Siap Diproduksi Mandiri, Bagaimana Produksi Obat Plasma Lokal Dorong Ketahanan Kesehatan Indonesia?
Fasilitas fraksionasi plasma SK Plasma Indonesia di Karawang, Jawa Barat (Dok. INA)(DOK. INA.)
15:12
22 Januari 2026

Siap Diproduksi Mandiri, Bagaimana Produksi Obat Plasma Lokal Dorong Ketahanan Kesehatan Indonesia?

- Produk Obat Derivat Plasma (PODP) memegang peran krusial dalam sistem layanan kesehatan modern.

Albumin dan intravenous immunoglobulin (IVIG), misalnya, menjadi terapi esensial bagi pasien dengan luka bakar berat, syok, gangguan imun primer, penyakit autoimun, serta pasien dalam kondisi kritis di ruang perawatan intensif.

Selama ini, kebutuhan PODP di Indonesia sepenuhnya bergantung pada impor. Kondisi ini membuat pasokan obat sangat rentan terhadap gangguan global, hambatan distribusi, hingga fluktuasi harga yang tidak menentu.

Vice President Indonesia Investment Authority (INA) Andre Jonathan Cahyadi menilai, ketergantungan impor bukan sekadar persoalan perdagangan, melainkan berkaitan langsung dengan ketahanan sistem kesehatan nasional.

“Pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting. Saat itu, banyak negara menahan ekspor obat dan bahan baku kesehatan. Indonesia menghadapi kesulitan mendapatkan obat-obatan esensial yang dibutuhkan pasien,” ujar Andre saat ditemui di fasilitas fraksionasi plasma PT SK Plasma Core Indonesia di Karawang, Jawa Barat.

Ia menjelaskan, situasi tersebut berdampak pada keterbatasan akses pasien terhadap terapi berbasis plasma, baik dari sisi ketersediaan maupun harga. Dalam kondisi tertentu, rumah sakit harus melakukan penyesuaian penggunaan obat meskipun secara klinis sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar dari sisi bahan baku. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, suplai plasma darah dari donor nasional tergolong melimpah. Namun, potensi tersebut selama bertahun-tahun belum termanfaatkan secara optimal.

“Setiap tahun, hingga 200.000 liter plasma darah di Indonesia terbuang karena belum adanya fasilitas pengolahan plasma di dalam negeri,” kata Andre.

Kondisi tersebut mendorong penguatan kapasitas pengolahan plasma di dalam negeri menjadi agenda strategis nasional.

Terobosan produksi lokal

Upaya mengurangi ketergantungan impor mulai menunjukkan titik terang melalui kehadiran fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara INA dan SK Plasma Korea Selatan.

Melalui fasilitas fraksionasi plasma tersebut, plasma donor Indonesia tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga diolah menjadi PODP berstandar internasional untuk pertama kalinya.

Presiden Direktur PT SK Plasma Core Indonesia Ted Roh menjelaskan, fasilitas di Karawang dirancang untuk mengolah plasma darah donor Indonesia menjadi PODP berstandar internasional.

“Ini merupakan langkah awal menuju kemandirian produksi melalui skema toll manufacturing. Dalam skema ini, plasma darah dari Indonesia diproses di fasilitas SK Plasma di Andong, Korea Selatan,” ujar Ted.

“Plasma donor Indonesia diproses menjadi produk jadi, kemudian dikembalikan ke Indonesia. Ini menjadi tahap awal sebelum produksi sepenuhnya dilakukan di fasilitas Karawang,” tambahnya.

Agenda site visit di fasilitas fraksionasi plasma SK Plasma Indonesia di Karawang, Jawa Barat. 

Dok. INA. Agenda site visit di fasilitas fraksionasi plasma SK Plasma Indonesia di Karawang, Jawa Barat.

Dari skema tersebut, Ted menjelaskan bahwa dua produk berbasis plasma, albumin dan IVIG, telah diperkenalkan ke pasar domestik. Peluncuran kedua produk ini menjadi penanda bahwa Indonesia telah memasuki fase awal kemandirian produksi obat-obatan vital berbasis plasma.

Menurutnya, penggunaan plasma donor Indonesia juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Ini terlihat dari kualitas plasma donor Indonesia yang sangat baik.

