Selat Hormuz Tersendat, Saudi Aramco: Dunia Kehilangan 1 Miliar Barrel Minyak
Perusahaan energi raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, membukukan lonjakan laba pada kuartal I 2026 di tengah gejolak pasokan energi global akibat konflik Iran.()
15:16
11 Mei 2026

Selat Hormuz Tersendat, Saudi Aramco: Dunia Kehilangan 1 Miliar Barrel Minyak

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global.

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz menyebabkan pasokan minyak dunia terganggu dan memicu lonjakan harga minyak mentah internasional.

Di tengah tekanan tersebut, perusahaan energi raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, justru mencatat lonjakan laba pada kuartal I-2026.

Baca juga: Laba Saudi Aramco Melonjak 26 Persen di Tengah Krisis Selat Hormuz

Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.

Perusahaan menyebut gangguan distribusi minyak global akibat tersendatnya jalur pelayaran di Selat Hormuz telah membuat pasar kehilangan hampir 1 miliar barrel minyak dalam dua bulan terakhir.

CEO Aramco Amin Nasser mengatakan, pasar energi global membutuhkan waktu untuk kembali stabil meskipun arus distribusi minyak nantinya kembali dibuka.

“Membuka kembali jalur distribusi tidak sama dengan menormalkan pasar yang telah kehilangan sekitar satu miliar barel minyak,” kata Nasser kepada Reuters, dikutip pada Senin (11/5/2026).

Pasar minyak global terguncang

Menurut Nasser, tekanan terhadap pasokan energi global semakin berat karena rendahnya investasi sektor energi selama beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Gangguan di Selat Hormuz Picu Hilangnya 1 Miliar Barel Minyak Global

Kondisi tersebut membuat persediaan minyak dunia berada pada level rendah ketika gangguan pasokan terjadi.

“Bertahun-tahun kurangnya investasi telah memperparah tekanan pada persediaan global yang sudah rendah,” ujar Nasser.

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz terjadi di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.

Gangguan di jalur laut strategis tersebut menghambat lalu lintas kapal tanker minyak dan mendorong harga energi melonjak tajam.

Baca juga: Perdagangan Iran dan China Beralih ke Kereta Api di Tengah Blokade Selat Hormuz

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional, terutama Asia.

Dalam kondisi tersebut, Aramco memanfaatkan East-West Pipeline untuk mengalihkan distribusi minyak dan menghindari jalur Selat Hormuz.

Jalur pipa tersebut menghubungkan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi dengan pelabuhan di Laut Merah.

Nasser menyebut fasilitas itu menjadi “critical lifeline” atau jalur penyelamat penting dalam mengurangi dampak krisis pasokan energi global.

Baca juga: Krisis di Selat Hormuz Bikin Premi Asuransi Kapal Melonjak Tajam

“Jalur pipa East-West kami, yang telah mencapai kapasitas maksimum 7,0 juta barrel minyak per hari, telah terbukti menjadi jalur pasokan penting, membantu mengurangi dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak kendala pengiriman di Selat Hormuz,” tutur Nasser dalam pernyataan resmi Saudi Aramco.

Kapasitas penuh pipa East-West yang mencapai 7 juta barrel per hari menjadi faktor penting yang membantu Aramco mempertahankan distribusi minyak di tengah krisis pelayaran global.

Asia tetap jadi pasar utama

Meski jalur pengiriman minyak berubah akibat konflik, Nasser menegaskan kawasan Asia tetap menjadi prioritas utama Aramco.

Menurut dia, Asia masih menjadi pusat permintaan energi global.

Baca juga: Qatar Kembali Kirim LNG Lewat Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

“Terlepas dari perubahan rute pengiriman, Asia tetap menjadi prioritas utama bagi perusahaan dan sangat penting bagi permintaan global,” demikian pernyataan Aramco.

Ketergantungan pasar Asia terhadap pasokan energi dari Timur Tengah membuat stabilitas distribusi minyak menjadi perhatian utama perusahaan.

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Dikutip dari CNBC, gangguan distribusi akibat blokade Selat Hormuz turut memicu kenaikan harga minyak mentah global dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Trump Ancam Iran usai Serangan di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Harga minyak mentah Brent ditutup naik sekitar 1 persen pada perdagangan Jumat (8/5/2026) menjadi 101,29 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,76 juta per barrel (asumsi kurs Rp 17.377 per dollar AS).

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup di level 95,42 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,66 juta per barrel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran kembali meluncurkan rudal ke Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat menyerang dua kapal tanker Iran yang dituding berupaya menghindari blokade laut.

Secara kuartalan, harga minyak Brent melonjak 95 persen sepanjang kuartal I-2026 dan naik 67 persen sejak awal tahun.

Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Pertimbangkan Kawal Kapal di Selat Hormuz

Laba Saudi Aramco melonjak

Lonjakan harga minyak dunia ikut mendorong kinerja keuangan Aramco sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Aramco melaporkan laba bersih kuartal I-2026 sebesar 33,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 583,87 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.377 per dollar AS.

Angka tersebut melonjak 26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 26,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 462,23 triliun.

Laba kuartal I-2026 juga meningkat 34 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 25,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 436,16 triliun.

Baca juga: China Desak Iran Tahan Diri dan Buka Selat Hormuz Jelang Pertemuan Trump-Xi

Capaian tersebut melampaui proyeksi analis yang memperkirakan laba bersih Aramco berada di level 31,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 542,16 triliun.

Ilustrasi perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco.SHUTTERSTOCK/POETRA.RH Ilustrasi perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco.

Di tengah lonjakan laba, Aramco juga melaporkan gearing ratio atau rasio utang terhadap modal sebesar 4,8 persen pada akhir kuartal I-2026.

Selain itu, dewan direksi Aramco menyetujui pembagian dividen dasar sebesar 21,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 380,56 triliun untuk kuartal pertama tahun ini.

Nilai tersebut naik 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: AS Akhiri Operasi Militer ke Iran, Fokus Amankan Selat Hormuz

Sistem energi dunia dinilai rapuh

Gejolak geopolitik di Timur Tengah dinilai memperlihatkan rapuhnya sistem energi global yang sangat bergantung pada jalur distribusi tertentu.

CEO perusahaan jasa ladang minyak global SLB, Olivier Le Peuch, mengatakan gangguan di Selat Hormuz menunjukkan betapa rentannya sistem energi dunia terhadap konflik geopolitik.

“Gangguan ini telah menunjukkan kerapuhan sistem energi global,” kata Le Peuch.

Sejumlah petinggi perusahaan minyak dan gas dunia juga menyampaikan kepada investor dalam laporan kinerja kuartalan mereka bahwa perang Iran akan mengubah sistem energi global secara besar-besaran.

Baca juga: Ledakan di Selat Hormuz Picu Koreksi Wall Street, S&P 500 Mundur dari Rekor Tertinggi

Aramco menegaskan fokus utama perusahaan saat ini adalah menjaga aliran energi global tetap berjalan di tengah tekanan geopolitik dan gangguan distribusi minyak dunia.

“Tujuan kami sederhana: menjaga aliran energi tetap lancar, bahkan ketika sistem sedang mengalami tekanan,” terang Nasser.

Tag:  #selat #hormuz #tersendat #saudi #aramco #dunia #kehilangan #miliar #barrel #minyak

KOMENTAR