IBC Sebut Pertumbuhan Ekonomi Tidak Cukup Bertumpu pada Investasi Saja
CEO Indonesian Business Council (IBC) Sofyan Djalil menegaskan bahwa strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada investasi semata.
Sofyan mengatakan bahwa peran investasi negara dalam perekonomian Indonesia relatif terbatas.
Menurutnya, dinamika global yang semakin volatil, disertai percepatan teknologi yang luar biasa cepat, menuntut model pertumbuhan ekonomi yang lebih adaptif dan relevan dengan realitas baru.
“Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi tentu tidak cukup kita mengarahkan kepada investasi negara,” kata Sofyan di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, dunia saat ini tengah menghadapi perubahan besar, termasuk kekhawatiran akan pesatnya perkembangan teknologi dan otomatisasi.
Sofyan menyinggung isu robotisasi yang diprediksi dapat menggantikan puluhan juta pekerjaan hingga 2040. “Dari yang kita tahu dunia sangat volatile dan teknologi bergerak sangat-sangat cepat. Bahkan banyak orang mulai sangat khawatir tentang robot,” katanya.
Menurutnya, implikasi dari perubahan tersebut harus diantisipasi sejak dini melalui kebijakan ekonomi yang mempertimbangkan realitas global dan masa depan dunia kerja.
“Oleh sebab itu kebijakan ekonomi yang harusnya diadopsi semua negara adalah yang mempertimbangkan realitas ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sofyan memaparkan bahwa kontribusi negara dalam ekonomi Indonesia hanya sekitar 15 persen, sementara 85 persen lainnya digerakkan oleh sektor swasta dan masyarakat luas, mulai dari pengusaha besar, pelaku UMKM, hingga wirausaha individu.
Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama pertumbuhan jangka panjang.
“Kalau kita tidak meningkatkan produktivitas maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi tantangan. Karena kunci sebuah kemajuan bangsa adalah produktivitas,” ujarnya.
Menurut Sofyan, produktivitas tercipta dari nilai tambah yang dihasilkan setiap hari oleh seluruh pelaku ekonomi.
Semakin tinggi kualitas nilai tambah tersebut, semakin kuat pula fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, upaya meningkatkan produktivitas tidak bisa dilepaskan dari kepastian hukum dan kesetaraan di hadapan hukum. Ia menegaskan, kepastian inilah yang menjadi faktor utama bagi investor.
“Kuncinya investasi, dan kemudian kuncinya adalah kepastian bahwa mereka bawa uang kemarin, bahwa uangnya itu akan terjamin, dan mereka bisa prediksi terhadap risiko yang sudah ada,” tegas Sofyan.
Forum Indonesia Economic Summit 2026
IBC menggagas forum Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang akan digelar pada 3–4 Februari 2026 di Hotel Shangri-La.
Forum tersebut akan mempertemukan pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan tokoh global untuk mendorong reformasi ekonomi serta memperkuat pertumbuhan berkelanjutan Indonesia.
IES 2026 akan menghadirkan sekitar 100 pembicara dari Indonesia dan berbagai negara.
Dari dalam negeri, forum ini akan dihadiri antara lain oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional.
Selain itu, sejumlah menteri, wakil menteri, kepala badan, hingga perwakilan Danantara.
Dari internasional, hadir pula pimpinan lembaga global, investor, dan sovereign wealth fund dari Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Utara, termasuk perwakilan Bank Dunia, OECD, ADB, AIIB, EIB, serta sovereign fund seperti Khazanah dan Mubadala.
“Oleh karena itu, forum ini akan membahas tentang model pertumbuhan ekonomi yang fit untuk Indonesia dengan mempertimbangkan realitas baru yang saya sebutkan tadi,” tegas Sofyan.
Tag: #sebut #pertumbuhan #ekonomi #tidak #cukup #bertumpu #pada #investasi #saja