India Hapus Tarif Produk Industri AS, Trump Tetapkan Tarif 18 Persen
- Amerika Serikat (AS) dan India mengumumkan telah mencapai kerangka kesepakatan untuk Perjanjian Sementara (Interim Agreement) terkait perdagangan yang bersifat timbal balik dan saling menguntungkan.
Kerangka ini menegaskan kembali komitmen kedua negara dalam negosiasi Perjanjian Perdagangan Bilateral AS–India (Bilateral Trade Agreement/BTA) yang diluncurkan pada 13 Februari 2025 oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Dalam pernyataan resmi Gedung Putih yang dikutip pada Sabtu (7/2/2026), kedua negara menyebut Interim Agreement tersebut sebagai tonggak bersejarah dalam kemitraan AS–India.
Baca juga: Trump Cabut Tarif Tambahan 25 Persen untuk India
Ilustrasi tarif Trump. Presiden Prabowo dan Presiden Trump sepakat menurunkan tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen.
Ini mencerminkan komitmen terhadap perdagangan yang timbal balik dan seimbang berdasarkan kepentingan bersama serta hasil yang konkret.
Penghapusan dan penyesuaian tarif
Berdasarkan kerangka yang diumumkan, India akan menghapus atau menurunkan tarif atas seluruh produk industri asal AS serta berbagai produk pangan dan pertanian AS.
Produk yang dimaksud antara lain dried distillers’ grains (DDGs), sorgum merah untuk pakan ternak, kacang pohon, buah segar dan olahan, minyak kedelai, anggur dan minuman beralkohol, serta sejumlah produk lainnya.
Di sisi lain, AS akan menerapkan tarif timbal balik sebesar 18 persen terhadap barang asal India berdasarkan Executive Order 14257 tertanggal 2 April 2025, sebagaimana telah diubah.
Baca juga: India Siap Rogoh Rp 1.348 Triliun untuk Pesan Pesawat Boeing
Kebijakan tersebut mencakup produk tekstil dan pakaian jadi, kulit dan alas kaki, plastik dan karet, bahan kimia organik, dekorasi rumah, produk kerajinan, serta mesin tertentu.
Namun, dengan catatan keberhasilan finalisasi Interim Agreement, AS akan menghapus tarif timbal balik untuk berbagai barang yang tercantum dalam Potential Tariff Adjustments for Aligned Partners Annex pada Executive Order 14346 tertanggal 5 September 2025, sebagaimana telah diubah.
Ilustrasi Bendera India. Daftar negara dengan penduduk terbanyak di dunia 2024.
Produk yang berpotensi mendapatkan penghapusan tarif tersebut meliputi obat generik, permata dan berlian, serta suku cadang pesawat.
Selain itu, AS juga akan mencabut tarif atas pesawat dan suku cadang pesawat asal India yang sebelumnya dikenakan berdasarkan Proclamation 9704 (aluminium), Proclamation 9705 (baja), dan Proclamation 10962 (tembaga), yang diberlakukan dengan alasan keamanan nasional.
Baca juga: India dan AS Capai Kesepakatan Dagang, Tarif Turun Jadi 18 Persen
Secara timbal balik, India akan memperoleh tarif kuota preferensial untuk suku cadang otomotif yang dikenakan tarif berdasarkan Proclamation 9888 terkait impor mobil dan suku cadang otomotif ke AS.
Di samping itu, bergantung pada hasil investigasi Section 232 AS terhadap farmasi dan bahan baku farmasi, India akan menerima hasil negosiasi terkait obat generik dan bahan bakunya.
Akses pasar dan aturan asal barang
Kedua negara berkomitmen memberikan akses pasar preferensial secara berkelanjutan di sektor-sektor yang menjadi kepentingan masing-masing pihak.
AS dan India juga akan menetapkan aturan asal barang (rules of origin) guna memastikan manfaat perjanjian terutama dinikmati oleh kedua negara.
Baca juga: Ekspor Batu Bara RI Diprediksi Menurun, Permintaan China dan India Melandai
Selain tarif, kedua negara sepakat untuk menangani hambatan non-tarif yang memengaruhi perdagangan bilateral.
India menyatakan akan menangani hambatan lama dalam perdagangan alat kesehatan AS, menghapus prosedur perizinan impor yang restriktif terhadap produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) asal AS, serta dalam waktu enam bulan sejak perjanjian berlaku akan menentukan apakah standar yang dikembangkan di AS atau standar internasional, termasuk persyaratan pengujian, dapat diterima untuk ekspor AS di sektor-sektor tertentu.
Hingga kini, setidaknya 22 negara, termasuk Indonesia, telah menyetujui dan bergabung dengan Dewan Perdamaian yang diinisiasi Donald Trump tersebut.
India juga menyatakan akan menangani hambatan non-tarif yang telah lama dikeluhkan dalam perdagangan produk pangan dan pertanian AS.
Untuk meningkatkan kemudahan kepatuhan terhadap regulasi teknis, kedua negara berencana membahas standar dan prosedur penilaian kesesuaian masing-masing di sektor yang disepakati bersama.
Baca juga: India Geser Jepang, Kini Jadi Ekonomi Terbesar Keempat di Dunia
Dalam hal terjadi perubahan tarif yang telah disepakati oleh salah satu negara, kedua pihak menyatakan bahwa negara lainnya dapat menyesuaikan komitmennya.
Penguatan keamanan ekonomi dan rantai pasok
AS dan India juga akan memperluas peluang akses pasar melalui negosiasi lanjutan BTA. AS menegaskan akan mempertimbangkan permintaan India agar AS terus berupaya menurunkan tarif atas barang-barang asal India dalam proses negosiasi BTA.
Kedua negara sepakat memperkuat penyelarasan keamanan ekonomi untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok dan inovasi melalui langkah-langkah komplementer dalam menghadapi kebijakan non-pasar pihak ketiga.
Kerja sama juga mencakup peninjauan investasi masuk dan keluar serta pengendalian ekspor.
Baca juga: Siapa Raja Ekspor Beras Dunia 2025? India di Posisi Teratas
Komitmen pembelian barang dari AS senilai 500 miliar dollar AS
Sebagai bagian dari kerangka kerja sama tersebut, India menyatakan niat untuk membeli produk energi, pesawat dan suku cadang pesawat, logam mulia, produk teknologi, serta batu bara kokas dari AS senilai 500 miliar dollar AS dalam lima tahun ke depan.
Dengan asumsi kurs Rp 16.850 per dollar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 8.425 triliun.
Kedua negara juga akan meningkatkan secara signifikan perdagangan produk teknologi, termasuk Graphics Processing Units (GPU) dan berbagai barang yang digunakan di pusat data, serta memperluas kerja sama teknologi bersama.
Ilustrasi ekspor.
Di bidang perdagangan digital, AS dan India berkomitmen menangani praktik diskriminatif atau memberatkan serta hambatan lain terhadap perdagangan digital.
Baca juga: Microsoft Bakal Investasi Rp 292 Triliun untuk Infrastruktur AI India
Keduanya akan menyusun jalur yang jelas untuk mencapai aturan perdagangan digital yang kuat, ambisius, dan saling menguntungkan sebagai bagian dari BTA.
AS dan India menyatakan akan segera mengimplementasikan kerangka tersebut dan bekerja menuju finalisasi Interim Agreement, dengan tujuan menyelesaikan Perjanjian Perdagangan Bilateral yang saling menguntungkan sesuai peta jalan yang telah disepakati dalam Terms of Reference.
Tag: #india #hapus #tarif #produk #industri #trump #tetapkan #tarif #persen