Memupuk Tekad Petani Aceh Kembali Menanam Setelah Banjir Bandang
Petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Muskim Abdullah, saat ditemui di sela-sela proses perbaikan sawah yang rusak imbas banjir bandang di gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (15/1/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
19:36
16 Januari 2026

Memupuk Tekad Petani Aceh Kembali Menanam Setelah Banjir Bandang

- Pagi itu dingin dan saya sempat berpikir Muslim Abdullah (60) petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara yang setengah badannya tenggelam dalam lumpur sawah, seperti Santiago dalam Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway.

Santiago, nelayan tua sial yang tidak mendapatkan satupun ikan di teluk hingga hari ke 84. Tak mau kalah, ia pergi ke laut lepas dan bertarung dengan ikan marlin besar selama berhari-hari.

Ikan pedang itu takluk tapi semuanya tetap sia-sia. Ikan marlinnya yang tak muat di perahu habis dimakan hiu sepanjang perjalanan pulang.

Petani gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Mahmudi Ilyas yang tengah berdiri di pematang dan Ridwan yang tengah kesulitan berjalan di sawah terdampak banjir bandang, Kamis (15/1/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Petani gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Mahmudi Ilyas yang tengah berdiri di pematang dan Ridwan yang tengah kesulitan berjalan di sawah terdampak banjir bandang, Kamis (15/1/2026).

Angin dari Selat Malaka menusukkan pisau dingin. Saya kembali merekatkan jaket parka ke tubuh sementara Muslim dan teman-temannya sesama petani terus mengaduk lumpur.

Kebanyakan dari mereka mengeruk sisa endapan lumpur di saluran air sementara yang lain mencoba memadatkan galangan sawah yang kini lebih tinggi dari irigasi.

Seperti banyak tempat lain di Aceh, gampong Muslim juga diterjang banjir bandang. Banyak tetangga kampungnya tewas terbawa hanyut dan ditemukan di hamparan sawah tempatnya terendam lumpur.

“Dua puluh orang. Dibawa arus, Pak. Sedih. Sedih,” kata Muslim tak lagi bisa menahan air matanya lebih lama, Kamis (15/1/2026).

Tak hanya permukiman, banjir yang menerjang Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), juga meluluhlantakkan hamparan sawah di gampong Pinto Makmur.

Saat itu, kata Muslim, arusnya begitu deras seperti sebuah sungai. Banjir lalu meninggalkan sampah hingga lumpur yang menimbun sawah dan irigasi.

Pagi itu, saat saya temui, Muslim dan petani lain sedang memperbaiki sawah hingga jaringan irigasi.

Traktor tak bisa masuk ke sawah karena lapisan lumpur yang begitu tebal.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbincang dengan petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Muslim Abdullah di sawah yang tengah diperbaiki setelah diterjang banjir bandang, Kamis (15/1/2026).Humas Kementan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbincang dengan petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Muslim Abdullah di sawah yang tengah diperbaiki setelah diterjang banjir bandang, Kamis (15/1/2026).

Sementara, lumpur di dasar irigasi yang tidak bisa dibersihkan dengan alat berat, memang harus diangkat menggunakan sekop atau cangkul.

Mereka dipekerjakan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk memperbaiki area persawahannya sendiri.

“Kalau benteng (pematang) ini pun enggak dibikin semua enggak bisa juga kita tanam,” kata Muslim.

“Apalagi kalau saluran itu enggak dibikin. Masyarakat di sini tunggu kelaparan. Tunggu kelaparan,” sambungnya dengan getir.

Sinar mata Muslim tidak terang, sebagaimana orang-orang yang dihantam bencana namun juga tidak padam. Sorot mata dan percakapannya dengan kami saat itu mengungkapkan tekadnya kembali menanam.

Sawah lenyap jelang panen padi

Pada akhir November 2025 silam, Muslim nyaris kehilangan segalanya, padi yang tinggal hitungan hari bisa dipetik lenyap tertimbun lumpur banjir. Di rumahnya bahan makanan rusak.

“Itu pun siap panen. Enggak bisa, enggak dapat kita panen,” ujar Muslim.

Sawah Muslim seluas 14 rante, satuan luas tanah yang digunakan masyarakat setempat.

Karena satu rante hanya 400 meter persegi, maka luas lahan Muslim hanya setengah hektar lebih sedikit.

Sawah itu satu-satunya sumber penghidupan. Namun, saat ini terkubur lumpur sedalam 1 hingga 1,5 meter.

Kondisi itu membuat para petani kesulitan bergerak. Bahkan untuk berjalan di sawah yang berada di tengah dan masih tergenang air, mereka harus merayap seperti biawak.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbincang dengan petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (15/1/2026).Humas Kementan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbincang dengan petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (15/1/2026).

Muslim mengaku tak berharap mendapat beras. Ia membutuhkan sawahnya diperbaiki, traktor, benih, dan pupuk untuk kembali menyambung hidup.

Sebab, ia sama sekali tidak lagi memiliki modal.

“Cuma itu yang kita mohon, kita enggak minta beras. Cuma kita harus memperbaiki tempat tanam mata pencaharian kami. Sawah kami sudah tergenang semua,” tutur Muslim Abdullah.

Mahmudi Ilyas (50), petani Pinto Makmur belum yakin hamparan sawah dengan genangan air cukup banyak bisa ditanam.

Sebab, lumpur itu membuatnya tenggelam hingga leher. Kondisinya berbeda dengan sawah di tepi jalan yang lumpurnya cenderung lebih kering.

“Bisa nanam nanti enggak bisa nyemprot kan,” ujar Ilyas.

