BUMI vs CDIA, Saham Mana yang Lebih Siap Masuk MSCI Standard Index?
Ilustrasi perdagangan sesi I IHSG hari ini [Ist/Antara]
12:25
27 Januari 2026

BUMI vs CDIA, Saham Mana yang Lebih Siap Masuk MSCI Standard Index?

Baca 10 detik
  • MSCI akan mengumumkan evaluasi indeks global pada Februari 2026, di mana BUMI dan CDIA menjadi kandidat populer.
  • BUMI dinilai paling siap secara statistik karena kapitalisasi pasar investabelnya melampaui syarat Standard Index Indonesia.
  • CDIA memiliki kapitalisasi besar namun terhambat oleh porsi *free float* rendah, sehingga lebih berpeluang di Small Cap.

Jelang pengumuman evaluasi indeks global dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Februari 2026, antusiasme pelaku pasar modal di Indonesia kembali memuncak.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) jadi dua diantara saham-saham yang santer diwartakan masuk list.

Meskipun pergerakan harga dan volume transaksi dua saham konglomerat ini terlihat mencolok di lantai bursa, masuk ke dalam jajaran indeks bergengsi ini bukanlah perkara popularitas.

Penting bagi investor untuk memahami bahwa MSCI beroperasi dengan metodologi yang sangat ketat dan berlapis. 

Dua saham ini tidak sekadar melihat emiten mana yang sedang "ramai" dibicarakan, melainkan melakukan penyaringan melalui data angka yang kaku.

Ukuran kapitalisasi pasar yang besar saja tidak cukup, likuiditas yang tinggi juga belum menjamin kelolosan. 

BUMI: Kesiapan Statistik Menuju Standard Index

Jika menilik data secara mendalam, emiten pertambangan batu bara BUMI menunjukkan posisi yang paling matang secara statistik untuk masuk ke dalam Standard Index.

Berdasarkan angka terkini, total kapitalisasi pasar penuh BUMI telah menyentuh angka sekitar Rp123,28 triliun, atau setara dengan USD 7,29 miliar.

Angka ini secara fundamental telah melampaui ambang batas referensi global untuk Standard Index yang berada di kisaran USD 7,15 miliar.

PT BUMI Resources Tbk [Suara.com/BUMI-HO Ist] PerbesarPT BUMI Resources Tbk [Suara.com/BUMI-HO Ist]

Namun, faktor penentu sebenarnya ada pada nilai kapitalisasi pasar yang bisa diinvestasikan (investable market cap).

Dengan porsi free float sebesar 32,53% (yang dalam metodologi MSCI dibulatkan menjadi faktor 0,35), nilai yang benar-benar bisa diakses oleh investor institusi global mencapai USD 2,55 miliar.

Angka ini jauh di atas syarat praktis masuk Standard Index untuk pasar Indonesia yang secara historis berada di level USD 1,78 miliar.

Dukungan likuiditas BUMI juga terpantau sangat solid. Lonjakan Value MA 20 yang menembus Rp3,18 triliun dibandingkan MA 200 di angka Rp908 miliar mengindikasikan adanya akselerasi transaksi yang kuat.

Dengan tren ini, skor ATVR (Annualized Traded Value Ratio) BUMI diprediksi akan dengan mudah melewati syarat minimum 15%, menjadikannya kandidat paling siap secara kuantitatif.

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)

Sedikit berbeda dengan BUMI,pada sisi kapitalisasi pasar total, CDIA sebenarnya tampak lebih perkasa dengan nilai mencapai Rp170 triliun atau sekitar USD 10,04 miliar.

Angka ini jauh di atas standar minimum MSCI. Namun, masalah utama CDIA terletak pada struktur kepemilikan sahamnya.

Porsi saham publik atau free float CDIA tercatat hanya sebesar 9,97%, sehingga faktor inklusi asing efektifnya hanya berada di angka 0,10.

Dalam metodologi MSCI yang kaku, kondisi low float seperti ini memicu pemberlakuan penalti sebesar 1,8 kali lipat dari syarat modal normal.

Pabrik Kimia milik Chandra Asri. [Dokumentasi TPIA]. PerbesarSebagai Ilustrasi - Pabrik Kimia milik Chandra Asri. [Dokumentasi TPIA].

Akibatnya, ambang batas investable market cap yang harus dipenuhi CDIA melonjak menjadi USD 3,22 miliar.

Realitanya, dengan struktur saat ini, nilai kapitalisasi efektif CDIA hanya berada di kisaran USD 1,00 miliar—terpaut sangat jauh dari target yang disyaratkan.

Selain itu, momentum likuiditas CDIA juga menunjukkan pelemahan, di mana Value MA 20 sebesar Rp208 miliar berada di bawah MA 200 sebesar Rp449 miliar.

Dengan data ini, CDIA terlihat lebih berpeluang masuk ke kategori Small Cap dibandingkan menjadi penantang di Standard Index.

Kesimpulan

Ketika kedua emiten ini disejajarkan dalam garis waktu menuju periode cutoff data MSCI, polanya terlihat semakin jelas. BUMI telah berada di zona aman, baik dari sisi ukuran maupun likuiditas.

Tugas utama BUMI saat ini adalah menjaga agar harga saham dan volume transaksi tidak mengalami kejatuhan yang drastis sebelum periode evaluasi berakhir.

Di sisi lain, CDIA untuk bisa masuk ke Standard Index tanpa mengubah struktur kepemilikan atau melakukan aksi korporasi yang menambah free float, kapitalisasi pasar penuh CDIA harus meroket.

Secara statistik, hanya BUMI yang memiliki probabilitas tinggi untuk menjadi anggota baru MSCI Global Standard Index pada evaluasi Februari 2026 mendatang. 


DISCLAIMER: Pergerakan harga saham dan potensi masuknya emiten ke dalam indeks global seperti MSCI bersifat dinamis serta sangat dipengaruhi oleh perubahan metodologi internal MSCI dan kondisi pasar modal. Analisis ini disusun sebagai informasi berita bisnis dan bukan merupakan jaminan bahwa emiten tersebut pasti akan masuk atau keluar dari indeks tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi investor dengan mempertimbangkan risiko volatilitas pasar.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #bumi #cdia #saham #mana #yang #lebih #siap #masuk #msci #standard #index

KOMENTAR