Dirut BEI Mundur, OJK Tegaskan Pertemuan dengan MSCI Tidak Terganggu
Konferensi pers OJK dan BEI di Jakarta, Kamis (29/1/2026) membahas soal aturan free float 15 persen hingga exit policy agar emiten RI tetap di MSCI. (KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
16:04
30 Januari 2026

Dirut BEI Mundur, OJK Tegaskan Pertemuan dengan MSCI Tidak Terganggu

Pengunduran diri Iman Rachman dari kursi Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar.

Sorotan tertuju pada keberlanjutan agenda strategis bursa, terutama rencana pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan agenda pertemuan BEI dengan MSCI tetap berjalan sesuai rencana.

Regulator menegaskan, perubahan di pucuk pimpinan tidak mengganggu agenda yang telah disusun sebelumnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan seluruh agenda tetap dijalankan.

“Tentunya yang kemarin, yang hari Senin segala macam itu akan tetap kita jalankan,” ujar Inarno saat konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Baca juga: Mekanisme dan Aturan Teknis Pemilihan Dirut BEI

Inarno menjelaskan, pertemuan tetap berlangsung meski belum ada direktur utama definitif. Jajaran Direksi BEI akan mewakili, termasuk Pelaksana Tugas Direktur Utama yang segera ditunjuk.

“Direksi kan. Tapi kan ada juga penggantinya, Plt-nya,” katanya.

Proses penunjukan Plt Direktur Utama BEI saat ini tengah berjalan. Mekanisme pengisian jabatan tersebut telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BEI. Penunjukan dilakukan oleh Board of Directors sesuai ketentuan yang berlaku.

OJK menyebut fokus utama regulator berada pada penanganan seluruh perhatian dan kekhawatiran MSCI terhadap pasar modal Indonesia.

OJK bersama BEI dan pemangku kepentingan lain berkomitmen mengawal proses perbaikan hingga tuntas.

“Terkait dengan concern daripada MSCI, kami akan kawal. Jadi sebelum Mei, insya Allah semuanya itu bisa terselesaikan,” ujar Inarno.

Baca juga: Apa Itu MSCI dan Mengapa Peringatannya Mengguncang IHSG?

Pengunduran diri Iman Rachman terjadi di tengah tekanan di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam selama dua hari perdagangan beruntun.

Situasi ini membuat investor mencermati kesinambungan kepemimpinan BEI serta efektivitas komunikasi dengan lembaga pengelola indeks global seperti MSCI.

OJK mengambil peran aktif untuk menjaga posisi saham emiten Indonesia di indeks MSCI. Regulator merespons keputusan MSCI yang menangguhkan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Tanah Air.

Langkah yang disiapkan mencakup pembenahan transparansi data free float emiten, penetapan batas minimal free float 15 persen, serta penyiapan exit policy bagi perusahaan publik yang tidak memenuhi ketentuan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menilai kebijakan MSCI tersebut sebagai masukan konstruktif.

MSCI dinilai tetap menunjukkan minat memasukkan saham Indonesia ke dalam indeks global.

“OJK menerima penjelasan itu sebagai masukan yang baik. Karena kami melihat bahwa lembaga itu tetap ingin memasukkan saham-saham emiten dari Indonesia dalam indeks global. Yang menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sangat potensial dan investable bagi investor internasional,” ujar Mahendra.

Sebagai tindak lanjut, OJK mengawal penyesuaian metodologi perhitungan free float yang disiapkan BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia. Penyesuaian tersebut telah dipublikasikan dan sedang dikaji MSCI.

Penyesuaian mencakup pengecualian kepemilikan saham kategori corporate dan others dari perhitungan free float. Selain itu, kepemilikan saham di atas dan di bawah 5 persen akan dipublikasikan untuk setiap kategori investor.

“Menindaklanjuti proposal ataupun penyesuaian yang sudah dilakukan oleh Bursa dan KSEI yang sudah dipublikasikan dan saat ini sedang dipelajari oleh MSCI, apakah sesuai dengan yang dibutuhkan mereka,” ujar Mahendra.

“Mengecualikan investor dalam kategori corporate dan others dalam perhitungan free float dengan kemudian mempublikasikan kepemilikan saham di atas dan di bawah 5 persen untuk setiap kategori pemilikan tadi itu,” lanjutnya.

Mahendra memastikan proses tersebut bersifat berkelanjutan. Jika diperlukan perbaikan lanjutan, regulator akan menyelesaikannya hingga sesuai dengan standar MSCI.

OJK juga memenuhi permintaan tambahan MSCI terkait keterbukaan kepemilikan saham di bawah 5 persen. Data akan disajikan dengan klasifikasi investor dan struktur kepemilikan yang lebih rinci, mengacu pada praktik internasional.

Langkah lain berupa rencana penerbitan aturan baru oleh Self-Regulatory Organization pasar modal terkait batas minimal free float 15 persen. Aturan ini akan diberlakukan dalam waktu dekat dengan pengawasan ketat.

Emiten yang tidak memenuhi ketentuan dalam jangka waktu tertentu akan dikenakan exit policy melalui mekanisme pengawasan terukur.

“SRO akan menerbitkan aturan untuk free float minimal 15 persen yang akan dilakukan dalam waktu dekat dan dengan transparansi yang baik. Dan bagi emiten atau perusahaan publik yang dalam jangka waktu tertentu ditentukan nanti dalam pengaturan tersebut tidak dapat memenuhinya, maka akan diberikan exit policy melalui proses pengawasan yang baik,” kata Mahendra.

Secara struktural, OJK juga menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan regulasi demutualisasi bursa. Aturan tersebut ditargetkan terbit pada kuartal I/2026 dan diharapkan memperkuat tata kelola serta profesionalisme pengelolaan bursa.

Seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari upaya OJK mengawal reformasi pasar modal nasional. Regulator menargetkan penyempurnaan regulasi dan implementasi berjalan efektif serta setara dengan standar internasional, agar posisi saham Indonesia di indeks global tetap terjaga.

Tag:  #dirut #mundur #tegaskan #pertemuan #dengan #msci #tidak #terganggu

KOMENTAR