Wall Street Ditutup Bervariasi, S&P 500 Cetak Rekor ATH, Ditopang Saham Teknologi
Ilustrasi Wall Street, bursa saham AS New York Stock Exchange.(UNSPLASH/ADITYA VYAS)
07:16
28 Januari 2026

Wall Street Ditutup Bervariasi, S&P 500 Cetak Rekor ATH, Ditopang Saham Teknologi

Beberapa indeks saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Selasa (27/1/2026) waktu setempat, dengan S&P 500 mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).

Mengutip CNBC pada Rabu (28/1/2026), penguatan indeks acuan ditopang oleh kinerja saham-saham teknologi raksasa (big tech), di tengah pelaku pasar yang menanti rilis laporan keuangan emiten teknologi, sekaligus bersiap menghadapi keputusan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) tahun ini.

S&P 500 menguat 0,41 persen dan ditutup di level 6.978,60.

Nasdaq Composite naik lebih kuat, menguat 0,91 persen ke posisi 23.817,10.

Baca juga: Wall street Ditutup Menguat, Ditopang Saham Teknologi Utama

Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru tertekan dengan penurunan 408,99 poin atau 0,83 persen ke level 49.003,41.

Pelemahan Dow Jones terutama dipicu anjloknya saham UnitedHealth yang merosot hampir 20 persen.

Dari sektor teknologi, saham Apple naik lebih dari 1 persen, sementara Microsoft menguat lebih dari 2 persen.

Hingga akhir pekan ini, lebih dari 90 emiten anggota S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja keuangan.

Sejumlah perusahaan teknologi besar, seperti Meta Platforms, Microsoft, dan Tesla, akan mengumumkan laporan keuangan pada Rabu, sementara Apple menyusul pada Kamis.

Manajer portofolio senior Globalt Investments, Thomas Martin, mengatakan perhatian investor kini tertuju pada segala hal yang dapat memberi gambaran mengenai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Menurutnya, pasar akan mencermati seberapa besar belanja modal dan operasional perusahaan, serta bagaimana strategi mereka dalam memonetisasi teknologi AI. “Fokusnya akan pada komentar perusahaan, termasuk berapa besar dana yang mereka belanjakan, baik untuk belanja modal (capex) maupun belanja operasional (opex),” katanya.

Kekhawatiran terhadap valuasi saham yang dinilai sudah terlalu mahal sempat membayangi saham-saham unggulan bertema AI pada akhir tahun lalu, seiring munculnya kekhawatiran akan potensi gelembung teknologi.

Meski demikian, Martin menilai minat investor terhadap AI masih akan bertahan, setidaknya dalam beberapa tahun ke depan, meskipun masih ada pertanyaan mengenai tingkat imbal hasil investasinya. “AI tidak akan hilang. Pembangunan pusat data tidak akan berhenti. Penggunaannya, pemanfaatan model, kemunculan agen, robotika, dan berbagai pengembangan lainnya akan terus berlanjut,” ucap Martin.

Ia menyebut meski dampak AI terhadap pasar bisa bergerak naik-turun, arah pergerakannya tetap cenderung positif.

Di luar sektor teknologi, saham-saham perusahaan asuransi kesehatan menjadi pemberat pasar.

Tekanan muncul setelah otoritas Centers for Medicare & Medicaid Services mengusulkan kenaikan pembayaran untuk program Medicare Advantage dengan rata-rata bersih hanya 0,09 persen pada 2027.

Saham Humana anjlok 21 persen, sedangkan CVS Health melemah 14 persen.

Sementara itu, perhatian pelaku pasar pekan ini juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter The Fed yang akan diumumkan Rabu.

Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Meski begitu, investor akan mencermati setiap sinyal terkait waktu pemangkasan suku bunga ke depan.

Berdasarkan kontrak berjangka suku bunga dana Fed, pasar masih memperkirakan peluang dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin hingga akhir 2026.

Tag:  #wall #street #ditutup #bervariasi #cetak #rekor #ditopang #saham #teknologi

KOMENTAR