75 Tahun Eksis, Sido Muncul Konsisten Hadirkan Produk Herbal Berbasis Ilmiah
Sebagai produk andalan Orang Pintar, Tolak Angin mengedepankan transparansi data riset untuk mengedukasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi. Basis sains yang kuat menjadi kunci produk ini bertahan selama puluhan tahun di pasar nasional. (Dok. istimewa)
14:04
22 Januari 2026

75 Tahun Eksis, Sido Muncul Konsisten Hadirkan Produk Herbal Berbasis Ilmiah

- Jelang hari jadi ke-75 tahun pada November 2026, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) menggelar konferensi pers untuk mengingatkan kembali komitmen perusahaan terhadap riset ilmiah.

Acara yang digelar di House of Jamu Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (20/1/2026) tersebut menghadirkan para peneliti produk independen, komisaris independen perusahaan, serta tokoh publik.

Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat menyampaikan bahwa perusahaan yang didirikan sejak 1951 tersebut konsisten berbasis pada penelitian ilmiah dalam pengembangan produk-produknya.

Salah satu produk andalan yang dimaksud adalah Tolak Angin. Produk ini, kata Irwan, telah melalui serangkaian uji toksisitas dan khasiat yang dilakukan sejak 2002 bersama lembaga riset independen.

"Saya perlu mengadakan acara ini untuk mengulang kembali bagaimana sejarahnya (Tolak Angin) dan bagaimana uji toksisitas (yang dilakukan untuk produk Tolak Angin). (Hasilnya), terbukti secara ilmiah tidak toksik, tidak merusak ginjal, lever, pankreas, serta tidak mengganggu hormon pria ataupun wanita," ujar Irwan kepada awak media.

Ia menegaskan bahwa sebagai perusahaan publik, Sido Muncul tidak menggantungkan kredibilitas produknya pada opini semata. Justru, perusahaan berpatokan kepada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Direktur Sido Muncul (HC) Irwan Hidayat menegaskan bahwa seluruh produk Sido Muncul dikembangkan berbasis penelitian ilmiah untuk menjamin keamanan konsumen. Komitmen ini dilakukan agar kredibilitas perusahaan tetap terjaga melalui data yang dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik.
KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Direktur Sido Muncul (HC) Irwan Hidayat menegaskan bahwa seluruh produk Sido Muncul dikembangkan berbasis penelitian ilmiah untuk menjamin keamanan konsumen. Komitmen ini dilakukan agar kredibilitas perusahaan tetap terjaga melalui data yang dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik.

Uji toksisitas subkronis selama 90 hari

Dalam konferensi pers tersebut, hadir peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dr apt Ipang Djunarko, SSi, MSc. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan hasil uji toksisitas subkronis Tolak Angin Cair yang dilakukan pada 2002.

“Pengujian tersebut dilakukan lantaran menjadi tuntutan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menentukan keamanan produk,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ipang menerangkan, uji toksisitas subkronis dilakukan selama 90 hari pada tikus jenis Sprague Dawley. Hewan uji tersebut dibagi lima kelompok secara acak dan lengkap, dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor tikus jantan dan lima ekor tikus betina.

Pengujian sendiri menggunakan empat peringkat dosis, mulai dari 0,45 ml; 1,35 ml; 4,05 ml; hingga dosis tertinggi 12,15 ml per kilogram berat badan atau setara 9 saset.

“Hasilnya, (setelah diuji dan diamati), tidak ditemukan kematian dan gejala klinis selama 90 hari dari pemberian Tolak Angin Cair, baik pada tikus jantan maupun betina,” kata Ipang.

Adapun pengamatan yang dilakukan mencakup gejala klinis, uji darah rutin, dan uji kimia klinis untuk mengetahui efek toksik pada fungsi organ, serta histologi organ untuk mengetahui perubahan struktural.

Hasil penelitian juga menunjukkan tidak ditemukan perubahan pada berat badan, sistem hematologi, ataupun perubahan struktural pada organ paru, lien atau limpa, jantung, usus, lambung, uterus, dan testis.

Tim peneliti dari Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro memaparkan hasil uji toksisitas serta uji khasiat Tolak Angin Cair di hadapan media. Hasil pengujian membuktikan bahwa produk tersebut aman bagi fungsi organ vital serta efektif dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Tim peneliti dari Universitas Sanata Dharma dan Universitas Diponegoro memaparkan hasil uji toksisitas serta uji khasiat Tolak Angin Cair di hadapan media. Hasil pengujian membuktikan bahwa produk tersebut aman bagi fungsi organ vital serta efektif dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Hal senada turut disampaikan Peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Apt Phebe Hendra, PhD. Ia menegaskan, tidak ditemukan adanya kematian ataupun perubahan gejala klinis pada hewan uji.

