Jangan Pakai ''Uang Panas'' untuk Investasi, Ini Dampaknya
Ilustrasi investor, investor saham, investor ritel.(FREEPIK/FREEPIK)
08:20
6 Januari 2026

Jangan Pakai ''Uang Panas'' untuk Investasi, Ini Dampaknya

Fenomena investor ritel yang berbondong-bondong masuk ke berbagai instrumen, mulai dari saham hingga aset kripto, membesar dalam beberapa tahun terakhir.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia sudah menembus 20 juta Single Investor Identification (SID) pada Desember 2025.

KSEI mencatat, per Desember 2025 total SID di pasar modal sekitar 20.129.679, dengan komposisi 54,23 persen investor berusia di bawah 30 tahun.

Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.

Di tengah euforia itu, peringatan lama kembali relevan, yakni jangan berinvestasi memakai “uang panas”.

Uang panas adalah uang yang sebenarnya disiapkan untuk kebutuhan harian atau kebutuhan penting yang jatuh tempo dalam waktu dekat.

Penggunaan uang panas untuk investasi membuat keputusan investasi rentan didorong emosi, memicu kepanikan saat pasar bergejolak, bahkan bisa mengacaukan kesehatan keuangan rumah tangga.

Apa yang dimaksud “uang panas” dalam investasi?

Dalam konteks edukasi investor ritel, uang panas kerap dipahami sebagai dana yang bukan “bebas risiko” untuk dipakai berinvestasi karena punya fungsi lain yang lebih mendesak, misalnya dana darurat, biaya sekolah anak, cicilan yang segera jatuh tempo, hingga uang belanja rutin.

Praktisi pasar saham Desmond Wira menegaskan definisi ini saat menjelaskan imbauan agar investor tidak memaksakan diri.

“Uang panas artinya, uang yang seharusnya dipakai untuk tujuan lain, misalnya dana darurat, uang sekolah anak, dan lainnya,” kata Desmond kepada Kompas.com.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengingatkan investor agar menyisihkan dana khusus untuk investasi dan tidak menjadikan uang kebutuhan pokok sebagai modal spekulasi.

Ilustrasi investasi, obligasi. Sukuk Tabungan ST015. Cara beli ST015. Kupon ST015.FREEPIK/8PHOTO Ilustrasi investasi, obligasi. Sukuk Tabungan ST015. Cara beli ST015. Kupon ST015.

BEI menekankan larangan menggunakan uang panas, utang, atau dana pinjaman untuk berinvestasi.

Mengapa penggunaan uang panas untuk investasi terasa menggoda?

Alasan paling umum adalah harapan memperoleh keuntungan cepat ketika pasar sedang ramai.

Dorongan ini bisa datang dari tren, cerita sukses, atau perasaan tertinggal (fear of missing out/FOMO). Namun, justru di titik itu masalah muncul, ketika uang yang dipakai bukan dana yang “siap berisiko”, investor cenderung sulit bersikap rasional menghadapi fluktuasi.

Desmond menilai, kebiasaan membeli saham dengan dana di luar kemampuan atau memakai pengungkit (leverage) membuat risiko membesar. Ia menyebut, membeli saham menggunakan utang berarti membeli “melebihi kemampuan”.

“Itu sama saja kita menggunakan leverage (efek pengungkit),” tutur Desmond.

Ia juga menekankan konsekuensi psikologis yang kerap luput disadari investor baru. Ketika modal berasal dari uang yang “dikejar” kewajiban lain, keputusan investasi mudah berubah menjadi keputusan emosional.

Bahaya menggunakan uang panas untuk investasi

Berikut beberapa bahaya yang mengintai ketika Anda menggunakan uang panas untuk investasi.

1. Keputusan investasi jadi emosional dan impulsif

Tekanan psikologis adalah salah satu dampak paling cepat terasa ketika uang panas dipakai untuk investasi. Uang yang semestinya dialokasikan untuk kebutuhan pokok membuat investor tidak punya ruang untuk menunggu pemulihan pasar ketika harga turun.

Situasi ini memicu kepanikan, stres, dan tindakan terburu-buru.

Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi Aries. Peluang karier terbuka lebar, sementara kondisi keuangan dinilai stabil dengan tetap berusaha.Shutterstock/A9 STUDIO Tahun 2026 diprediksi menjadi momen penting bagi Aries. Peluang karier terbuka lebar, sementara kondisi keuangan dinilai stabil dengan tetap berusaha.

Desmond menilai penggunaan utang atau dana di luar kemampuan dapat merusak psikologi investor. Ia menggambarkan kondisi investor yang mudah panik dan mengambil keputusan saat emosinya tidak stabil.

Sementara itu, Hendrik Ekowaluyo, Co-founder McEasy mengatakan penggunaan uang panas untuk investasi harian sering membuat investor bertindak impulsif.

“Jika menggunakan uang panas, biasanya tidak memakai logika karena impulsifdan ujung-ujungnya malah merugi,” kata Hendrik, dikutip dari Kontan.

