Negara Adikuasa Berebut Mineral Kritis, Kadin: Pengusaha Harus Tetap Tenang
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie dalam Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2026, di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
11:28
16 Januari 2026

Negara Adikuasa Berebut Mineral Kritis, Kadin: Pengusaha Harus Tetap Tenang

– Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Bakrie menilai ketidakpastian global saat ini memiliki karakter berbeda dibanding periode perang dagang berbasis tarif.

Anindya menyebut sumber ketidakpastian kini bergeser. Konflik tidak lagi berhenti pada tarif resiprokal, tetapi mengarah pada perebutan pengaruh dan sumber daya alam oleh negara adikuasa, terutama mineral kritis.

“Saya sepakat sekali bahwa memang perekonomian dunia ini lagi banyak ketidakpastian. Dua tahun yang lalu kita bicara kebanyakan tentang perang dagang dengan tarif, tapi setahun yang lalu, sekarang sudah berbicaranya tentang perang fisik,” ujar Anindya dalam Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2026 di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Anindya tidak menyebut secara eksplisit negara adikuasa yang dimaksud. Ia merujuk pada arahan Presiden Prabowo Subianto saat retret Kabinet Merah Putih di Magelang awal 2025.

Dalam arahan tersebut, negara adikuasa digambarkan sebagai negara dengan kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi yang kuat. Penguasaan sumber daya strategis menjadi bagian dari kekuatan tersebut.

Anindya menyinggung China sebagai contoh negara besar dengan kendali kuat atas mineral kritis serta minyak dan gas. Menurutnya, penguasaan tersebut mendorong sebagian negara mengambil jalan cepat untuk memperluas pengaruh.

Jalan cepat itu berupa akuisisi negara lain yang memiliki sumber daya alam strategis. Langkah tersebut dinilai memicu instabilitas baru di tingkat global.

“Jadi, ketika tadi berbicara tentang China yang menguasai mineral kritis, China menguasai oil and gas. Negara adikuasa mungkin berpikir jalan pintas, bahwa akuisisi adalah jalan yang tercepat. Tapi, itu hanya menciptakan ketidakpastian,” jelas dia.

Situasi tersebut dinilai berdampak langsung pada ekonomi dunia. Guncangan global pun sulit dihindari ketika konflik meluas ke aspek fisik dan geopolitik.

Menyikapi kondisi itu, Anindya meminta pelaku usaha dan masyarakat tetap menjaga ketenangan. Fokus utama diarahkan pada penguatan ekonomi domestik.

Ia mendorong langkah menuju kemandirian ekonomi nasional agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak global.

Sebelumnya, Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan pemanfaatan mineral kritis atau rare earth.

Brian mengatakan, Presiden menekankan pentingnya penguasaan teknologi agar mineral kritis memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.

“Jadi, Pak Presiden ingin mendorong industri strategis, terutama industri mineral kritis di Indonesia. Tadi saya mendapatkan arahan agar dipercepat, teknologi segera dikuasai sehingga kandungan mineral kritis, rare earth salah satunya itu bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Brian seusai bertemu Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Brian menyebut salah satu pemanfaatan rare earth diarahkan pada pengembangan mobil nasional. Program tersebut masuk dalam strategi penguatan industri berbasis sumber daya domestik.

Tag:  #negara #adikuasa #berebut #mineral #kritis #kadin #pengusaha #harus #tetap #tenang

KOMENTAR