenaga kerja benar-benar berkelanjutan.

Pelaku pasar kini menanti laporan inflasi Januari yang akan dirilis Jumat. Ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,3 persen, baik untuk angka utama maupun inti.

Menurut Ross Mayfield, investment strategist di Baird, data inflasi saat ini tidak sepenting sebelumnya karena laporan tenaga kerja yang kuat memberi ruang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk menahan suku bunga lebih lama.

“Data inflasi (CPI) saat ini menjadi sedikit kurang penting setelah kita mendapatkan angka ketenagakerjaan yang kuat, karena hal itu sudah memberi ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga dalam jangka waktu yang cukup lama,” kata Ross.

Namun, jika inflasi jauh lebih tinggi dari perkiraan, pasar saham dan kontrak berjangka suku bunga bisa kembali bergejolak. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah, pasar berpotensi kembali mengambil risiko.

Tag:  #wall #street #anjlok #disrupsi #ancaman #jadi #biang #kerok

KOMENTAR