Rupiah Tertekan, IHSG Tetap Ngebut, Stabilitas Keuangan RI Berpotensi Terancam?
Pergerakan berlawanan antara nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih wajar dan belum mengganggu stabilitas sektor keuangan nasional.
Selama pelemahan rupiah terjadi secara bertahap dan terkendali, sementara IHSG menguat dengan dukungan faktor fundamental serta likuiditas domestik, kondisi pasar keuangan masih dinilai aman.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai perbedaan arah gerak rupiah dan IHSG bukan sinyal bahaya dalam jangka pendek. Risiko baru muncul saat rupiah melemah tajam dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut berpotensi menekan pasar obligasi, mendorong kenaikan suku bunga, lalu berdampak ke stabilitas sektor keuangan secara luas.
“Selama pelemahan rupiah masih gradual dan terkendali, sementara IHSG menguat karena faktor fundamental dan likuiditas domestik, stabilitas sektor keuangan masih terjaga atau aman terkendali,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/1/2026).
“Risiko baru muncul jika rupiah melemah tajam dan cepat. karena itu bisa mengganggu obligasi, suku bunga, dan akhirnya menekan sektor keuangan secara menyeluruh,” lanjut dia.
Rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat pada awal perdagangan pekan ini. Mata uang garuda dibuka di level Rp 16.893 per dollar AS.
Data Bloomberg hingga pukul 10.13 WIB menunjukkan rupiah berada di posisi Rp 16.918 per dollar AS. Posisi tersebut melemah 31 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.887 per dollar AS.
Reydi menyebut tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal. Dinamika global dan sentimen pasar internasional menjadi pendorong utama pelemahan.
IHSG justru bergerak menguat karena faktor domestik. Aliran dana asing mulai masuk ke saham-saham berfundamental kuat dan likuid.
IHSG sempat menyentuh level tertinggi 9.109 pada perdagangan Senin sebelum bergerak fluktuatif dan bertahan di zona hijau.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG dibuka menguat di level 9.098,70. Penguatan kemudian tertahan seiring aksi ambil untung jangka pendek. Hingga sesi berjalan, IHSG menguat tipis 0,01 persen ke posisi 9.075,97.
“Tekanan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, sementara IHSG menguat karena faktor domestik dan aliran dana asing yang mulai masuk ke saham-saham berfundamental kuat dan likuid,” ujar Reydi.
Ekspektasi terhadap konsistensi dan stabilitas kebijakan Bank Indonesia turut menjaga kepercayaan pelaku pasar. Keyakinan terhadap arah kebijakan moneter dinilai cukup menopang minat investor di pasar saham.
“Ekspektasi stabilitas kebijakan BI beri keyakinan meski rupiah belum sepenuhnya pulih,” kata Reydi.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai nilai tukar sepenuhnya terbentuk oleh mekanisme pasar. Sentimen, ekspektasi, serta persepsi investor terhadap kondisi ekonomi dan risiko negara menjadi penentu utama.
Pergerakan kurs lebih mencerminkan keyakinan pasar, bukan nilai absolut. Dalam kondisi saat ini, rupiah dinilai masih berpotensi melewati level Rp 17.000 per dollar AS.
“Mata uang apapun di dunia tidak ada nilai wajar, semua ditentukan oleh sentimen dan harapan investor. Untuk saat ini rupiah diperkirakan akan melewati Rp 17.000,” ujar Lukman kepada Kompas.com.
Pelemahan rupiah yang terjadi secara bertahap memberi ruang penyesuaian bagi pelaku pasar. Kondisi tersebut tidak langsung menimbulkan gangguan besar terhadap stabilitas ekonomi maupun pasar keuangan.
Meski begitu, posisi rupiah yang mendekati level terlemah sepanjang sejarah tetap berisiko mengikis sentimen. Level psikologis ini berpotensi memengaruhi persepsi investor domestik dan asing, terutama tanpa komunikasi kebijakan yang kuat.
“Perlemahan secara gradual tidak akan mengganggu, volatilitas dengan penguatan dan pelemahan besar dalam waktu dekat lebih bahaya. Namun memang pelemahan rupiah yang sudah mendekati ATH bisa mengikis sentimen lebih lanjut,” kata Lukman.
Tag: #rupiah #tertekan #ihsg #tetap #ngebut #stabilitas #keuangan #berpotensi #terancam