Dampak Libur Nataru Minim, Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Diprediksi 5,1 Persen
Suasana wisatawan berkunjung di kawasan Kota Lama Semarang saat libur Nataru, Jumat (2/1/2026).(KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah)
14:36
15 Januari 2026

Dampak Libur Nataru Minim, Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Diprediksi 5,1 Persen

- Dampak libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai minim. Sektor yang berkaitan dengan mobilitas memang mencatat pertumbuhan signifikan.

Namun demikian, permintaan dasar belum menunjukkan pemulihan sebagai efek dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) biasanya berperan sebagai penyangga pertumbuhan pada kuartal IV 2025.

Pasalnya, periode ini mendorong konsumsi rumah tangga, mempercepat perputaran stok ritel, dan mengangkat belanja jasa terkait perjalanan.

Dalam konteks 2025, Josua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia setahun penuh berada di kisaran 5,0 sampai 5,1 persen.

"Momentum akhir tahun disebut menjadi faktor yang menjaga laju pertumbuhan tetap setidaknya 5 persen, sehingga kontribusinya paling terasa sebagai penguat laju kuartal IV, bukan pengubah arah tren tahunan," kata dia kepada Kompas.com.

Selain itu, ia menambahkan, sinyal musiman juga terlihat dari membaiknya sentimen dan belanja ritel menjelang akhir tahun. Itu tercermin dengan indeks keyakinan konsumen yang naik dan penjualan ritel yang diperkirakan menguat pada akhir tahun 2025.

Sektor transportasi hingga komunikasi melonjak saat libur Nataru

Josua menjabarkan, sektor yang paling dominan selama periode Nataru umumnya adalah sektor yang langsung terkait mobilitas dan konsumsi harian.

Sejumlah kendaraan melintas di jalur Cibeureum, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jswa Barat. Jalur menuju kawasan wisata Puncak ini rawan longsor dan pohon tumbang.KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Sejumlah kendaraan melintas di jalur Cibeureum, Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jswa Barat. Jalur menuju kawasan wisata Puncak ini rawan longsor dan pohon tumbang.

Data sektoral menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh tinggi, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga kuat, disusul perdagangan besar dan eceran, serta informasi dan komunikasi yang ikut terdorong oleh transaksi digital dan kebutuhan konektivitas.

Indikator aktivitas akhir tahun memperkuat narasi ini dengan indeks penjualan riil menguat menjelang akhir tahun.

Sentimen itu didorong kelompok barang makan minum serta suku cadang yang sejalan dengan meningkatnya mobilitas. Sementara aktivitas manufaktur juga terdorong oleh permintaan domestik.

Kendati demikian, dibandingkan tahun sebelumnya, Josua menilai, dampak Nataru 2025/2026 cenderung moderat.

Penguatan musiman di akhir tahun memang teradi, tetapi permintaan dasar masih belum benar-benar kencang.

"Ini terlihat dari catatan bahwa sisi permintaan masih termoderasi meski sentimen konsumen dan penjualan ritel membaik di akhir tahun," ucap dia.

Dari sisi dunia usaha, tekanan daya beli dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi faktor yang membuat belanja rumah tangga lebih selektif. Dengan demikian, lonjakan Nataru lebih kuat di perjalanan, makan minum, dan belanja kebutuhan, ketimbang belanja barang besar.

Walaupun indikator ketersediaan lapangan kerja membaik menjelang akhir tahun, ia bilang, masih ada kelompok berpengeluaran rendah yang bertahan di zona pesimis.

"Sehingga pola Nataru berpotensi tetap timpang. Ramai di pusat aktivitas tertentu, tetapi tidak merata ke semua lapisan," kata Josua.

ilustrasi inflasiSHUTTERSTOCK/LEONID SOROKIN ilustrasi inflasi

Di samping itu, lonjakan konsumsi dan mobilitas Nataru memang berpotensi memberi tekanan inflasi di pergantian tahun, terutama pada komoditas pangan yang sensitif pasokan dan jasa transportasi.

Di satu sisi, tekanan pangan biasanya diantisipasi lewat operasi pasar, penguatan stok, cadangan pangan, dan intervensi harga menjelang periode libur akhir tahun, sehingga risikonya lebih terkelola.

Namun di sisi lain, harga yang diatur pemerintah dapat naik karena tarif angkutan udara dan berpotensi berlanjut seiring mobilitas Nataru, sehingga komponen transportasi menjadi titik rawan utama.

Kombinasi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2025

Perlu disadari, penopang utama kuartal IV-2025 tidak hanya mengandalkan konsumsi musiman akhir tahun, melainkan kombinasi kebijakan fiskal, perbaikan iklim usaha, dan dukungan stabilitas keuangan.

Dari sisi fiskal, dorongan penting datang dari paket stimulus kuartal IV senilai Rp 37,4 triliun yang mencakup program magang, bantuan langsung sementara, serta diskon tiket masa Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah juga menekankan penguatan mesin pertumbuhan melalui keselarasan kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan perbaikan iklim investasi, termasuk penyederhanaan aturan serta penempatan kas pemerintah di perbankan.

Libur akhir tahun memang menambah aktivitas perdagangan, transportasi, dan pariwisata, tetapi porsinya cenderung bersifat sementara dan tidak otomatis dominan.

Apalagi ketika rumah tangga masih menunjukkan kehati-hatian. Hal itu dapat dilihat dari keyakinan konsumen tetap kuat, tetapi proporsi pendapatan untuk konsumsi tercatat 74,3 persen dan porsi tabungan meningkat menjadi 14,9 persen pada Desember 2025.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. SHUTTERSTOCK/TENDO Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

"Artinya, stimulus dan momen musiman membantu, tetapi akselerasi kuartal IV lebih masuk akal bila dibaca sebagai hasil gabungan konsumsi yang terjaga, belanja pemerintah yang lebih ekspansif di akhir tahun, serta dukungan investasi dan stabilitas pasar," ungkap dia.