Ketika emosi mengambil alih, investor rentan mengejar harga saat naik (buy high) dan menjual saat turun karena panik (sell low). Pola ini justru berlawanan dengan prinsip dasar manajemen risiko.

2. Risiko terpaksa jual saat harga turun

Investasi tidak selalu likuid pada harga yang diinginkan. Ketika dana yang dipakai adalah uang panas, misalnya uang cicilan yang jatuh tempo, uang sekolah, atau dana darurat, investor bisa dipaksa menjual aset pada saat pasar sedang turun.

Akibatnya, kerugian yang semula masih di atas kertas berubah menjadi kerugian riil.

Bagi investor ritel, situasi terpaksa jual biasanya muncul bukan karena strategi, melainkan karena kebutuhan kas yang mendesak.

Inilah salah satu alasan mengapa dana darurat diposisikan sebagai pagar sebelum investasi berisiko dilakukan.

3. Memakai utang atau dana pinjaman untuk investasi akan memperbesar masalah

Uang panas sering kali bukan hanya uang belanja, tetapi juga bisa berbentuk dana pinjaman, entah pinjaman konsumtif, cicilan kartu kredit, hingga skema berutang untuk mengejar peluang investasi.

Di titik ini, risikonya berlapis, bukan hanya risiko turun harga aset, tetapi juga kewajiban pembayaran bunga dan cicilan.

Ilustrasi investasi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investasi.

Desmond mengingatkan bahwa jika pasar terkoreksi, dampak leverage bisa makin hancur karena kerugian membesar.

Dalam konteks aset kripto, peringatan sejenis muncul dari pelaku industri. Co-founder dan Chairman Indodax Oscar Darmawan menyebut ia menemukan investor kripto menggunakan uang panas demi berharap untung cepat, lalu panik ketika pasar “merah”.

“Bahkan sampai menggunakan uang panas untuk membeli kripto. Ketika market sedang merah mereka panik,” ungkap dia, dikutip dari Antara.

Pola berharap cepat untung, lalu panik saat turun menjadi lebih berbahaya ketika uang yang dipakai adalah uang kebutuhan hidup atau uang hasil utang.

4. Mengganggu rencana keuangan dan memicu efek domino

Menggunakan uang panas juga berisiko mengacaukan struktur keuangan rumah tangga: pembayaran tagihan, cicilan, dan kebutuhan rutin bisa terganggu karena dana terkunci di instrumen yang nilainya sedang turun.

Jika itu terjadi, rumah tangga bisa menambal kekurangan dengan utang baru, yang membuat masalah justru makin panjang.

Karena itu, edukasi investor sering menekankan pemisahan pos, yakni dana kebutuhan harian, dana darurat, dan dana investasi.

5. Mudah terbawa arus ikut-ikutan dan FOMO

Ketika uang panas dipakai, investor biasanya tidak tahan melihat portofolionya berfluktuasi, lalu mencari pegangan cepat, misalnya mengikuti rekomendasi influencer, teman, atau grup percakapan.

Desmond mengingatkan investor agar tidak ikut-ikut pihak lain dan tidak memaksakan diri dalam berinvestasi.

Di sisi lain, BEI juga menekankan investor perlu mencermati tujuan investasi dan produk investasi, serta memahami risiko dan karakteristiknya sebelum mengambil keputusan.

Ilustrasi investasi.SHUTTERSTOCK/TZIDO SUN Ilustrasi investasi.

Cara praktis mengenali uang panas sebelum investasi

Uang panas umumnya punya ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Ada tenggat waktu dekat: akan dipakai dalam hitungan hari, minggu, atau bulan (cicilan, uang sekolah, uang sewa, kebutuhan rumah tangga).
  2. Fungsinya vital: dana darurat, kebutuhan pokok, biaya kesehatan, atau kewajiban yang jika terlambat dibayar menimbulkan denda/bunga.
  3. Sumbernya dari utang atau pinjaman: termasuk margin berlebihan atau skema pembiayaan yang menambah tekanan psikologis.

Desmond juga menyarankan pendekatan yang lebih sesuai kemampuan, misalnya membeli bertahap ketika ada dana, alih-alih memaksa besar di awal.

Lonjakan jumlah investor pasar modal membuat kebutuhan literasi makin besar.

Dalam situasi basis investor yang membesar, pesan yang sama diulang dari berbagai pihak: jangan menjadikan dana kebutuhan hidup sebagai “bahan bakar” spekulasi.

Investor sebaiknya tidak menggunakan uang panas, apalagi utang atau dana pinjaman untuk investasi.

Uang panas adalah dana yang sebenarnya punya tujuan lain, misal dana darurat, uang sekolah anak, dan sejenisnya, yang sebaiknya tidak dipertaruhkan di instrumen yang nilainya bisa berfluktuasi tajam.

Tag:  #jangan #pakai #uang #panas #untuk #investasi #dampaknya

KOMENTAR