Respons Dingin Bos Perusahaan Minyak atas Pemintaan Trump untuk Investasi 100 Miliar Dollar di Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menggelar konferensi pers mengenai serangan AS ke Venezuela di kediamannya di Mar-a-Lago, Negara Bagian Florida, Sabtu (3/1/2026).(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JOE RAEDLE via AFP)
08:16
11 Januari 2026

Respons Dingin Bos Perusahaan Minyak atas Pemintaan Trump untuk Investasi 100 Miliar Dollar di Venezuela

- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta industri migas untuk berkomitmen dengan menggelontorkan sedikitnya 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1,68 kuadriliun (kurs Rp 16.800 per dollar AS) untuk Venezuela.

Namun seperti dikutip dari BBC Minggu (11/1/2026), permintaan itu mendapat respons dingin dalam pertemuan di Gedung Putih, ketika salah satu eksekutif memperingatkan bahwa negara Amerika Selatan tersebut saat ini “tidak layak untuk investasi.”

Para pimpinan perusahaan minyak terbesar AS yang hadir dalam pertemuan itu mengakui bahwa Venezuela, dengan cadangan energi yang sangat besar, merupakan peluang yang menggoda.

Namun mereka menegaskan bahwa perubahan besar diperlukan agar kawasan tersebut benar-benar menarik bagi investor. Tidak ada komitmen finansial besar yang langsung disepakati.

Trump mengatakan, ia akan membuka pintu industri minyak Venezuela setelah pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro, dalam penggerebekan pada 3 Januari 2026 di ibu kota negara tersebut.

“Salah satu hal yang akan didapat Amerika Serikat dari ini adalah harga energi yang lebih rendah,” kata Trump dalam pertemuan Jumat (9/1/2026) di Gedung Putih.

Namun, para bos perusahaan minyak yang hadir menyampaikan sikap hati-hati.

“Aset kami telah disita dua kali di sana. Jadi bisa dibayangkan, untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan membutuhkan perubahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan apa yang secara historis kami alami dan kondisi saat ini,” ucap CEO Exxon Darren Woods.

“Hari ini, Venezuela tidak layak untuk investasi,” tegasnya.

Venezuela memiliki hubungan yang rumit dengan perusahaan minyak internasional sejak minyak ditemukan di wilayahnya lebih dari 100 tahun lalu. Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang masih beroperasi di negara tersebut.

Sejumlah perusahaan dari negara lain, termasuk Repsol dari Spanyol dan Eni dari Italia—keduanya juga diwakili dalam pertemuan di Gedung Putih—masih aktif di Venezuela.

Trump mengatakan, pemerintahannya akan menentukan perusahaan mana yang diizinkan beroperasi. “Kalian berurusan langsung dengan kami. Kalian tidak berurusan dengan Venezuela sama sekali. Kami tidak ingin kalian berurusan dengan Venezuela,” ujarnya.

Gedung Putih menyatakan tengah bekerja untuk secara selektif mencabut sanksi AS yang selama ini membatasi penjualan minyak Venezuela.

Pejabat AS mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas sementara di negara itu, yang kini dipimpin oleh Wakil Presiden Delcy Rodríguez. Namun, mereka juga menegaskan akan tetap mengendalikan penjualan minyak sebagai cara mempertahankan pengaruh terhadap pemerintahan Rodríguez.

Ilustrasi kapal tanker minyak Venezuela.AFP/FEDERICO PARRA Ilustrasi kapal tanker minyak Venezuela.Pekan ini, AS menyita beberapa kapal tanker yang membawa minyak mentah yang dikenai sanksi. Pejabat Amerika mengatakan mereka sedang menyiapkan mekanisme penjualan, di mana hasil penjualan akan disimpan dalam rekening yang dikendalikan AS.

“Kami terbuka untuk bisnis,” kata Trump.

Produksi minyak Venezuela terpukul dalam beberapa dekade terakhir akibat kurangnya investasi dan salah kelola, serta sanksi AS. Dengan produksi sekitar satu juta barrel per hari, Venezuela menyumbang kurang dari 1 persen pasokan global.

Chevron, yang menyumbang sekitar seperlima produksi Venezuela, mengatakan pihaknya berharap dapat meningkatkan produksinya dengan memanfaatkan keberadaan yang sudah ada. Sementara Exxon menyatakan tengah menyiapkan pengiriman tim teknis untuk menilai situasi dalam beberapa pekan ke depan.

Repsol, yang saat ini memproduksi sekitar 45.000 barrel per hari, mengatakan melihat peluang untuk melipatgandakan produksi hingga tiga kali lipat di Venezuela dalam beberapa tahun ke depan jika kondisinya tepat.

Eksekutif perusahaan lain juga mengatakan janji perubahan dari Trump dapat mendorong investasi dan mereka berharap bisa memanfaatkan momentum tersebut.

“Kami siap pergi ke Venezuela. Dalam istilah properti, ini adalah lokasi utama,” kata Bill Armstrong, pimpinan perusahaan pengeboran minyak dan gas independen.

Namun para analis menilai peningkatan produksi secara signifikan akan membutuhkan upaya besar.

“Mereka bersikap sesopan mungkin dan se-supportif mungkin, tanpa benar-benar mengucurkan dana nyata,” kata David Goldwyn, Presiden konsultan energi Goldwyn Global Strategies dan mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional.

Exxon dan Shell, kata Goldwyn, tidak akan berinvestasi miliaran dollar, apalagi puluhan miliar dollar, tanpa jaminan keamanan fisik, kepastian hukum, dan kerangka fiskal yang kompetitif. “Dari sudut pandang industri, ini tidak terlalu disambut baik. Kondisinya belum tepat,” ujarnya.

Meski perusahaan-perusahaan kecil mungkin lebih bersemangat masuk dan membantu meningkatkan produksi minyak Venezuela dalam setahun ke depan, investasi tersebut kemungkinan hanya berada di kisaran 50 juta dollar AS, jauh dari angka 100 miliar dollar yang diinginkan Trump.

Rystad Energy memperkirakan dibutuhkan 8 miliar–9 miliar dollar AS investasi baru per tahun agar produksi bisa meningkat tiga kali lipat pada 2040. "Investasi 100 miliar dollar AS seperti yang disarankan Trump dapat berdampak besar—jika benar-benar terwujud," kata Kepala Ekonom Rystad, Claudio Galimberti.

Namun, menurutnya, perusahaan hanya akan berinvestasi dalam skala tersebut jika ada subsidi dan stabilitas politik.

Warga Amerika sebut dia, tidak perlu berharap situasi di Venezuela akan segera menurunkan harga minyak. “Akan sulit melihat komitmen besar sebelum situasi politik benar-benar stabil, dan kapan itu terjadi masih menjadi tanda tanya,” katanya.

Tag:  #respons #dingin #perusahaan #minyak #atas #pemintaan #trump #untuk #investasi #miliar #dollar #venezuela

KOMENTAR