Phebe bahkan mengonversi durasi pengujian 90 hari yang dilakukan pada tikus setara dengan 101 bulan atau sekitar 8 tahun pada manusia.

"Secara prinsip boleh dikatakan bahwa penggunaan Tolak Angin cair dalam jangka waktu yang cukup panjang itu masih relatif aman selama penggunaan di dosis yang dianjurkan," tegas Phebe.

Sebagai informasi, hasil uji toksisitas tersebut kemudian menjadi salah satu persyaratan yang memungkinkan Tolak Angin naik level dari berlabel "jamu" menjadi "Obat Herbal Terstandar" oleh BPOM. Level obat herbal terstandar merupakan kategori di atas jamu yang mensyaratkan produk telah melewati uji toksisitas dan uji khasiat.

Meningkatkan sistem imun, aman untuk ginjal dan hati

Selain uji keamanan, Sido Muncul juga melakukan uji khasiat bersama Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada tahun yang sama.

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Undip Dr dr Neni Susilaningsih, MSi, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan bersama almarhum Prof dr Edi Dharmana, MSc, SpParK, PhD; dan almarhum dr Noor Wijayahadi, MKes, PhD.

Penelitian diawali dengan uji pada hewan coba (in vivo) yang menunjukkan adanya perbaikan pada parameter sistem imun atau sistem daya tahan tubuh. Kemudian, pengujian dilanjutkan pada 109 subyek manusia sehat yang terbagi menjadi kelompok perlakuan (99 orang) dan kelompok kontrol (10 orang).

Hasilnya, pemberian Tolak Angin Cair selama satu minggu menunjukkan adanya peningkatan jumlah limfosit T pada darah tepi jika dibandingkan dengan kontrol sebelumnya.

Selain itu, terdapat pula peningkatan pada sitokin, interferon, ataupun Interleukin-2 (IL-2). Rasio interferon dan IL-2 yang meningkat menandakan komponen respons imun dalam tubuh meningkat.

Di samping menilai khasiat pada respons imun, tim peneliti juga menilai kadar kreatinin dan ureum untuk memantau fungsi ginjal dari pemberian Tolak Angin cair.

Penelitian itu juga memeriksa kadar serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) untuk menilai fungsi hati, serta kadar hemoglobin (Hb) dan jumlah leukosit.

Semua pemeriksaan itu menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi Tolak Angin dan yang tidak diberi. Artinya, Tolak Angin Cair yang diberikan selama satu minggu tidak berpengaruh negatif terhadap fungsi ginjal, fungsi hati, maupun kadar Hb dan leukosit.

"Pada penelitian tersebut, pemberian Tolak Angin cair selama satu minggu menunjukkan ada peningkatan jumlah limfosit T-helper darah tepi jika dibandingkan dengan kontrol sebelumnya," kata Neni.

Neni menambahkan, penelitian juga menunjukkan peningkatan pada sitokin interferon gamma dan interleukin-4, yang mana rasio keduanya juga mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pada komponen respon imun.

Hal tak kalah penting, penelitian juga menilai parameter keamanan produk terhadap fungsi organ vital. Neni menjelaskan bahwa tim menilai kadar kreatinin dan ureum yang menilai fungsi ginjal, kadar SGOT dan SGPT yang menilai fungsi hati, serta kadar hemoglobin (Hb) dan jumlah leukosit.

“Semuanya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi Tolak Angin dan yang tidak diberi. Artinya, Tolak Angin cair yang diberikan selama satu minggu tidak berpengaruh negatif terhadap fungsi ginjal, fungsi hati, ataupun kadar Hb dan leukosit,” ucap Neni.

Ia menambahkan, hasil penelitian uji toksisitas dan uji khasiat itulah yang menjadi persyaratan dari BPOM untuk menaikkan level Tolak Angin dari “Jamu” menjadi “Obat Herbal Terstandar”.

Sebagai informasi, BPOM menetapkan status pada produk herbal, mulai dari jamu, obat herbal terstandar, hingga fitofarmaka yang merupakan kategori tertinggi.

Komitmen edukasi dan kolaborasi dengan dunia akademis

Komisaris Independen Sido Muncul Dr dr Mohammad Adib Khumaidi, SpOT, menekankan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Universitas Sanata Dharma dan Undip merupakan bentuk pertanggungjawaban publik. Semua proses produksi Tolak Angin dilakukan dalam sebuah proses akademis profesional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Penelitian yang sudah dilakukan oleh Pak Ipang, Ibu Phebe, dan dr Neni tersebut adalah satu bagian sebuah pertanggungjawaban publik yang harus kami lakukan bahwa produk Sido Muncul itu dibuat dalam sebuah proses yang memang itu secara ilmiah," kata Adip.