Di luar persoalan lumpur sisa banjir bandang, petani Pinto Makmur dihadapkan persoalan banjir tahunan dari limpahan sungai. Selama ini, petani harus patungan gabah untuk membayar ongkos pengerukan. 

“Menurut saya, ini kalau saluran pembuangan enggak dibetulin, enggak ada harapan,” kata Muslim.

Negara hadir pulihkan pertanian

Tidak lama setelah kami berbincang dengan Muslim, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tiba bersama Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto.

Begitu turun dari mobil, Amran langsung menuju ke sawah dan mendengarkan penjelasan anak buahnya, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Dirjen LIP) Hermanto.

Meski kerap bergurau dengan bawahannya, menteri Presiden Prabowo Subianto itu menatap tajam saat mendengar penuturan Hermanto.

Seperti tak mau melewatkan satu hal kecil pun, Amran terus menimpali penjelasan Hermanto dengan pertanyaan.

Petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Ridwan kesulitan berjalan di sawah yang tertimbun lumpur material banjir bandang, Kamis (15/1/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Petani Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Ridwan kesulitan berjalan di sawah yang tertimbun lumpur material banjir bandang, Kamis (15/1/2026).

Sejak beberapa waktu setelah banjir besar melanda tiga provinsi di Sumatera, Amran memang menyatakan dengan tegas pemerintah akan membangun ulang sawah yang rusak.

Kepada Amran, Hermanto menjelaskan hamparan sawah 200 yang mulai diperbaiki di Pinto Makmur masuk kategori rusak hingga sedang. Di gampong itu, luasnya 200 hektare.

“Target kita Pak Menteri, Januari sampai Februari itu 13.000 (hektare),” kata Hermanto di lokasi, Kamis (15/1/2026). 

“Ini 13.000 ringan apa sedang?” timpal Amran.

“Ringan-sedang,” jawab Hermanto.

Ia menjelaskan, luas lahan 13.702 hektare sawah rusak ringan-sedang ditargetkan selesai pada Februari dan menjadi rehabilitasi tahap pertama.

Secara keseluruhan, di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), sawah rusak ringan-sedang yang akan diperbaiki mencapai 69.240 hektare.

Adapun perbaikan tahap pertama dikebut agar para petani tidak ketinggalan musim tanam.

Khusus di Aceh Utara, kata Hermanto, terdapat 8.237 hektare sawah rusak ringan-sedang yang segera direhabilitasi.

Untuk mewujudkan itu, Kementan telah melakukan identifikasi lahan, meneliti kandungan tanah pasca banjir, 836 ton bibit padi, pupuk gratis 200 ton, hingga alat dan mesin pertanian seperti drone untuk menebar benih.

Selain itu, rehabilitasi juga meliputi membentuk ulang pematang sawah, normalisasi saluran tersier, normalisasi saluran sekunder dan primair, dan memperbaiki bangunan irigasi.

“Selesai 69.000 (hektare) itu kapan?” tanya Amran.

“Kurang lebih sekitar Maret-April,” jawab Hermanto.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Kiri), Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Hermanto (kanan) saat meninjau sawah rusak ringan-sedang yang tengah diperbaiki di gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (15/1/2026).Humas Kementan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Kiri), Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Hermanto (kanan) saat meninjau sawah rusak ringan-sedang yang tengah diperbaiki di gampong Pinto Makmur, Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (15/1/2026).

Amran minta petani terlibat rehabilitasi sawah dan dibayar negara

Pada kesempatan itu, Amran memerintahkan para petani dilibatkan memperbaiki sawah mereka sendiri.

Proses rehabilitasi sawah, kata Amran, dikerjakan secara swakelola dengan sistem padat karya.

“Jadi swakelola, jadi padat karya. Jadi ini enggak ke mana-mana enggak usah pakai kontraktor besar apalagi kecil-kecil gini,” perintah Amran.

Menurutnya, Presiden Prabowo memerintahkan agar negara menjamin modal para petani yang diterjang banjir bandang.

Bibit padi, pupuk, perbaikan sawah, sampai alat mesin pertanian ditanggung oleh negara.

Sementara, petani dilibatkan dalam padat karya dan dibayar agar mereka mendapatkan pemasukan setelah sawahnya yang siap panen luluh lantak diterjang banjir bandang.

"Padat karya apa artinya? Seluruh yang punya sawah terlibat di dalamnya, ikut di dalamnya bekerja sehingga ada pendapatan harian. Nah, di pendapatan hariannya itu cukup untuk harian dan bekerja di sawahnya sendiri,” jelas Amran.

Saat berbincang dengan kami, Muslim mengaku sudah terlibat perbaikan sawah selama lima hari terakhir.

Dengan pekerjaan itu, Muslim dan para petani gampong Pinto Makmur mendapat bayaran dari pemerintah.

“Dibayar Rp 120.000 satu hari,” ujar dia.

Upah itu sangat membantunya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari setelah  diterjang banjir bandang.

“Alhamdulillah. Memang kalau dapat uang beras saja. Kalau ikan-ikan (lauk pauk) enggak kita pikirkan dulu lah ya, yang penting itu,” kata Muslim.

Setelah berulang kali mengingat percakapan itu dan bagaimana para petani Pinto Makmur gotong royong memabangun sawah mereka kembali, saya menghapus bayangan Muslim sebagai Santiago dalam cerita Ernest Hemingway.

Muslim dan para petani di gampongnya sama seperti laki-laki Aceh lain yang terhormat dan menolak surut meski dihantam nestapa.

Mereka bertekad untuk hidup, kembali menanam. Lalu, negara hadir menunaikan janji untuk memupuk tekadnya.

Tag:  #memupuk #tekad #petani #aceh #kembali #menanam #setelah #banjir #bandang

KOMENTAR