Indonesia-Rusia Perluas Kerja Sama Energi: Nuklir, Migas, Transisi Bersih
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)
14:04
14 Mei 2026

Indonesia-Rusia Perluas Kerja Sama Energi: Nuklir, Migas, Transisi Bersih

Pemerintah Indonesia mulai memperluas kerja sama energi strategis dengan Rusia, mulai dari pengembangan kilang minyak, ladang migas, hingga penjajakan pembangbangkit listrik tenaga nuklir small modular reactor/SMR.

Kerja sama tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik yang berlangsung di Kazan, Rusia.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan kerja sama energi Indonesia dan Rusia kini diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.

Baca juga: Indonesia Ingin Investor Rusia Masuk ke Sektor Energi Nasional

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

“Kerja sama di sektor energi telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir small modular reactor,” ujar Yuliot dalam sesi pleno SKB RI–Rusia di Kazan, dikutip Kamis (14/5/2026).

Dalam forum tersebut, Yuliot mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada pertemuan bilateral bersama First Deputy Prime Minister Rusia Denis Manturov.

Pertemuan itu membahas berbagai proyek strategis energi, termasuk tindak lanjut rencana pembelian minyak dari Rusia, pengembangan ladang migas, perkembangan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, hingga kerja sama energi nuklir untuk tujuan damai.

Pemerintah menilai kerja sama dengan Rusia menjadi penting di tengah tingginya kebutuhan energi domestik dan target besar penambahan kapasitas listrik nasional dalam satu dekade mendatang.

Baca juga: Bahlil: Minyak dari Rusia Sebentar Lagi Masuk

Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sekitar 40 GW atau 62 persen ditargetkan berasal dari energi baru dan terbarukan.

Ilustrasi kilang minyak. SHUTTERSTOCK/TONTON Ilustrasi kilang minyak.

“Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW,” kata Yuliot.

Selain sektor migas dan ketenagalistrikan, kedua negara juga membahas peluang kerja sama LNG dan elpiji, hilirisasi dan metalurgi mineral, pengembangan energi baru terbarukan, hingga standardisasi industri migas dan energi.

Menurut Yuliot, penguatan kerja sama teknologi dan investasi energi menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi dunia.

Baca juga: Kena Sanksi Uni Eropa, Perusahaan Terminal Minyak RI Bantah Tangani Tanker Rusia

Rangkaian pertemuan SKB ke-14 RI–Rusia tersebut menghasilkan agreed minutes yang memuat sejumlah tindak lanjut kerja sama sektor energi dan sumber daya mineral antara kedua negara.

Pemerintah juga memandang Rusia sebagai salah satu mitra potensial dalam mendukung pengembangan energi bersih dan penguatan infrastruktur energi nasional, termasuk untuk mendukung hilirisasi industri dan pengurangan ketergantungan impor energi.

Forum SKB RI–Rusia sendiri merupakan mekanisme bilateral resmi kedua negara untuk membahas perkembangan kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk perdagangan, investasi, teknologi, hingga energi dan sumber daya mineral.

Tag:  #indonesia #rusia #perluas #kerja #sama #energi #nuklir #migas #transisi #bersih

KOMENTAR