Ia menambahkan, Sido Muncul memiliki konsep untuk bekerja sama dengan beberapa institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan untuk membuat penelitian terkait herbal. Selain itu, pertemuan dengan komunitas profesi kesehatan dan dokter terkait jamu dan herbal pun dilakukan oleh perusahaan.

Sido Muncul bahkan tengah menyiapkan kompendium yang berisi informasi tentang bahan-bahan alam, lengkap dengan jurnal-jurnal penelitian yang telah dilakukan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Tujuannya, agar masyarakat terinformasi dan teredukasi tentang produk bahan alam yang berguna untuk kesehatan.

Berdasarkan data dari Sido Muncul, perusahaan telah menggelar 53 kali seminar herbal mengenai Tolak Angin bekerja sama dengan berbagai fakultas kedokteran dari berbagai universitas di Indonesia. Kegiatan edukasi ini ditujukan kepada akademisi, kalangan kedokteran, tenaga kesehatan, dan mahasiswa kedokteran.

"Sido Muncul tidak hanya memproduksi yang kaitannya dengan bisnis saja, tapi kami ingin mengedukasi. Siapa yang kita edukasi? Masyarakat dan juga tentunya pemerintah," ujar Adip.

Mendukung kemandirian industri farmasi nasional

Adip juga menyinggung Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang salah satu pasalnya berkaitan dengan obat bahan alam. Menurutnya, pasal dalam kebijakan tersebut merupakan dorongan dari negara yang harus didukung oleh industri seperti Sido Muncul.

"Sido Muncul sudah siap dan tentunya ini menjadi satu bagian dukungan Sido Muncul kepada pemerintah, terutama berkaitan dengan masalah pengembangan obat bahan alam karena itu bagian dalam satu proses kemandirian industri farmasi," kata Adip.

Ia menegaskan, Indonesia memiliki bahan alam luar biasa yang sebenarnya membuka ruang untuk membuktikan manfaat herbal secara ilmiah. Kolaborasi antara industri, akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengembangkan potensi tersebut.

Ketika profesor dan jurnalis bicara data

Guru Besar FEB UI Rhenald Kasali berbagi pengalamannya menggunakan Tolak Angin yang selalu menjadi andalan saat menempuh studi di luar negeri. Menurutnya, riset ilmiah yang dilakukan Sido Muncul sangat penting untuk mematahkan mitos negatif yang sering beredar di masyarakat. KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Guru Besar FEB UI Rhenald Kasali berbagi pengalamannya menggunakan Tolak Angin yang selalu menjadi andalan saat menempuh studi di luar negeri. Menurutnya, riset ilmiah yang dilakukan Sido Muncul sangat penting untuk mematahkan mitos negatif yang sering beredar di masyarakat.

Turut hadir dalam konferensi pers tersebut, salah satu Brand Ambassador Tolak Angin sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali. Ia menceritakan pengalamannya menggunakan produk tersebut sejak studi di Amerika Serikat selama 6 tahun.

Rhenald mengaku, Tolak Angin selalu menemaninya selama di luar negeri. Menurutnya, pengalaman serupa juga dialami banyak diaspora Indonesia.

"Saya merasakan sendiri begitu sebagai student di luar negeri. Makanya, ketika saya lihat diaspora dan ditanya, hampir semuanya (menjawab bawa Tolak Angin) di tasnya," kata Rhenald.

Rhenald menyoroti bahwa di tengah perkembangan produk herbal Indonesia, selalu ada mitos yang beredar di masyarakat. Menurutnya, inilah yang ingin dibuktikan Sido Muncul melalui riset ilmiah.

"Memang selalu ada mitos. Nah itulah yang mau di-proof. Bener apa nggak? Jangan sampai masyarakat tertipu oleh mitos-mitos itu," tegasnya.

Lebih lanjut, Rhenald menyoroti bahwa kontribusi produk herbal Indonesia di pasar dunia baru mencapai 0,8 persen. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman yang sangat luar biasa.

"Indonesia harus come up dengan produk yang benar-benar berbasiskan sains dan nilai tambahannya tinggi. Dunia sedang menuju ke situ berbasiskan research," ujarnya.

