Bulog Harap Kelak Bisa Kuasai 70 Persen Beras Nasional
- Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal RAmdhani, berharap kelak pihaknya bisa menguasai 70 persen beras nasional.
Pernyataan itu Rizal sampaikan saat dimintai tanggapan terkait stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang meskipun melimpah namun belum mencapai 20 persen stok beras nasional.
“Kita Bulog nanti akan dibesarkan, jadi targetnya bukan hanya 50 persen kalau perlu 70 persen kita ke depannya,” kata Rizal saat ditemui di sela HUT Bulog ke 59 di kantornya, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Rizal mengatakan, untuk memperkuat peran Bulog dalam tata kelola pangan nasional, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan untuk terus membangun gudang penyimpanan.
Baca juga: Bulog Dorong ASN Terima Tunjangan Beras, Skema Natura Kembali Diusulkan
Adapun gudang Bulog yang tersedia saat ini baru bisa menampung 3 juta ton beras. Sementara, stok CBP sudah mencapai lebih dari 5,2 juta ton.
Bulog juga diketahui sedang membangun 100 gudang di seluruh tanah air, terutama daerah terluar.
Rizal mengatakan, Presiden Prabowo memiliki harapan tinggi Indonesia bisa mencapai kemandirian pangan sehingga tidak bergantung pada impor.
“Kita diperintahkan Bapak Presiden untuk bangun gudang terus,” ujar Rizal.
Sebagai informasi, stok CBP di gudang Bulog saat ini mencapai 5,2 juta ton dan diproyeksikan akan terus bertambah hingga 6 juta ton pada akhir Mei mendatang.
Pada April lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, stok CBP di gudang Bulog yang mencapai 5 juta ton setara dengan 15 persen beras nasional.
Menurutnya, CBP tersebut menjadi capaian stok tertinggi dalam sejarah Bulog.
“Kalau produksi kita 34 juta ton, 5 juta ton adalah 15 persen,” ujar Amran saat ditemui di gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Bulog Serap Hampir 300.000 Ton Jagung, Tertinggi dalam 59 Tahun
Pasar Beras Masih Didominasi Swasta
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian, mengatakan perdagangan beras nasional saat ini masih didominasi pihak swasta.
Menurutnya, Bulog hanya menguasai sekitar 20 persen pasar beras nasional. Hal ini membuat pemerintah belum cukup kuat mengintervensi pasar.
“Volume perdagangan beras nasional masih didominasi jaringan swasta sekitar 80 persen lebih dan distribusi intervensi pemerintah belum cukup kuat serta cepat untuk memengaruhi harga pasar secara luas,” kata Eliza saat dihubungi Kompas.com, Senin.
Eliza mengatakan, kenaikan harga beras yang belakangan disorot merupakan konsekuensi dari kebijakan pemerintah menaikkan harga pembelian gabah kering panen (GKP) dari Rp 6.000 ke Rp 6.500 untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Sebelum kebijakan itu diterapkan, kata Eliza, selama ini pengendalian inflasi dilakukan dengan menekan harga di tingkat petani, membuat margin keuntungan mereka kecil.
Namun, kenaikan harga GKP mendorong biaya baku penggilingan meningkat dan membentuk harga dasar baru.
“Ada keseimbangan harga baru. Jadi nggak bisa turun ke semula meski CBP banyak,” turur Eliza.
Menurutnya, fungsi stok CBP yang melimpah di gudang Bulog lebih berfungsi untuk pengendalian sehingga kenaikan harga beras tidak ekstrem.
“Bukan untuk mengembalikan harga ke level lama terus jadi alternatif bagi masyarakat agar bisa membeli harga beras dengan harga terjangkau,” kata dia.
Tag: #bulog #harap #kelak #bisa #kuasai #persen #beras #nasional