Waspada, 5 Tanda Calon Mertua yang Berpotensi Picu Konflik Hubungan
- Menjalani hubungan serius bukan hanya tentang menyatukan dua individu, tetapi juga dua sistem keluarga yang berbeda. Tak jarang, dinamika dengan calon mertua menjadi sumber stres tersendiri dalam hubungan.
Meski pada awalnya semuanya tampak baik-baik saja, para terapis keluarga mengingatkan bahwa ada tanda-tanda awal yang patut diwaspadai karena bisa berkembang menjadi konflik jangka panjang.
Perubahan situasi hidup, mulai dari pernikahan, kehadiran anak, hingga jarak tempat tinggal, dapat memperkuat atau justru memperkeruh hubungan dengan calon mertua.
Oleh karena itu, mengenali sinyal peringatan sejak dini menjadi langkah penting agar kamu dan pasangan bisa bersikap selaras.
Baca juga: Berkaca dari Soimah, Apa yang Harus Dilakukan jika Diospek Calon Mertua?
Simak beberapa tanda calon mertua yang berpotensi menimbulkan konflik, menurut para terapis keluarga, serta cara menyikapinya secara sehat.
5 Tanda calon mertua yang berpotensi memicu konflik hubungan
1. Pelanggaran batas yang terus berulang
Masalah batasan menjadi keluhan paling umum dalam hubungan dengan calon mertua.
Terapis berlisensi Amanda E. White menyebut pelanggaran batas sebagai tanda peringatan dini yang sering ia temui dalam praktiknya.
“Jika pasangan tidak membiarkan teman datang tanpa pemberitahuan, tetapi menganggap wajar jika orang tuanya datang kapan saja, ketidakkonsistenan ini bisa menjadi masalah,” ujarnya, dilansir dari HuffPost, Senin (23/2/2026).
Pelanggaran ini bisa berupa kunjungan mendadak atau terlalu ikut campur dalam keputusan pribadi. Dalam jangka panjang, calon mertua bisa saja memberi komentar berlebihan soal pola asuh anak.
Baca juga: 3 Ciri-ciri Mertua Menyebalkan Menurut Psikolog, Harus Diwaspadai
2. Pasangan sulit memprioritaskan hubungan
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah ketika pasangan kesulitan memisahkan kebutuhan orang tuanya dengan kebutuhan hubungan.
Menurut White, kondisi ini sering terlihat ketika pasangan lebih fokus menyenangkan orang tua dibanding menjaga kenyamanan pasangannya sendiri.
Dalam situasi ini, komunikasi tetap penting, tetapi harus dilakukan dengan empati. Psikolog terdaftar Caitlin Slavens menyarankan agar percakapan difokuskan pada perasaan, bukan tudingan.
“Daripada berkata, ‘Ibumu terlalu protektif,’ lebih baik katakan, ‘Aku merasa tidak nyaman ketika keputusan kita selalu dipertanyakan.’ Pendekatan ini membuka ruang dialog tanpa memicu pertahanan,” jelasnya.
Baca juga: 7 Tips Tinggal di Rumah Mertua agar Tetap Damai dan Minim Konflik
3. Keluarga pasangan menghindari konflik sama sekali
Konflik tidak selalu muncul dalam bentuk pertengkaran terbuka. Justru, menghindari konflik sepenuhnya bisa menjadi tanda masalah yang lebih besar.
Psikoterapis Matt Lundquist menjelaskan, banyak konflik dengan mertua bersifat tersembunyi karena dianggap terlalu berisiko untuk dibicarakan.
“Dalam banyak kasus, konflik diredam karena hubungan dengan keluarga pasangan bukan pilihan. Namun, konflik yang dipendam justru menciptakan ketegangan yang terus membara,” tutur dia.
Akibatnya, kamu mungkin merasa harus selalu berhati-hati, seolah berjalan di atas kulit telur setiap kali bertemu keluarga pasangan.
Baca juga: Catat, Pasangan Shio yang Kurang Cocok dan Berpotensi Sering Konflik
4. Komunikasi selalu lewat pasangan
Jika setiap masalah harus selalu disampaikan lewat pasangan, ini bisa menciptakan dinamika tidak sehat.
White menyebut kondisi ini sebagai triangulasi, yaitu ketika satu pihak menjadi penengah terus-menerus dan berpotensi disalahkan oleh kedua sisi.
Idealnya, pasangan sepakat terlebih dahulu soal batasan, lalu pihak yang memiliki hubungan keluarga langsung yang menyampaikan pesan tersebut. Cara ini membantu mencegah kesalahpahaman dan rasa saling menyalahkan.
5. Perasaan negatif yang terus menumpuk
Meski komunikasi sudah dilakukan, perasaan negatif terhadap calon mertua terkadang tetap ada.
Slavens menegaskan, perasaan ini normal dan tidak membuat seseorang menjadi jahat.
“Bergabung dengan keluarga baru memang rumit. Anda bisa tetap menjadi pribadi yang penuh empati sambil tetap melindungi diri dari perlakuan yang tidak menghormati,” katanya.
Mengelola emosi melalui jurnal, berbagi cerita dengan orang tepercaya, atau menetapkan batas durasi kunjungan bisa membantu menjaga kesehatan mental.
Baca juga: 4 Tanda Pasangan Belum Siap Jadi Orangtua, Apa Saja?
Kapan perlu mencari bantuan profesional?
Jika kamu dan pasangan sulit mencapai kesepahaman atau konflik mulai memengaruhi hubungan, mencari bantuan konselor bisa menjadi langkah pencegahan.
Menurut Lundquist, posisi pasangan sering berada di persimpangan antara keluarga asal dan keluarga baru yang sedang dibangun.
“Konseling tidak harus menunggu masalah membesar. Ini bisa menjadi cara sehat untuk menavigasi dinamika keluarga sejak awal,” kata Slavens.
Hubungan dengan calon mertua memang tidak selalu mudah, tetapi tanda-tanda konflik sering muncul sejak awal.
Melalui komunikasi terbuka, keselarasan dengan pasangan, dan keberanian menetapkan batas, potensi konflik bisa diminimalkan sebelum berkembang lebih jauh.
Baca juga: Apakah Takut Menikah itu Wajar? Ini Penjelasan Psikolog
Tag: #waspada #tanda #calon #mertua #yang #berpotensi #picu #konflik #hubungan