Polusi Udara Belum Tertangani, Koalisi Pejalan Kaki Ungkap Tren Detoks Paru Warga Kota
ilustrasi polusi udara. 10 Negara Terkumuh di Dunia 2025, Ada Indonesia(freepik)
15:28
8 Januari 2026

Polusi Udara Belum Tertangani, Koalisi Pejalan Kaki Ungkap Tren Detoks Paru Warga Kota

– Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus menilai persoalan pencemaran udara berpotensi kembali memburuk pada pertengahan tahun seiring masuknya musim kemarau. Pola ini dinilai mirip dengan kondisi pada 2023.

Alfred memprediksi fenomena “pelarian udara bersih” kembali terjadi. Warga kota besar seperti Jakarta dan Bandung diperkirakan memilih pergi ke kawasan pegunungan setiap akhir pekan demi menghirup udara yang lebih sehat.

“Lagi-lagi warga Jakarta harus merebut udara yang ada di puncak setiap Sabtu dan Minggu. Untuk mendetoks paru-parunya, dan (setelahnya) kembali lagi menghirup udara kotor,” ujar Alfred secara virtual, Kamis (8/1/2026).

“Atau warga Bandung larinya ke arah Ciwidey atau Lembang untuk mendetoks paru-parunya. Karena memang perang pencemaran udara itu nggak kelar-kelar,” lanjut dia.

Alfred menilai pengendalian pencemaran udara di kawasan perkotaan belum menyentuh akar masalah.

Pengadaan transportasi publik di banyak daerah masih terbatas pada penambahan armada, tanpa dibarengi peningkatan teknologi dan tata kelola.

Krisis kepercayaan publik terhadap pengelolaan transportasi umum juga masih terjadi. Manajemen transportasi dinilai belum berpihak pada kebutuhan dasar warga, terutama pejalan kaki.

Padahal, pejalan kaki dan angkutan umum saling terkait. Akses transportasi publik yang buruk mendorong masyarakat beralih ke transportasi daring roda dua. Biaya layanan ini dinilai mahal dan tidak inklusif.

“Pejalan kaki itu enggak bisa lepas dari angkutan umum. Karena itu temannya. Kalau sekarang ada two wheelers, atau ojek online itu mahal sekali,” ujar Alfred.

Alfred juga menyoroti teknologi transportasi umum yang masih tertinggal. Kondisi ini membuat target keberlanjutan transportasi publik dan perbaikan kualitas udara sulit dicapai.

“Hampir di seluruh Indonesia, pengembangan publik transportasinya masih setback. Jadi, belum ada effect sama sekali,” kata dia.

Ia mencatat sektor transportasi menjadi penyumbang utama pencemaran udara di kota besar, dengan kontribusi lebih dari 50 persen.

Sumber pencemaran tidak hanya berasal dari angkutan umum. Pola mobilitas harian masyarakat yang bergantung pada kendaraan pribadi turut memperburuk kualitas udara.

Alfred meminta masyarakat jujur melihat peran kebiasaan tersebut.

“Transportasi menyumbang pencemaran udara. Kurang lebih diatas 50 persen. Bukan angkutan umum saja, tapi mobilitas kita sehari-hari, yang memang ketergantungan dengan kendaraan pribadi mau nggak mau, dan kita harus jujur,” ujarnya.

Penegakan aturan uji emisi juga dinilai masih lemah. Dari jutaan kendaraan di wilayah Jabodetabek, hanya ribuan unit yang tercatat rutin lolos uji emisi setiap tahun.

Padahal, kewajiban memenuhi baku mutu emisi gas buang sudah diatur dalam undang-undang lalu lintas.

“Masalahnya bukan pada aturan, tapi pada keberanian menegakkan sanksi. Kalau tidak lulus uji emisi, apa konsekuensinya?” kata Alfred.

Tag:  #polusi #udara #belum #tertangani #koalisi #pejalan #kaki #ungkap #tren #detoks #paru #warga #kota

KOMENTAR