PYC Talks Vol. 1 Soroti Rantai Pasok Biodiesel, Rekomendasikan B40 sebagai Baseline Mandatori
Purnomo Yusgiantoro Center menggelar PYC Talks Vol. 1 membahas analisis rantai pasok biodiesel nasional. (Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com)
23:18
25 Februari 2026

PYC Talks Vol. 1 Soroti Rantai Pasok Biodiesel, Rekomendasikan B40 sebagai Baseline Mandatori

Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menyelenggarakan kegiatan “PYC Talks Volume 1” bertema Diseminasi Studi: Analisis Rantai Pasok Biodiesel di Kantor PYC, Jakarta Selatan.

Forum ini menjadi ruang pemaparan hasil kajian mendalam terkait dinamika rantai pasok biodiesel nasional sekaligus perumusan rekomendasi kebijakan untuk mendukung swasembada energi.

Ketua Umum PYC, Filda C. Yusgiantoro, menegaskan bahwa pengembangan biodiesel merupakan opsi strategis untuk menekan impor energi. “Pengembangan biodiesel adalah langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor minyak,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan kebijakan biodiesel sangat ditentukan oleh regulasi dan koordinasi lintas sektor. “Tantangan rantai pasok harus diatasi dari hulu hingga hilir,” katanya, merujuk pada isu produktivitas lahan, alokasi CPO, hingga kesiapan infrastruktur distribusi.

Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Edi Wibowo, dalam keynote speech menyampaikan bahwa program mandatori biodiesel merupakan instrumen penting memperkuat ketahanan energi nasional. “Program ini bagian dari strategi besar ketahanan energi berbasis sawit,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan struktural. “CPO juga dibutuhkan untuk pangan dan ekspor, sementara mayoritas kebun dikelola swasta,” ucapnya.

Dalam sesi panel, PYC bersama Institute for Research on Energy, Environment and Mining (IREEM) memaparkan hasil studi berbasis pemodelan system dynamics untuk memproyeksikan kemampuan rantai pasok biodiesel dalam memenuhi target bauran energi nasional.

Research Coordinator PYC, Massita Ayu Cindy, menyampaikan rekomendasi utama agar kebijakan B40 dipertahankan sebagai baseline mandatori. “B40 masih menjadi batas paling realistis dalam menjaga keseimbangan pasokan,” ujarnya.

Hasil pemodelan menunjukkan, bahkan pada skenario baseline B40, rasio supply-demand biodiesel diproyeksikan turun di bawah 100 persen mulai sekitar 2042. Sementara skenario eskalasi blending B50 hingga B90 mempercepat tekanan sistem. “Di atas B40, risiko defisit pasokan muncul lebih cepat, bahkan sejak 2030,” jelasnya.

Diskusi turut diperkaya tanggapan dari perwakilan Kementerian Pertanian, LEMIGAS, APKASINDO, dan GAIKINDO.

Ketua Kelompok Budidaya Kelapa Sawit Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Togu Rudianto Saragih, menekankan pentingnya pembenahan sektor hulu. “Penguatan tata kelola sawit menjadi fondasi utama rantai pasok biodiesel,” ujarnya.

Ketua Umum APKASINDO Gulat M. E. Manurung, mengingatkan agar para pemangku kepentingan fokus pada aspek esensial produksi. Sementara dari sisi hilir, Koordinator Pengujian Aplikasi Produk LEMIGAS, Cahyo S. Wibowo, menyebut uji kompatibilitas mesin terus dilakukan secara komprehensif.

Adapun Anggota Pokja II Energi Terbarukan GAIKINDO, Abdul Rochim, mengapresiasi inovasi biodiesel nasional. “Riset yang konsisten membuat kualitas biodiesel Indonesia semakin diakui,” katanya.

Sebanyak 85 peserta dari institusi pemerintah, NGO, asosiasi, dan industri menghadiri forum ini. PYC Talks Vol. 1 menegaskan kembali peran PYC dalam mendorong kebijakan energi berkelanjutan yang inklusif dan berbasis inovasi, sejalan dengan agenda pembangunan nasional. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan

Tag:  #talks #soroti #rantai #pasok #biodiesel #rekomendasikan #sebagai #baseline #mandatori

KOMENTAR