Komoditas dan manufaktur padat karya belum bangkit

Adapun, sektor yang terlihat belum optimal mendukung pertumbuhan hingga akhir 2025 terutama sektor berbasis komoditas dan sebagian manufaktur padat karya.

Dari sisi komoditas, ekspor sektor pertambangan dan lainnya tercatat turun 24,24 persen pada Januari–November 2025.

Hal ini menggambarkan tekanan dari moderasi harga dan permintaan komoditas yang membuat dorongan sektor ini tidak sekuat periode sebelumnya.

Sementara itu, sektor manufaktur padat karya berorientasi ekspor rentan tertekan oleh dinamika perang dagang.

Pasalnya kelompok barang yang menonjol ke pasar Amerika Serikat mencakup pakaian dan alas kaki, yang lazimnya menyerap tenaga kerja besar.

Oleh karena itu, Josua menyebut, meskipun kuartal IV-2025 ditopang paket kebijakan untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi, pemulihan sektor padat karya cenderung belum merata.

"Pemulihan sektor padat karya tetap sangat bergantung pada perbaikan permintaan global, kepastian dagang, serta efektivitas insentif yang menurunkan beban biaya dan menjaga arus pesanan industri," pungkas dia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 diprediksi 5,1 persen

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 berkisar antara 5 hingga 5,1 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026. PEXELS/TOM FISK Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026.

"Saya rasa pertumbuhannya masih terbatas di kisaran 5 hingga 5,1 persen," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (9/1/2025).

Ia menambahkan, liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta insentif fiskal yang digelontorkan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Terutama di sektor transportasi dan akomodasi, serta perdagangan," imbuh dia.

Sementara itu, dampak ekonomi yang lebih besar dinilai masih tertahan karena daya beli yang masih belum pulih.

Sektor padat karya belum pulih

Riza berpendapat pada kuartal IV-2025 sektor industri manufaktur padat karya secara umum masih cukup tertekan.

Kendati demikian, ia tetap menekankan untuk masyarakat mengamati data ekonomi kuartal IV-2025 yang masih belum dirilis.

Berdasarkan pengamatannya, meskipun sektor industri pengolahan pertumbuhannya di atas capaian nasional, tapi tren pertumbuhan subsektor industri padat karya cenderung turun sepanjang kuartal I-2025 hingga kuartal III-2025.

Beberapa contoh subsektor teknologi tersebut misalnya adalah industri pengolahan tembakau, industri tekstil dan pakaian jadi, dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki.

Senada, ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Budi Frensidy menjelaskan, hingga kuartal IV-2025 belum terlihat andanya tanda-tanda bangkitnya sektor padat karya.

"Saya pikir belum ada tanda-tanda sektor padar karya sudah bangkit, yang terjadi malah sebaliknya," ungkap dia.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Adapun, efek liburan Nataru memang menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan terakhir 2025 yang lalu.

Budi sendiri memandang konservatif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 dengan kisaran 5,2 persen.

"Prediksi saya paling di 5,2 persen," ujar dia.

Bank Dunia prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2025-2026

Sebelumnya, Bank Dunia memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh stabil di level 5 persen pada periode 2025–2026, sebelum meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk, menilai ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, ekonomi Indonesia masih cukup tangguh. Pertumbuhan PDB bertahan di kisaran 5 persen per tahun, setara dengan tahun-tahun sebelumnya dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara berpendapatan menengah. Ini merupakan kabar baik,” ujar Turk di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Proyeksi terbaru tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan dalam laporan IEP edisi Juni 2025.

Dalam laporan sebelumnya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2025, 4,8 persen pada 2026, dan 5 persen pada 2027.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2025 masih tunjukkan perbaikan

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan tidak mencapai target awal di kisaran 5,7 hingga 6 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Purbaya menyebutkan, berdasarkan proyeksi terbaru, pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025 diperkirakan berada di level sekitar 5,45 persen.

“Kira-kira 5,45 persen kalau tidak ada perubahan. Di bawah janji saya, tapi lumayanlah, masih lebih tinggi dibandingkan triwulan-triwulan sebelumnya,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Meski lebih rendah dari target awal, Purbaya menilai capaian tersebut tetap menunjukkan perbaikan dibandingkan kinerja ekonomi pada kuartal-kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat sebesar 4,87 persen, meningkat menjadi 5,12 persen pada kuartal II, dan sebesar 5,04 persen pada kuartal III.

Sebelumnya, Purbaya percaya diri asumsi makro ekonomi APBN 2025 masih berada dalam koridor pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi nasional bergerak sesuai target, meski sejumlah indikator menunjukkan deviasi.

Purbaya menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di level 5,2 persen. Inflasi tercatat sedikit melampaui target. Hingga Desember 2025, inflasi mencapai 2,92 persen.

Asumsi APBN menetapkan inflasi di level 2,5 persen. Kondisi itu dipengaruhi kebijakan harga serta penguatan peran Perum Bulog.

Nilai tukar rupiah juga melemah dibandingkan proyeksi awal. Asumsi APBN 2025 mematok kurs rupiah Rp 16.000 per dollar AS.

Realisasi pada akhir 2025 mencapai Rp 16.475 per dollar AS. Pergerakan kurs, menurut Purbaya, dipengaruhi perang dagang serta dinamika kebijakan global dan domestik.

Tag:  #dampak #libur #nataru #minim #pertumbuhan #ekonomi #2025 #diprediksi #persen

KOMENTAR