Rupiah Melemah ke Level Rp 17.414 per Dollar AS, Ini Biang Keroknya
- Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup tertekan, Senin (11/5/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi 32 poin atau 18 persen ke level Rp 17.414 per dollar Amerika Serikat (AS).
Sejalan, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 40 atau 0,23 persen menjadi Rp 17.415 per dollar AS.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah didorong oleh tensi geopolitik di Timur Tengah. Terutama pernyataan AS Donald Trump yang menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian AS “sama sekali tidak dapat diterima” kembali meningkatkan risiko geopolitik global.
Pada Minggu (10/5/2026), Trump menolak proposal balasan terbaru dari Teheran terhadap kerangka perdamaian yang diajukan Washington. Pernyataan tersebut sekaligus meredam harapan pasar terhadap potensi meredanya ketegangan dalam waktu dekat di kawasan Teluk.
Proposal awal AS dilaporkan menginginkan penghentian aktivitas pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan cadangan uranium yang diperkaya tinggi, serta pembongkaran fasilitas nuklir utama. Sebagai imbalannya, AS menawarkan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
“Proposal asli AS dilaporkan menginginkan penghentian kegiatan pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin sore ini.
Baca juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Tertekan ke Rp 17.416 per Dollar AS
Sementara itu, Iran melalui mediator Pakistan menyampaikan proposal balasan yang mencakup tuntutan pencabutan sanksi ekonomi, penghentian kehadiran armada laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan atas hak Iran untuk tetap melanjutkan sebagian aktivitas nuklirnya.
Wall Street Journal melaporkan Iran juga mengusulkan pengurangan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi dan memindahkan sisanya ke negara ketiga.
Menurut Ibrahim, investor global masih menaruh perhatian besar terhadap situasi di Selat Hormuz yang hingga kini sebagian besar masih tertutup sejak konflik memanas.
Ketegangan geopolitik tersebut terjadi menjelang kunjungan Trump ke China yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Dalam lawatan tersebut, Trump diperkirakan akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Pertemuan kedua pemimpin negara itu diproyeksikan akan membahas sejumlah isu strategis, mulai dari perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran. China dinilai memiliki posisi diplomatik penting dalam isu tersebut mengingat hubungan ekonomi Beijing dengan Teheran.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti sejumlah data ekonomi penting dari AS pada pekan ini. Fokus utama tertuju pada rilis data inflasi April 2026, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI).
Selain itu, data penjualan ritel AS dan pidato sejumlah pejabat Federal Reserve juga akan menjadi perhatian investor untuk membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.
Dari dalam negeri, Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada April 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih terjaga di zona optimistis.
Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada di level 123,0 atau naik tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9. Level indeks di atas 100 menandakan konsumen masih memiliki optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional.
Bank Indonesia menyebut terjaganya keyakinan konsumen terutama didorong oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE).
Pada April 2026, IKE tercatat sebesar 116,5 atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 115,4.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Impor Tekan Industri Unggas, Harga Pakan Naik Lagi
Kenaikan IKE menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, termasuk terkait ketersediaan lapangan kerja, tingkat penghasilan, dan daya beli, mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
IKK menggunakan tahun acuan dengan nilai 100. Dengan demikian, posisi indeks kepercayaan konsumen April 2026 di level 123 menunjukkan masyarakat masih berada dalam zona optimistis atau di atas level acuan.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada level optimistis sebesar 129,6. Meski demikian, angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 130,4.
Penurunan tipis IEK mengindikasikan konsumen masih memiliki keyakinan positif terhadap prospek ekonomi ke depan, meski tingkat optimisme masyarakat cenderung lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya.
Tag: #rupiah #melemah #level #17414 #dollar #biang #keroknya