Cita-cita RI Setop Impor Solar, Bensin dan Avtur
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (22/1/2026). (KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)
13:12
23 Januari 2026

Cita-cita RI Setop Impor Solar, Bensin dan Avtur

- Pemerintah berencana menyetop impor gasoil atau solar, gasoline atau bensin, dan avtur untuk mewujudkan kemandirian energi.

Pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional nantinya akan mengandalkan produksi dalam negeri.

Cita-cita RI bisa menyetop impor BBM itu diungkapkan dalam berbagai kesempatan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Terbaru, dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1/2026), Bahlil menyebut dalam tahap awal pemerintah menyetop impor solar jenis CN48 mulai tahun ini.

Lalu berlanjut ke solar CN51 pada semester II-2026. "Pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar," ujar Bahlil.

Ambisi menyetop impor solar tersebut didukung kebijakan mandatori biodiesel dan beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada tahun ini.

Ia menuturkan, konsumsi solar nasional mencapai 38 juta kiloliter (KL) per tahun, sementara produksi dalam negeri berkisar 14-16 juta KL per tahun.

Artinya, ada gap kebutuhan solar yang perlu dipenuhi.

Bahlil bilang, gap itu dipenuhi melalui penerapan biodiesel yang saat ini sudah mencapai B40, yakni campuran 40 persen fatty acid methyl ester atau FAME berbasis minyak sawit dan 60 persen solar.

Dengan skema ini, sebagian kebutuhan solar digantikan oleh FAME, sehingga ketergantungan terhadap impor solar dapat dikurangi.

Menurut Bahlil, melalui kebijakan biodiesel yang dibarengi beroperasinya RDMP Balikpapan, kebutuhan solar nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Bahkan, RI berpotensi mengalami surplus sekitar 1,4 juta kiloliter (KL). "Oleh karena kita surplus 1,4 juta KL, maka 2026 kita tidak lagi kita melakukan impor solar. Tapi untuk yang C51 itu nanti di semester II baru tidak melakukan impor," ucapnya.

Selain solar, impor bahan bakar pesawat atau avtur juga akan disetop.

Bahlil mengatakan, pihaknya tengah mendorong PT Pertamina (Persero) untuk di tahun ini bisa mengkonversi surplus solar 1,4 juta KL tersebut menjadi bahan baku avtur.

Kemudian, direncanakan pula penghentian impor bensin jenis RON 92, 95, dan 98.

Hal ini seiring dengan RDMP Balikpapan akan dikembangkan untuk meningkatkan kualitas produksinya hingga RON 98.

Ia bilang, ke depannya Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah (crude) sebagai bahan baku, sementara produk BBM diolah sepenuhnya di dalam negeri. "Untuk RON 92, 95, 98, kita segera mengurangi, dan 2027 tidak boleh kita impor lagi," ungkapnya. "Jadi tinggal kita impor itu yang RON 90 saja yang untuk subsidi," imbuh Bahlil.

Dengan langkah tersebut, pada 2027 Indonesia diharapkan tidak lagi mengimpor BBM jenis solar baik CN48 maupun CN51, avtur, serta bensin RON 92, 95, dan 98. "Ini agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor avtur, solar, kemudian bensin yang RON 92, 95, 98," pungkasnya.

Tag:  #cita #cita #setop #impor #solar #bensin #avtur

KOMENTAR