Pasar Kripto Hijau, Harga Bitcoin Melonjak ke Level 95.391 Dollar AS
Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin naik tembus 95.000 dollar AS.(UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN)
08:12
14 Januari 2026

Pasar Kripto Hijau, Harga Bitcoin Melonjak ke Level 95.391 Dollar AS

- Pasar aset kripto bergerak di zona hijau. Harga Bitcoin (BTC) melonjak tajam dalam 24 jam terakhir dan mendekati level psikologis 96.000 dollar AS.

Mengacu pada data CoinMarketCap, Rabu (14/1/2026), BTC diperdagangkan di kisaran 95.391,05 dollar AS, naik 4,4 persen dalam 24 jam terakhir.

Penguatan Bitcoin turut ditopang oleh lonjakan volume transaksi harian yang mencapai 55,49 miliar dollar AS.

Sementara itu, kapitalisasi pasar Bitcoin menyentuh 1,90 triliun dollar AS, dengan dominasi pasar 58,63 persen.

Kinerja positif Bitcoin diikuti oleh mayoritas aset kripto utama lainnya.

Ethereum (ETH) mencatatkan kenaikan lebih besar atau sekitar 7,13 persen ke level 3.322 dollar AS.

Kapitalisasi pasar Ether kini 401,38 miliar dollar AS.

XRP menguat 5,06 persen ke posisi 2,159 dollar AS, diikuti Binance Coin (BNB) naik 4,51 persen ke 945 dollar AS, Solana (SOL) melonjak 4,12 persen ke posisi 144,75 dollar AS.

Untuk diketahui, kinerja Bitcoin kurang menggembirakan sepanjang tahun lalu, meskipun didukung pemerintahan Amerika Serikat yang relatif pro-kripto di bawah Presiden Donald Trump.

Mengutip Bloomberg, lesunya pasar kripto mendorong perusahaan-perusahaan di sektor ini mencari cara untuk menurunkan risiko bisnis.

Bursa kripto kini semakin agresif merambah produk turunan berbasis komoditas, pasar yang lebih dalam, lebih teregulasi, dan relatif lebih stabil dibandingkan aset kripto.

Ironinya, industri yang lahir sebagai antitesis Wall Street, penuh kecurigaan terhadap bank, regulator, dan sistem keuangan terpusat, kini justru mengadopsi strategi yang sama demi keberlanjutan dan legitimasi.

Kontrak berjangka komoditas, perizinan perbankan, dan produk pengelolaan kekayaan menawarkan sumber pendapatan yang lebih stabil serta kredibilitas institusional.

Namun, langkah ini sekaligus menarik bursa kripto semakin dekat ke sistem yang dahulu ingin mereka gantikan.

Dalam upaya mengejar stabilitas, perusahaan kripto juga harus menerima konsekuensinya: margin yang lebih tipis, pengawasan yang lebih ketat, serta persaingan langsung dengan pemain mapan.

Transformasi ini menandai pergeseran industri kripto dari narasi revolusioner menuju model bisnis yang lebih konvensional dan berbasis neraca keuangan.

Sejumlah pemain besar mulai menegaskan arah tersebut.

Coinbase Global Inc. menyatakan ambisinya menjadi “everything exchange” dengan mengumumkan rencana perdagangan kontrak berjangka tembaga dan platinum, serta memperluas produk yang sudah mencakup emas, perak, minyak, hingga pasar prediksi.

Sementara itu, Binance berencana menawarkan kontrak perpetual emas dan perak yang diselesaikan menggunakan stablecoin Tether (USDT). Pada akhir tahun lalu, Binance juga meluncurkan layanan Binance Prestige untuk melayani family office, dana privat, dan nasabah bernilai tinggi.

“Ekspansi ke pasar tradisional mencerminkan kedewasaan industri kripto, bukan penyimpangan dari nilai awalnya,” ujar juru bicara Coinbase.

Menurut Kepala APAC Areta, bank investasi aset digital, Joseph Goh, pasar kripto dikenal sangat siklikal dan berisiko tinggi.

Dengan mengintegrasikan komoditas, saham, dan kontrak berbasis peristiwa, bursa kripto berupaya membangun model bisnis yang lebih tahan terhadap siklus penurunan.

Diversifikasi ini memungkinkan volume transaksi tetap terjaga saat pasar kripto melemah, sekaligus memberi valuasi yang lebih stabil bagi pemegang saham dan ketahanan bagi klien institusional.

Selama ini, bursa kripto juga menghadapi tantangan tingginya perpindahan nasabah, akibat volatilitas ekstrem dan kerugian yang kerap dialami investor ritel.

Bitcoin tercatat turun 24 persen pada kuartal terakhir, yang diperkirakan menekan minat investor ritel, baik terhadap Bitcoin maupun ribuan altcoin lain yang diperdagangkan di platform seperti Coinbase dan Binance.

“Isu utamanya adalah retensi nasabah,” kata Ben Charoenwong, profesor keuangan di INSEAD, Singapura.

Ia menilai sebagian besar investor di bursa kripto mengalami kerugian, sehingga sulit mempertahankan basis pengguna.

Dengan sentimen Bitcoin yang cenderung datar dalam enam bulan terakhir, sementara komoditas justru mencatat kinerja solid, ekspansi ke pasar tradisional dinilai sebagai langkah yang logis.

Sejumlah perusahaan kripto juga berupaya menancapkan pijakan lebih dalam di sistem keuangan.

World Liberty Financial yang berafiliasi dengan Trump bergabung dengan sejumlah perusahaan kripto lain dalam mengajukan izin bank perwalian nasional.

Bulan lalu, Circle, Ripple, BitGo, unit aset digital Fidelity, dan Paxos menerima persetujuan bersyarat atas izin terbatas tersebut.

Coinbase serta Bridge milik Stripe juga mengajukan permohonan serupa. Meskipun demikian, diversifikasi ini tidak tanpa risiko.

Perusahaan kripto kini memasuki pasar dengan komisi yang sering kali nol, margin tipis, serta persaingan ketat dengan pemain lama yang memiliki skala besar.

“Bursa kripto terbiasa dengan spread dan biaya tinggi, sehingga berisiko menghadapi tekanan margin yang signifikan,” ujar Goh.

Keberhasilan transformasi ini, menurut dia, bergantung pada kemampuan perusahaan kripto bertahan di tengah margin yang menipis, tuntutan modal yang lebih besar, serta potensi imbal hasil yang lebih rendah bagi pemegang saham.

Namun, transisi tersebut dinilai tak terelakkan.

“Ini adalah fase pendewasaan. Bursa kripto bergerak dari lingkungan yang minim regulasi menuju keuangan tradisional, sambil memanfaatkan keunggulan teknologi yang mereka kembangkan dari ekosistem keuangan terdesentralisasi,” kata Charoenwong.

Tag:  #pasar #kripto #hijau #harga #bitcoin #melonjak #level #95391 #dollar

KOMENTAR