Jurnalis senior Andy F Noya menekankan bahwa keputusannya menjadi duta merek didasari pada keyakinan terhadap data dan hasil kajian ilmiah produk. Ia meyakini bahwa transparansi riset Sido Muncul memberikan rasa aman dan kepercayaan yang kuat bagi masyarakat. KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Jurnalis senior Andy F Noya menekankan bahwa keputusannya menjadi duta merek didasari pada keyakinan terhadap data dan hasil kajian ilmiah produk. Ia meyakini bahwa transparansi riset Sido Muncul memberikan rasa aman dan kepercayaan yang kuat bagi masyarakat.

Sementara itu, jurnalis senior Andy F Noya yang juga Brand Ambassador Tolak Angin menceritakan pertimbangannya sebelum menerima tawaran kerja sama tersebut. Sebagai jurnalis yang terikat kode etik, ia memastikan produk yang diiklankan tidak merugikan masyarakat.

"Saya ketika menyetujui ajakan kerja sama itu menggunakan ukuran-ukuran sebagai jurnalis, yaitu soal data, dan keyakinan kita bahwa ini adalah produk yang baik," tutur Andy.

Andy juga menceritakan pengalamannya mengunjungi pabrik Sido Muncul dan melihat langsung investasi teknologi yang digunakan untuk memproduksi jamu dengan riset yang kuat.

"Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana investasi yang luar biasa besarnya itu diberikan untuk semua teknologi. Ini membuktikan bahwa basis riset adalah kebutuhan konsumen untuk semakin percaya bahwa apa yang diwariskan nenek moyang kita dulu, itu terbukti hari ini benar ada (melalui kajian ilmiah)," jelasnya.

Ia menegaskan, para pakar yang menjelaskan hasil penelitian ditambah komisaris independen yang merupakan dokter menunjukkan bahwa semua produk Sido Muncul, khususnya Tolak Angin, berbasis data dan kajian ilmiah.

"Kalau ada yang meragukan, dia harus juga mampu meng-counter dengan kajian ilmiah yang lain. Bukan ‘katanya’, ‘pokoknya’, atau pandangan-pandangan pribadi," ujarnya.

Sepakat dengan Andy, Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani turut menekankan bahwa konsumen perlu lebih kritis dalam memilah informasi di era informasi digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengandalkan media konvensional seperti koran dan televisi, kini masyarakat dibombardir informasi dari berbagai sumber.

"Seperti tadi Pak Andi bilang, sekarang semua orang bisa jadi jurnalis tanpa terikat kode etik. Beritanya hitungannya sudah detik-detik, tidak mendalam seperti dulu," ujar Maria.

Ia meyakini bahwa konsumen Indonesia cukup cerdas untuk memilah informasi yang benar dari yang salah. Dengan data dan hasil penelitian yang dipaparkan, konsumen dapat membuat keputusan yang tepat.

"Saya yakin konsumen kami orang pintar semua. Jadi yang pintar tentu saja bisa memilah informasi mana yang benar dan tidak, lalu memilih produk yang baik," tegasnya.

Dari jamu rumahan hingga perusahaan publik

Sido Muncul berawal dari usaha jamu rumahan yang dibuat Rahkmat Sulistio di Yogyakarta pada 1930. Satu dekade kemudian atau pada 1940, produk jamu yang awalnya berupa racikan dikembangkan menjadi jamu godokan.

Waktu berlalu, Sido Muncul pun berdiri secara resmi pada 1951 dan berkembang menjadi produsen jamu dan obat herbal. Pada 1992, perusahaan melakukan inovasi dengan memproduksi Tolak Angin dalam bentuk cair siap minum yang dikemas dalam saset agar lebih praktis, higienis, dan mudah dibawa.

Saat ini, Tolak Angin memiliki beberapa sediaan, yakni cair, serbuk, tablet, kapsul lunak. Selain itu, ada pula Tolak Angin Sugar Free, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Anak, dan Tolak Angin Batuk. Perusahaan pun memproduksi berbagai produk herbal lainnya, seperti Kunyit Asam dan Temulawak.

Irwan menyampaikan hasil penelitian merupakan fondasi penting dalam pengembangan produk perusahaan. Sido Muncul tidak hanya mengandalkan warisan resep tradisional, tetapi juga memastikan setiap produk terjaga kualitasnya.

"Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami kepada konsumen agar produk yang diminum benar-benar aman, berkualitas, dan bermanfaat," ujar Irwan.

Di usia yang akan mencapai 75 tahun pada November 2026, Sido Muncul berkomitmen terus melakukan inovasi agar produk-produknya semakin diterima konsumen. Perusahaan juga akan terus berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan riset untuk mengembangkan produk herbal berbasis ilmiah.

Tag:  #tahun #eksis #sido #muncul #konsisten #hadirkan #produk #herbal #berbasis #ilmiah

KOMENTAR