“Ini memberikan potensi hasil produksi yang optimal untuk produk-produk berbasis plasma,” katanya.

Jaminan akses dan stabilitas harga

Produksi lokal PODP juga diharapkan memberikan dampak langsung terhadap akses dan stabilitas harga. Selama ini, harga produk impor kerap menjadi kendala bagi pemanfaatan terapi berbasis plasma di layanan kesehatan.

Ted menjelaskan, bahkan pada fase toll manufacturing, harga produk berbasis plasma sudah dapat ditekan ketimbang produk impor murni. Efisiensi tersebut diproyeksikan semakin meningkat ketika fasilitas fraksionasi plasma di Karawang mulai beroperasi penuh.

“Dengan produksi yang semakin dekat ke pasar domestik, efisiensi logistik dan rantai pasok akan lebih baik. Ini membuka peluang akses yang lebih luas bagi rumah sakit dan pasien,” ujar Ted.

Ia menilai, produksi lokal menghilangkan komponen biaya logistik internasional yang mahal dan risiko fluktuasi kurs mata uang yang sering membuat harga obat impor melonjak.

Pada fase awal, produksi lokal PODP dapat membuat harga lebih murah 8–10 persen ketimbang produk impor.

“Ini akan mempermudah akses bagi rumah sakit dan pasien, termasuk dukungan bagi cakupan BPJS Kesehatan," tambahnya.

Kebutuhan nyata di lapangan

Dari sisi praktisi medis, ketersediaan PODP merupakan kebutuhan nyata dalam praktik sehari-hari.

Dokter spesialis penyakit dalam subspesialisasi hematologi onkologi medik, Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, menuturkan bahwa IVIG umumnya dimanfaatkan untuk penanganan sejumlah kelompok penyakit, termasuk beberapa penyakit autoimun dan kondisi peradangan.

Secara kuantitatif, kata Prof Zubairi, kebutuhan IVIG tidak begitu besar. Namun, ketika dibutuhkan, obat tersebut dapat menyelamatkan nyawa pasien.

Ia mencontohkan pasien dengan kondisi idiopatik trombositopenia purpura (ITP).

“Terkadang, ada kondisi pasien ITP kadar trombositnya rendah sekali, di bawah 20.000. Kondisi ini bisa mengancam nyawa. Penanganan seperti transfusi trombosit juga terkadang tidak responsif (pada kondisi tersebut) karena trombosit yang ditransfusikan bisa langsung dihancurkan oleh antibodi (akibat kondisi autoimun),” ujar Prof Zubairi kepada Kompas.com, Kamis (22/1/2026).

“Dalam kondisi tersebut, diperlukan ‘efek cepat’ untuk menaikkan trombosit. Nah, itu bisa dipenuhi oleh IVIG,” tambahnya.

Prof Zubair pun merespons positif terkait kehadiran fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia.

Dengan memproduksi IVIG secara lokal, kata dia, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor, menekan biaya yang harus ditanggung pasien, sekaligus menciptakan kemandirian sektor kesehatan.

“Karena harga (IVIG) yang ada di farmasi mahal sekali. (Dengan adanya produksi IVIG dalam negeri), saya yakin secara harga akan bersaing dan penting sekali untuk menyelamatkan pasien,” tutur Prof Zubair.

Untuk kepentingan nasional

Andre menegaskan, seluruh plasma yang digunakan dalam produksi PODP di fasilitas tersebut berasal dari donor Indonesia dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan nasional. Pemanfaatan plasma dalam negeri menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian kesehatan.

“Semakin banyak plasma yang dapat kita olah, semakin besar pula manfaatnya bagi pasien di dalam negeri. Ini bukan hanya soal industri, tetapi soal memastikan terapi penyelamat nyawa tersedia bagi masyarakat,” ujar Andre.

Dengan dimulainya pengolahan plasma donor Indonesia menjadi albumin dan IVIG berstandar internasional, Indonesia kini memasuki babak baru dalam penguatan ketahanan kesehatan nasional—dari negara yang sepenuhnya bergantung pada impor, menuju negara yang mampu memproduksi sendiri obat-obatan vital berbasis sumber daya domestik.

Tag:  #siap #diproduksi #mandiri #bagaimana #produksi #obat #plasma #lokal #dorong #ketahanan #kesehatan #indonesia

KOMENTAR